' Pilwalkot Bekasi, Golput Unggul - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Pilwalkot Bekasi, Golput Unggul

Pilwalkot Bekasi, Golput Unggul

Written By Angga Harja S on Tuesday, December 18, 2012 | 7:00 AM


BEKASI (LJ) - Hasil penghitungan cepat pemilihan walikota Bekasi yang berlangsung Ahad (16/12) oleh Lingkaran Survei Indonedia (SLI), menunjukkan Golput lebih unggul jika dibanding dengan warga yang menggunakan hak pilihnya.

Dari hasil  penghitungan tersebut tingkat Golput mencapai 51,1 persen, sedang tingkat partisipasi pemilih hanya 48,8 persen. Itu artinya, Golput unggul jika dibandingkan dengan pemilih.

Perolehan suara selengkapnya berdasarkan perhitungan quick count pasangan Pepen Ahmad Syaikhu (PAS) memperoleh suara yang mencapai 43,87 persen, disusul pasangan Dadang Mulyadi-Luki Hakim, (DALU) 25,56 persen, Pasangan Sumiyati-Anim Imanuddin 19,81 persen, Pasangan SALAM Shalih Mangara-Anwar Anshori, 5,27 persen dan Awing Asmawi-Andi Zabidi 5,27 persen.

Menurut Peneliti LSI, Hanggoro Doso Pamungkas, meski tingkat tingkat partisipasi pemilih sangat rendah, tapi secara yuridis kemenangan Rahmat Effenddi-Ahmad Syaikhu legal.

Sementara pasangan calon walikota Awing Asmawi, meski penghitungan cepat yang dilakukan LSI telah menyebutkan keunggulan pasangan PAS, namun ia masih tetap akan menunggu hasil penghitungan suara yang dilakukan oleh KPU.

Dari informasi yang berhasil dihimpun, penyumbang angka Golput tertinggi terjadi di perumahan-perumahan yang tingkat status ekonomi masyarakatnya lebih baik dibandingkan dengan di perkampungan.

Misal di perumahan Kemang Pratama yang merupakan salah satu perumahan elit di Kota Bekasi. Di perumahan ini tingkat pastisipasi masyakar dibawah 40 persen. Sementara di perumahan seperti Perumnas dan BTN tingkat partisipasinya tak jauh beda hanya terpaut sekitar 8 persen.

Mengomentari rendahnya partisipasi masyarakat terhadap pemilihan walikota Bekasi, menurut dosen Unisma dan pengamat politik DR. Harun Al Rasyid, dipengaruhi banyak faktor diantaranya, pertama, sosialisasi calon walikotanya tidak efektif. Artinya banyak masyarakat yang tidak tahu siapa calon walikotanya.

Kedua, figur walikota kurang memberi daya tarik bagi masyarakat untuk menggunakan hak pilihnya. Sehingga mereka lebih memilih pergi ke undangan, rekreasi keluarga ketimbang menggunakan hak pilihnya di TPS.

Ketiga faktor administrasi penyelenggara pemilihan sebab banyak juga diantara masyarakat yang tak dapat menggunakan hak pilihnya karena tak mendapat undangan.

Harus Al Rasyid mencontohnya ada TPS di Kemang Pratama yang tingkat pastisipasi masyarakat menggunakan hak pilih hanya 20 persen. Itu artinya 80 persen pemilihnya tak menggunakan haknya.

Kegagalan Partai Politik kata Harun, ikut memberikan kontribusi kejenuhan masyarakat. Sebab Partai Politik tak sanggup memberikan perubahan yang mendorong masyarakat untuk aktif menggunakan hak politiknya dengan memilih calon walikota.

"Partai politik gagal mengambil momentum yang telah dilakukan Jokowi di Jakarta. Sehingga tak ada daya tarik bagi masyarakat untuk datang ke TPS menggunakan hak pilihnya. Cona kita lihat tingkat partisipasi yang sangat rendah ini perlu dipertanyakan, apakah ini semata mata karena kesalahan administrasi, atau kekurang perdulian masyarakat terhadap pemilihan walikota," ujarnya. HRS

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger