' Usus Fadli Putus, Dinas Kesehatan Indramayu Terkesan Tutup Mata - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Usus Fadli Putus, Dinas Kesehatan Indramayu Terkesan Tutup Mata

Usus Fadli Putus, Dinas Kesehatan Indramayu Terkesan Tutup Mata

Written By Angga Harja S on Wednesday, December 12, 2012 | 7:00 AM


INDRAMAYU (LJ) - Fadli Juliansyah (1,6), setiap hari hanya bisa menangis menahan rasa sakit. Putra pasangan suami istri Muhadi dan Sukaesih, warga Gang Macan Tutul Desa Paoman Indramayu tersebut menderita penyakit yang semestinya tak dialami bocah seusianya. Sebab, Fadli harus membuang air besar melalui ususnya.

Kondisi ini karena tahapan operasi belum sepenuhnya dilaksanakan. Setelah pemotongan usus berhasil dilakukan di RSUD Gunung Djati Cirebon, hingga kini atau enam bulan setelah operasi ternyata belum dilakukan lagi penyambungan. Padahal, menurut dokter usus Fadli harus disambung kembali tiga bulan setelah operasi.  

Menurut Muhadi, ayah Fadli, jika melihat kondisi fisik anaknya sepintas memang tidak terlihat adanya peyakit. Bahkan putranya menunjukan sebagai bocah yang lincah dan cerdas. Tapi yang membuat berbeda itu, tubuhnya  tampak kurus.

"Dia harus buang air besar melalui usus yang ada di sebelah kiri pusarnya.Bila kotoran sudah keluar dari ususnya dan kemudian dibersihkan oleh ibunya maka setelah itu keluarlah japah (semacam darah). Begitulah setiap kali makan, kotoran langsung keluar. Kini ujung usus tampak membengkak dan berwarna kemerahan seperti buah strawberry. Fadli pun merasakan gatal setiap kali hendak buang air besar. Peristiwa ini bukan satu dua hari, tetapi hampir setengah tahun," tuturnya kepada LINGKAR JABAR, selasa (11/12).

Agar potongan usus tidak memburai, kata Muhadi, usus perut bagian kiri dibalut dengan kain kassa.
Muhadi mengungkapkan, awalnya Fadli terlahir normal dan sehat dengan berat 3 kilogram. Namun menginjak usia 8 bulan, ibunya terkejut karena putranya buang air besar dan khawatir karena anusnya berbentuk darah.

Khawatir akan keselamatan putranya itu, Muhadi lalu memeriksakannya ke bidan. Selanjutnya, Fadli lalu diberi obat. Namun ternyata tidak sembuh. Bahkan Suhu badan Fadli malah tambah tinggi. Dengan menggunakan surat keterangan tidak mampu (SKTM), Fadli lalu dirujuk kembali ke RSUD Gunung Djati Cirebon. Melalui diagnose dokter, Fadli ditengarai ususnya melintir. Usus kecil Fadli masuk ke usus besar.

Dokter menduga, terpelintirnya usus ini akibat salah urut. Orang tua Fadli tidak membantah kalau ia sering membawanya ke tukang urut. Tentu dengan tujuan supaya anaknya sehat. Ia pun tak menyangka kalau salah urut ini akibatnya cukup fatal.

Operasipun akhirnya dilakukan, selama 15 hari Fadli dirawat di rumah sakit. SKTM yang diharapkan banyak membantu ternyata tidak begitu berarti. Karena biaya sebesar Rp.17 juta harus ditanggung sendiri.

Persoalan muncul tatkala telah tiba saatnya penyambungan usus biaya untuk itu tidak ada. Kedua orang tua Fadli yang masih tinggal di rumah orang tuanya tentu tidak sanggup menanggung beban biaya yang diperkirakan mencapai puluhan juta rupiah.

Wa Naah, nenek Fadli juga tak berdaya membantu cucunya. “Satu-satunya harta saya adalah rumah ini.  Apakah saya harus menjualnya," ujarnya berkaca-kaca.

Muhadi menjelaskan, dirinya sudah mencoba mengurus surat untuk persyaratan operasi yang kedua di RSUD Gunung Djati Cirebon dengan berbekal SKTM kembali. Namun apa dikata, rujukan RSUD sudah selesai diproses tapi Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu belum bisa mengeluarkan surat rekomendasi agar operasi yang kedua dapat dilaksanakan.

"Tanggal 5 Desember, saya sudah urus surat-surat SKTM. Rujukan dari Puskesmas dan RSUD sudah saya bawa, tapi sayangnya saat minta rekomendasi dinas, ternyata tidak diberikan," keluhnya.

Terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Indramayu, Dedi Rohaedi yang belum sempat dikonfirmasi terkait pelayanan ini, beberapa waktu lalu pernah menyampaikan. Terkait anggaran yang semestinya dikeluarkan oleh pemerintah daerah melalui APBD provinsi, dirinya mengaku cemas terhadap penanggulangan pasien/ masyarakat Indramayu yang dirujuk keluar daerah dengan menggunakan Jamkesmas/SKTM. Itu disebabkan pagu anggaran tahun ini menurun sangat drastis.

”Pada tahun 2011 anggaran yang diterima bisa mencapai Rp.2 miliar. Tapi untuk alokasi tahun 2012/2013 anggaran untuk rujukan keluar daerah hanya bisa diterima Rp.800 juta dari Rp.4 miliar yang diusulkan,” tukasnya. IHS/SLH.
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger