' Komat : Pemakzulan Dapat Segera Diterapkan pada Aceng Fikri - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Komat : Pemakzulan Dapat Segera Diterapkan pada Aceng Fikri

Komat : Pemakzulan Dapat Segera Diterapkan pada Aceng Fikri

Written By Angga Harja S on Tuesday, December 11, 2012 | 7:00 AM


GARUT(LJ)-  Ketua Paguyuban Masyarakat Garut utara yang juga penggagas Komite Penyelamat Garut (KOMAT) H.Holil Aksan Umarzen mengatakan, proses pemakzulan terhadap Bupati Garut Aceng HM Fikri dapat segera dilaksanakan oleh DPRD Garut. Karena yang bersangkutan tak hanya terjerat skandal kawin singkat dengan Fani Oktara (18) binti Pudin, tapi juga adanya pelaporan dugaan penipuan dan pemerasan terhadap Asep Rahmat Kurnia Jaya.

Dalam kasus dugaan penipuan dan pemerasan, Aceng HM Fikri bahkan telah dilaporkan  ke Mapolda Jabar dan kasusnya sedang dalam penyelidikan. "Sekrang tinggal menunggul hasil pansus DPRD Garut, dimana legislatif ini, bisa menggunakan PP No 6 Tahun 2005 yang telah dirubah menjadi PP No 17 Tahun 2005 tentang pemilihan, pengesahan, pengangkatan, dan pemberhentian kepala Daerah dan Wakil Kepala Daerah.

Serta, dapat pula mengacu kepada UU No 12 Tahun 2008, hasil perubahan UU No 32 tahun 2004 tentang Pemerintah Daerah,”ungkapnya menjawab LINGKAR JABAR di kediamannya, Senin (10/12).
     
Menurut H.Holil Aksan Umarzen,  semuanya tak lepas dari unsur kepentinang dari berbagai pihak, seperti kepentingan politik, hukum dan sosial. Ketiga unsur kepentingan tersebut saling berkaitan satu sama lain, bahkan diantara ketiganya bisa dimultitafsirkan secara anbigo dan ambivalen.
   
Selama Aceng HM Fikri dan Dicky Chandra hingga Wabup Agus Hamdani memimpin, masyarakat Kabupaten Garut kerap dicekoki dengan sejumlah berita tak sedap yang berkaitan dengan porsi kewenangan, disharmoni hingga minggatnya sang wakil Bupati pertama.
   
"Inilah suatu potret dimana pejabat publik disorot oleh kasus yang tidak etis atau tidak pantas dilakukan. Terlepas dari detil kasusnya, serta alasan-alasan khusus sang Bupati, tentu  seluruh elemen masyarakat Garut yang tergabung dalam berbagai organ pergerakan memperoleh peluru atau amunisi untuk memprotesnya,” ujarnya.
     
Lebih lanjut H.Holil Aksan Umarzen mengatakan, pemimpin adalah sesosok teladan, sehingga kehidupan pribadinya pun dipandang penting dan relevan untuk dipersoalkan. "Kita tahu bahwa pemimpin ideal, bukannya yang tidak pernah berbuat salah (can’t do not wrong), karena dalam alam demokrasi kepemimpinan politik selalu dikoreksi.

Tetapi, dalam ukuran etika bisa longgar dan sempit, persepsi tentang kehidupan pribadi pemimpin bisa menjadi soal.  Sudah banyak kejadian, pejabat publik kita yang mundur, karena kehidupan pribadinya terbongkar," ujarnya.(BDN/JUL)

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger