' BKKBN Fokus Garap KKB di 10 Provinsi Penyangga Utama - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » BKKBN Fokus Garap KKB di 10 Provinsi Penyangga Utama

BKKBN Fokus Garap KKB di 10 Provinsi Penyangga Utama

Written By Angga Harja S on Thursday, January 10, 2013 | 7:00 AM


BOGOR (LJ) - Dalam rangka mensukseskan program keluarga berencana, Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana (BKKBN) akan memfokuskan penggarapan program kependudukan & KB di sepuluh provinsi penyangga utama. Kesepuluh provinsi itu meliputi Banten, DKI Jakarta, Jawa Tengah, DI Yogyakarta, Jawa Timur, Sumatera Utara, Sumatera Barat, Sumatera Selatan, Lampung dan Sulawesi Selatan.

“Kami memfokuskan penggarapan utama program kependudukan dan keluarga berencana (KKB) pada remaja di 2013. Terutama di sepuluh provinsi penyangga utama,” terang Deputi Keluarga Sejahtera dan Pemberdayaan Keluarga (KSPK) BKKBN Sudibyo Alimoeso dalam keterangan persnya, kemarin. “Penduduk di 10 provinsi ini mencakup 70 persen penduduk Indonesia yang saat ini mencapai 240 juta jiwa,” tambahnya.

Menurut Sudibyo, SDKI 2012 menunjukan kinerja program KKB selama lima tahun (2007-2012) berjalan stagnan. Sejumlah indikator krusial yang ditargetkan pada tahun ini gagal tercapai. "SDKI 2012 menunjukan perjalanan KB selama lima tahun stagnan. Akibatnya, target pembangunan milenium (MDGs) pada 2015 nanti hampir mustahil tercapai," katanya.

SDKI merupakan survei statistik kesehatan/kependudukan yang paling diakui datanya secara internasional. Survei ini dilakukan Badan Pusat Statistik (BPS) setiap lima tahun sekali. Sudibyo juga menambahkan perlu dilakukan sejumlah perubahan strategi dalam pelaksanaan KB ke depan. 

Dia mencontohkan adanya peserta KB aktif (contraceptive prevalence rate-CPR) tinggi namun rata-rata wanita subur yang melahirkan (total fertility rate-TFR) tidak juga turun. "Ini menunjukan strategi KB sebelumnya perlu dimodifikasi," tambahnya.

Menurutnya lagi, CPR tinggi namun TFR tidak turun mengindikasikan bahwa mayoritas peserta KB saat ini menggunakan alat kontrasepsi jangka pendek seperti pil dan suntik yang sangat rawan terputus di tengah jalan. Saat ini diperkirakan 60 persen peserta KB menggunakan alat kontrasepsi pil dan suntik.

"Idealnya jika peserta KB kebanyakan menggunakan kontrasepsi jangka pendek, maka upaya pembinaan harus kuat. Sayangnya di masa otonomi daerah Petugas Lapangan KB (PLKB) dan kader KB desa sangat sedikit. Dahulu di masa Orde Baru petugas dan kader aktif membawakan pil KB serta mengingatkan peserta untuk mengulang suntik setiap tiga bulan pada peserta," katanya.

Karena itu, BKKBN juga akan melakukan penggarapan yang kuat terhadap remaja. Sebanyak 62 juta remaja di Indonesia saat ini sangat potensial melahirkan. Ini sudah dibuktikan dalam SDKI 2012, di mana remaja 20-24 tahun, khususnya di desa-desa saat ini sudah menjadi ibu. "Ini menunjukkan bahwa usia pernikahan sudah semakin dini. Padahal target awal adalah 30 per 1000 pernikahan. Ini mengingat tingkat pernikahan awalnya mencapai 35 per 1000 naik menjadi 41 per 1000 pernikahan. Ini pekerjaan berat," kata Sudibyo.

Indikator yang paling menunjukan pelaksanaan KB gagal dijalankan pemerintah, adalah tidak terlayaninya pasangan usia subur yang ingin ber-KB (unmeet need) yang gagal diturunkan sesuai target. SDKI 2012 menunjukan unmeet need pada tahun ini mencapai 8,9 persen atau hanya turun 0,02 persen dari SDKI 2007 yaitu 9,1 persen. CPS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger