' Oknum Bides Mekarsari Tarik Dana Tambahan Pasien Jampersal - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Oknum Bides Mekarsari Tarik Dana Tambahan Pasien Jampersal

Oknum Bides Mekarsari Tarik Dana Tambahan Pasien Jampersal

Written By lingkar jabar on Saturday, April 20, 2013 | 10:22 AM




INDRAMAYU (LJ), Upaya pemerintah guna meningkatkan pelayanan masyarakat dibidang kesehatan melalui program Pemberian Jaminan Persalinan (Jampersal) bagi masyarakat meski dilakukan oleh tenaga kesehatan yang kompeten dan berwenang  melalui Bidan Paraktek Mandiri (BPM). Dimana keberadaan dan peran Bides itu adalah untuk meningkatkan akses pelayanan kehamilan, persalinan, nifas, bayi baru lahir dan KB pasca persalinan di fasilitas kesehatan guna menurunkan angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Nampaknya kebijakan pemerintah tersebut kurang mendapatkan respon secara maksimal dilapangan. Seperti yang terjadi di Desa Mekarsari, Kecamatan Patrol, Kabupaten Indramayu,awak Lingkar Jabar menemukan oknum Bides yang berinisial Un, telah memanfaatkan profesinya dengan menarik dana tambahan dari pasien pengguna jampersal.
Padahal ketentuan pelayanan Jampersal telah jelas tertuang dalam Peraturan Mentri Kesehatan RI, nomor 2565/menkes/per/XII/2011, tentang Petunjuk Teknis Jaminan Persalinan. Namun Un disinyalir melakukan akal-akalan terhadap pasien Dn warga Desa Sumuradem Timur Kecamatan Sukra Kabupaten Indramayu, yang mengalami persalinan ditempat prakteknya (kamis, 18/4) dengan menarik dana tambahan senilai Rp.300 ribu untuk pengganti pempers, obat, suntik dan under bad serta tas bayi,.  Dan tidak menutup kemungkinan hal itu biasa dilakukan Un terhadap pasien-pasien pengguna Jamkesmas lainnya.

Seperti yang dikatakan Ag, orang tua dari suami Dn, ketika ditemui LJ di kediamannya (kamis, 18/4, malam hari) mengatakan, menantu saya (Dn) melahirkan di bidan Un dan dimintai persyaratan untuk pengajuan jampersal, akan tetapi ketika mau pulang dimintai uang sebesar Rp. 300 ribu, dengan alasan pengganti pempers, obat,  suntik dan yang lainnya, dan nilai uang tersebut sama dengan upah kulinya selama satu minggu, ujarnya.
Meski Ag tergolong dalam katagori ekonomi lemah mengingat pelayanan yang dilakukan Un dengan terpaksa uang tersebut dibayarkan “saya mesti gimana lagi, sudah dilayanai ya harus bayar biar bisa pulang” imbuhnya lirih.

Ditempat terpisah bidan Un, ketika ditemui LJ di kediamannya sekaligus BPM nya memaparkan kepada LJ terkesan tidak ada masalah. Un mengakui kalau Dn adalah pasiennya yang melahirkan dengan menggunakan jampersal.
Mengingat adanya kebutuhan lain yang tidak terakomodir dalam klaim jampersal, pasien diminta memberi biaya tambahan sebagai pengganti atas apa yang digunakan pasien tersebut, seperti halnya pampers, under bad, obat dan tas bayi, terang Un.
“ Biaya yang dikeluarkan pemerintah untuk klaim jampersal hanya Rp. 500 ribu, itu hanya untuk pelayanan persalinan saja, sedangkan yang lainnya tidak ada bahkan obat-obatan harus beli sendiri karena tidak ada alokasi dana  dari pihak Dinas Kesehatan untuk pasien jampersal, dan pasien Dn mengalami perdarahan jadi diberi obat yang dimasukan melalui anus.”paparnya.

Dengan kejadian tersebut pemerintah hendaknya melakukan kajian lebih dalam tentang mekanisme jampersal. Kalau sekiranya anggaran pelayanan persalinan yang di kucurkan melalui program jampersal masih dianggap minim oleh pelaku pelayanan kesehatan dibidang obgin, mungkin  klaim jampersal bisa dinaikan agar jangan sampai oknum bidan akal-akalan tarik dana tambahan sampai jualan pempers dan tas bayi dan sebagainya untuk memuluskan keuntungan dari profesi yang dilakukan atau  memang program upeti yang sistematis untuk Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu , Wallahu'alam.  ROB/IHS


Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger