' Kuwu Jagapurakulon Diduga Melanggar Hukum Administrasi - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Kuwu Jagapurakulon Diduga Melanggar Hukum Administrasi

Kuwu Jagapurakulon Diduga Melanggar Hukum Administrasi

Written By Angga Harja S on Monday, January 28, 2013 | 7:00 AM


KAB. CIREBON (LJ) – Warga Desa Jagapurakulon Kecamatan Gegesik Kabupaten Cirebon sangat menyesalkan perbuatan Cici, Kuwu (Kepala Desa) Jagapurakulon. Pasalnya, Cici diduga telah melakukan perbuatan hukum administrasi pertanahan sertifikat hak atas tanah milik Tirta yang memiliki tiga saudara. Akibatnya, ketiga saudara atau adik-adik Tirta, seperti Arpan, Mulud dan Karya merasa dirugikan oleh kuwu tersebut.

Arpan (40), warga Desa Jagapurakulon adik kandung Tirta mengatakan, dirinya merasa dirugikan dan sangat menyesalkan perbuatan maupun tingkah laku Cici selaku kuwu.

”Kami merasa dirugikan sekali mas. Karena pada tahun 2006 ada pemutihan sertifikat tanah yang dilakukan oleh BPN ke kantor Desa Jagapurakulon. Kakak kami, Tirta waktu itu datang ke kantor Desa Jagapurakulon untuk dibuatkan sertifikat tanah yang asal mulanya milik orang tua kami. Dan kami bertiga pun tidak mengetahui kalau tanah tersebut dibuatkan sertifikat, ternyata atasnama tanah hak milik Tirta pribadi,” jelasnya kepada LINGKAR JABAR, kemarin.

Ia menjelaskan, sertifikat tanah hak milik Tirta yang asal mulanya atas nama ibunya bernama Marni. Namun, waktu tahun 2009, Tirta memberitahukan bahwa tanah tersebut sudah tidak bisa diganggu gugat lagi. "Bagaimana kami tidak kaget mendengar pernyataannya itu, soalnya saat membikin sertifikat hak waris tanpa ada persertujuan dan tanda tangan kami serta saudara-saudaranya yang lain, tapi malah dibuat mudah begitu saja oleh kuwu. Padahal, kami dan saudara-saudara yang lainnya juga berhak mendapatkan hak waris tanah tersebut," paparnya.

Arpan mengancam, jika Cici selaku kuwu tidak bisa menyelesaikan masalah ini, pihaknya akan menempuh jalur hukum. Alasannya, karena kuwu berhak bertangungjawab juga dalam masalah sertifikat yang telah dikeluarkan BPN. "Kami juga akan menuntut Cici, karena telah membuatkan kwitansi jual beli palsu dan tidak ada persetujuan atau tanda tangan dari kami dan saudara yang lainnya,” Jelasnya.

Hal senada diungkapkan Mulud (35), dirinya merasa dirugikan sekali oleh kuwu. Sebab, sudah jelas kakaknya bernama Tirta memiliki tiga saudara. Anehnya, kenapa ketiga saudara dari Tirta tidak diberitahu terkait pembuatan sertifikat saat pemutihan tahun 2006.

"Malah Kakak kami memberitahukannya tahun 2009. Dan itupun tidak ditunjukkan berbentuk sertifikat kepada kami. Dan anehnya lagi, Cici menganggap kami sudah menjual tanah hak waris tersebut kepada Tirta. Sebenarnya kami tidak pernah menjual tanah hak waris tersebut kepada Tirta, dan kami juga tidak pernah menerima kwitansi jual beli. Kalau Cici menganggap kami telah menerimanya, itu semuanya bohong," tegasnya.

Sementara, Kuwu Desa Jagapurakulon, Cici menjelaskan, bahwa tanah tersebut sudah dijual ketiga saudaranya kepada Tirta dalam hal ini sebagai kakak mereka. ”Masalah ini kami sudah ngomong kepada mereka (adik-adik Tirta, red). Urusan itu sudah selesai, tapi kenapa masih diributin saja. Masalah itukan sudah diselesaikan dengan cara kekeluargaan mas. Dan kenyataannya tanah tersebut sudah dijual kepada Tirta saat ada pemutihan dari BPN yang langsung turun ke warga, itupun sudah ada kwitansi jual belinya. Jadi jangan menyalahkan kami, BPN lah yang salah, kenapa tanah tersebut dibuatkan sertifikat," paparnya. HEN

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger