' RY: Jumlah Imigran 200, Mungkin Termasuk Kawin Kontrak - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » RY: Jumlah Imigran 200, Mungkin Termasuk Kawin Kontrak

RY: Jumlah Imigran 200, Mungkin Termasuk Kawin Kontrak

Written By Angga Harja S on Thursday, December 6, 2012 | 7:00 AM

KAB.BOGOR (LJ) - Menjamurnya keberadaan Imigran baik legal maupun illegal menjadi polemik sebagian masyarakat Puncak Cisarua, Kabupaten Bogor, Jawa Barat.

Hal itu, terkait permasalahan dampak sosial dan budaya yang di timbulkan di sekitar masyarakat Puncak. Bahkan sampai saat ini, keberadaan mereka semakin mengakar dan tinggal di wilayah datang dan pergi tanpa ada keterangan resmi.

“Saya menolak penempatan imigran di wilayah puncak, karena banyak terjadi permasalahan yang ditimbulkan. Dari permasalahan etika, budaya, moral dan sosial,” kata Bupati Bogor, Rahmat Yasin (RY) kepada wartawan, di sela-sela acara boling di Gedung Pusdiklat Mahkamah Agung (MA), kecamatan Mega Mendung, Rabu (5/12).

Meski fakta dilapangan menunjukan jumlah imigran lebih dari 500, kata RY, dirinya mengklaim jumlahnya tidak mencapai 200 orang. “Data dari mana jumlah sebanyak itu, mungkin itu data termasuk yang kawin kontrak,” ujar RY.

Selama ini penolakan yang dilakukan elemen masyarakat terhadap keberadaan dan penempatan imigran di wilayah puncak sangat kuat. "Sering terjadi permasalahan yang di timbulkan oleh mereka. Dari mulai masalah etika, pelecehan seksual, perkelahian, perusakan dan lain-lain," ujar Yuswandi tokoh masyarakat puncak.

Dia menambahkan, beberapa kali mediasi yang di lakukan oleh dinas imigrasi dan IOM dan CWS, lembaga internasional yang mengurusi masalah imigran, selalu gagal akibat masyarakat, tokoh masyarakat dan tokoh ulama selalu menyuarakan penolakanya. Namun hingga hari ini, imigran masih saja datang dan pergi bagaikan “hantu” yang tidak punya rumah.

Tambah Yuswandi, alasan yang disampaikan masyarakat puncak terkait keberadaan Imigran dari timor tengah. Pertama, mereka tidak memahami, tidak dibekali dan tidak mau mengerti sosio budaya lokal.Kedua, mereka mengaku korban perang atau ketidak nyamanan di negaranya sana, namun  disini justru bersenang-senang dengan main perempuan dan beberapa diantaranya mabuk-mabukan, hingga sampai ada yang meninggal, ketiga, tidak ada yang bisa menjamin tentang latar belakang hidup mereka di negaranya, apa itu orang baik, bekas terpidana, preman, buronan atau yang lainya, keempat, puncak adalah tempat yang eksklusif dan sudah padat dengan penduduk pribumi dan kelima jikalau Indonesia memang tidak bisa menolak kedatangan mereka, Indonesia masih luas, tempatkan mereka ditempat lain yang masih longgar penduduknya," pungkasnya. YUS
   
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger