' Walikota: Pentingnya Lubang Biopori - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Walikota: Pentingnya Lubang Biopori

Walikota: Pentingnya Lubang Biopori

Written By Angga Harja S on Thursday, January 31, 2013 | 5:00 PM


DEPOK (LJ) - Kota Depok yang notabene merupakan daerah penyangga Ibu Kota, saat ini sedang gencar-gencarnya melakukan pembangunan disegala bidang, namun upaya untuk tetap menjaga ketersediaan cadangan air bawah tanah tetap menjadi prioritas yang harus dijaga.

Salah satu solusi yang diterapkan oleh Walikota Depok, Nur Mahmudi Ismail dalam rangka menjaga ketersediaan cadangan air bawah tanah tersebut adalah dengan cara membuat Lubang Resapan Biopori (LRB).

Namun demikian, orang Nomor Satu di Kota Depok ini mengingatkan bahwa untuk pembuatan lubang Biopori secara maksimal, perlu adanya kesadaran akan pentingnya lubang Biopori dan tentunya keterlibatan nyata dari seluruh elemen masyarakat khususnya di Kota Depok.

Biopori merupakan teknologi tepat guna dan ramah lingkungan untuk menyimpan air tanah. Lubang Resapan Biopori secara langsung akan meningkatkan volume air yang mengalir yang meresap ke dalam tanah dan menambah luas bidang resapan air.

Biopori adalah lubang resapan air dengan teknologi multiguna. Lubang Biopori yang berdiameter 10 Cm dengan kedalaman 100 Cm berfungsi menjebak air yang mengalir disekitarnya sehingga dapat menjadi sumber cadangan air dalam tanah. Biopori sebagai resapan air memang mempunyai banyak manfaat, diantaranya dapat mencegah ganangan dan banjir, cegah erosi dan longsor, meningkatkan cadangan air bersih, dan kompos dan penyuburan tanah.

Biopori pun dapat dipanen, yakni ketika sampah yang ada dalam lubang silindris tersebut sudah terurai menjadi kompos, maka kompos tersebut dapat digunakan sebagai pupuk tanaman.

Cara membuat Lubang Resapan Biopori pun cukup mudah. Biopori dapat dibuat di halaman depan, halaman belakang atau taman dari rumah. Idealnya Lubang Resapan Biopori dibuat sebanyak 30 titik untuk setiap 100m2 lahan. Dari setiap lubang yang dibuat, akan mampu menampung sedikitnya 7,8 liter air.

Selanjutnya, lubang diisi dengan sampah organik, sehingga fauna tanah seperti cacing, semut, dan rayap akan dating dengan sendirinya dan masuk hke dalam lubang untuk mencari perlindungan dan bahan makanan. Fauna tanah tersebut akan berkembang biak menciptakan biopori yang dapat mempercepat laju peresapan air dalam lubang di tanah, serta mempercepat proses perombakan sampah organik menjadi kompos dan tidak menimbulkan bau.

Setiap 5 hari sekali dilakukan penambahan sampah organik yang dimasukkan ke dalam lubang secara periodic yang nantinya akan menjadi humus dan tumbuh biota dalam tanah dan tidak cepat diemisikan ke atmosfir sebagai gas rumah kaca. Dengan demikian, pemanasan global pun dapat dikurangi.

Bandingkan jika kita membiarkan sampah itu tetap dipermukaan. Sampah itu akan melepaskan karbon di udara, yang membuat semakin banyak gas rumah kaca di atmosfer.
Nah, setelah anda membaca artikel ini, yuk kita sama-sama ajak keluarga dan tetangga kita untuk membuat lubang Biopori di lingkungan dan rumah kita demi menjaga ketersediaan cadangan air bawah tanah. (HRS/DIS)

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger