' Akibat Gelombang Tinggi, Nelayan Ogah Melaut - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Akibat Gelombang Tinggi, Nelayan Ogah Melaut

Akibat Gelombang Tinggi, Nelayan Ogah Melaut

Written By lingkar jabar on Thursday, April 4, 2013 | 12:17 PM





CIANJUR(LJ) Akibat gelombang tinggi sejak dua pekan terakhir, ratusan nelayan di wilayah Cidaun dan Sindangbarang, Kabupaten Cianjur, akhirnya pasrah dan berhenti melaut. Alhasil, warga nelayan hanya mengantungkan hidup dari mencari udang
"Beruntung saat ini lagi musim hujan, jadi kita masih ada pekerjaan lain setelah tidak melaut lantaran gelombang tinggi. Sehingga kami masih bisa mendapatkan penghasilan meski harus berjuang keras untuk mendapatkanya," kata salah seorang nelayan, Dicky Alisa (37).
Mereka mengaku, tidak mudah mencari udang tersebut. Jelas dia, dibutuhkan kerja keras dan kehatia-hatian yang ekstra. Namun, dia mengaku beruntung masih ada penghasilan lain untuk menangkap udang, bukan berarti tidak penuh resiko. "Sebenarnya penuh resiko menangkap udang ini, apalagi kalau mengharuskan untuk menyelam diantara karang-karang. Kalau tiba-tiba terhempas gelombang, bisa sangat berbahaya, bisa terbentur karang," katanya.
Meski menangkap udang sangat mengancam keselamatan jiwa, para nelayan tetap nekat menjalaninya dengan alasan tidak ada pekerjaan lain selain menangkap ikan. Dengan menangkap udang, penghasilannya dirasakan lebih dari cukup dibandingkan dengan melaut menangkap ikan.
"Kebetulan lagi musim udang, sehingga tidak masalah meski tidak melaut. Penghasilan juga bertambah dibandingkan dengan melaut. Kalau dirata-ratakan sehari jika melaut kita mendapatkan Rp50 ribu, pada saat musim udang ini bisa dua kali lipat," ujarnya.
Nelayan yang pernah ikut program rumpun nelayan itu memprediksikan, cuaca gelombang tinggi biasanya berlangsung selama tiga bulan. Praktis selama waktu tersebut para nelayan tidak bisa melaut. Bagi nelayan yang mempunyai pekerjaan lain biasanya lebih memilih mamarkirkan perahunya.
"Saat ini diuntungkan dengan musim udang, tapi biasanya hanya beberapa minggu saja. Kita berharap ada solusi lain disaat para nelayan tidak bisa melaut. Kita sangat berharap Pemkab Cianjur memberikan bantuan, misalanya dalam bentuk modal usaha," harapnya
Nelayan lainnya, Darso (54), mengaku, sejak tidak melaut akibat cuaca buruk, dirinya terpaksa harus mencari pinjaman untuk memenuhi kebutuhan hidupnya. "Sudah sekitar satu minggu kami tidak berpenghasilan. Kalau dipaksakan melaut kami takut keselamatan kami malah terancam. Untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari kami terpaksa utang sana sini," ungkapnya.
Dia mengatakan, kondisi tersebut hampir setiap tahun terjadi di Pantai Jayanti, Cidaun. Untuk memenuhi kebutuhan hidup biasanya meminjam uang dari para cukong perahu atau pemborong ikan. "Nanti bayarnya pakai hasil tangkapan, jika cuaca sudah membaik dan bisa melaut lagi," katanya.
Berdasarkan pantauan, harga ikan asin di sejumlah pasar tradisional di Kabupaten Cianjur mulai melonjak. Kondisi tersebut akibat pasokan menipis karena banyak nelayan yang berhenti melaut bersamaan tingginya gelombang air pasang.
Ujang Suardi (41) salah seorang pedagang ikan asin di Pasar Induk Cianjur (PIC) kepada LINGKARJABAR, Rabu (3/4), mengungkapkan, harga ikan teri tawar naik menjadi Rp24.000 per kilogram dari Rp20.000 per kilogram. Untuk ikan asin, naik menjadi Rp17.000 per kilogram dari awalnya Rp12.000 per kilogram. Sementara ikan layur dari Rp18.000 per kilogram melonjak menjadi Rp20.000 per kilogram, dan ikan jambal Rp38.000 per kilogram, naik menjadi Rp40.000 per kilogram. 
“Kenaikan ini disebabkan karena nelayan jarang melaut, sehingga ikan sebagai bahan dasar utama membuat ikan asin berkurang, ditambah cuaca yang buruk sehingga berpengaruh pada pengeringan yang hanya mengandalkan sinar matahari,”katanya. (rus)

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger