' Ibing Tayuban Dimeriahkan Tari Kandaga Irawati Durban - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Ibing Tayuban Dimeriahkan Tari Kandaga Irawati Durban

Ibing Tayuban Dimeriahkan Tari Kandaga Irawati Durban

Written By Angga Harja S on Friday, January 18, 2013 | 7:00 AM


Permintaan tamu undangan yang menghadiri pegelaran seni Ibing Tayuban pada Rabu (16/1/13) malam tidak dapat ditolak seniwati tari Irawati Durban. Mereka meminta mantan penari Istana Merdeka ini untuk menarikan tarian klasik “Kandaga” karya (Alm) Tjetje Somantri yang dibuat tahun 1949.

“Sebenarnya ini pemintaan yang sangat berat untuk dipenuhi. Karena saya dalam kondisi untuk tidak menari tarian (Kandaga) yang pernah saya tarikan hampir empat kali lebih dalam setiap bulannya saat menjadi penari di istana (Merdeka),” ujar Irawati yang pada malam itu mengenakan kain sinjang, sementara untuk menari tarian Kandaga, penari mengenakan celana sontog.

Karena tidak ingin mengecewakan tamu undangan yang sudah datang, Irawati Durban-pun menari. Di usia yang sudah tidak lagi muda, gerakan gemulai memainkan soder (selendang diikat ke pinggang), mengundang decak kagum tamu undangan yang memenuhi setengah tempat duduk yang tersedia di Concordia Ballroom, Balai Pertemuan Bumi Sangkuriang, Jalan Ki Putih, Bandung.

Hampir selama 10 menit Irawati menarikan tari “Kandaga” yang diciptakan Tjetje Somantri khusus untuk penari wanita, namun dengan karakter kelelaki-lelakian namun tidak menghilangkan kesan feminisme penarinya. Gerakannya selain bercirikan kelincahan gerakan kaki saat berputar mengintari panggung, juga kelincahan memainkan selendang.

“Merupakan peristiwa langka menyaksikan langsung Irawati (Durban) menari, kalau tidak dipaksa kita tidak akan dapat menyaksikannya. Ini merupakan peristiwa langka karena diacara Ibing Tayuban tidak ada ronggeng (penari wanita), tapi semua terbayar karena Irawati menari tarian Kandaga,” ujar Sukar Samsudin, penasihat BP Bumi Sangkuriang mengomentari.

Memang di luar kebiasaan dalam sebuah pegelaran seni tari Ibing Tayuban, tidak menghadirkan penari wanita atau ronggeng untuk menemani penari wanita. Tarian yang diawali dengan juru baksan (pengatur tari) yang mempersilahkan penari Oyong (79) yang dituakan untuk membuka pegelaran lewat kepiawaiannya menari.

Mengawali pegelaran yang diharapkan menjadi pionir acara BP Bumi Sangkuriang, secara bergantian Oyok dan Indra Yusuf serta Asep Sulaeman. Baru dipenghujung acara gelaran Ibing Tayuban, juru baksan mengajak tamu undangan untuk turut menari bersama.

“Meski melakukannya dengan gerakan asal, tapi saya benar-benar sangat menikmati acaranya. Sungguh luar biasa, sayang sekali acaranya sangat singkat, mungkin perlu diselenggarakan secara rutin untuk dapat menarik perhatian tamu agar datang ke sini (Bumi Sangkuriang),” ujar Natalie asal Austria.

Apa yang diungkapkan oleh Natalie, juga diungkapkan sejumlah tamu lainnya. Demikian pula halnya dengan Direktur Padepokan Seni Kota Bandung, Hj. Sri Susiagawati, SE., yang berharap ke depan bila acara serupa diselenggarakan dilakukan publikasi melalui media cetak maupun elektronik agar kegiatan diketahui masyarakat luas.

Diungkapkan Sri Susiagawati, keberadaan gedung-gedung pertemuan maupun gedung kesenian di Kota Bandung selama ini telah memberikan warna bagi Kota Bandung maupun masyarakatnya. Karenanya kelangsungan kegiatan seni budaya yang diselenggarakan sudah sepatutnya mendapatkan dukungan dari lembaga pemerintah maupun swasta, serta masyarakat.

“Jangan sampai Kota Bandung ramai dengan berbagai event pertunjukan seni budaya. Tapi minim apresiasi dari masyarakatnya,” ujar sri Susiagawati. prc
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger