' Dalih Dialoksikan Acara Adat, Kenaikan Harga Raskin Dikeluhkan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Dalih Dialoksikan Acara Adat, Kenaikan Harga Raskin Dikeluhkan

Dalih Dialoksikan Acara Adat, Kenaikan Harga Raskin Dikeluhkan

Written By Angga Harja S on Friday, December 28, 2012 | 7:00 AM


Indramayu (LJ)- Warga Desa Tunggulpayung Kecamatan Lelea, Kabupaten Indramayu mengeluhkan tingginya harga beras untuk rumah tangga miskin (raskin) yang dijual pihak desa kepada mereka. Bahkan, Pemerintah Desa (Pemdes) Tunggulpayung mematok harga mencapai Rp. 52.000 per karung berisi 15 kilogram.

Salah seorang warga RT 02 Blok 1 Desa Tunggulpayung yang namanya enggan disebutkan mengatakan, kenaikan harga raskin dari Rp. 24.000 menjadi Rp. 52.000 itu sudah berlangsung selama dua bulan.

"Keputusan kenaikan harga raskin itupun tanpa melalui musyawarah dengan warga. Makanya, warga yang berpenghasilannya dari bercocok tanam di lahan milik perhutani merasa keberatan," katanya kepada LINGKAR JABAR, kemarin.

Karena kenaikan harga raskin dinilai mencekik, warga sudah menanyakan kepada Pemdes Tunggulpayung. Saat itu, pihak desa menjawab kelebihan uang yang ditarik dari warga akan digunakan untuk keperluan adat ngarot (adat desa, red.).

"Kalau untuk keperluan kegiatan adat, kenapa tidak memberitahukan dulu kepada kami dan warga lainnya. Jangan sampai, itu hanya dijadikan alasan saja oleh desa agar kami tidak keberatan," ujarnya.

Kepala Desa Tunggulayung, Karyadi membenarkan bila harga raskin ada kenaikan. Namun, kelebihan uang raskin itu digunakan untuk keperluan ngarot atau dialokasikan pada kegiatan adat Desa Tunggulayung.

“Sisa pembayaran raskin dari warga itung-itung swadaya saja,” terangnya.

Terpisah, tokoh masyarakat setempat Carkaya (50), menyatakan pungutan swadaya itu tidak boleh diambil dari raskin. Karena penerima raskin adalah orang miskin, sementara terkait rencana biaya adat desa ngarot tersebut jangan mengambil dari warga miskin.

“Yang semestinya swadaya tersebut dibebankan kepada orang kaya yang sudah mampu. Bukan dari orang maskin,” tegasnya.

Carkaya mengungkapkan, batas ambang toleran penebusan harga raskin per kilonya berkisar Rp.2.000. Ketentuan itu saja sudah melebihi batasan dan ketentuan Pedum Raskin 2012 yang ditetapkan pemerintah sebesar Rp. 1.600 per kilonya.

"Bisa dibayangkan dalam hitungan standar harga Pedum 1.600 per kilo. Jika dikalikan pagu raskin Desa Tunggulpayung sebanyak 11 ton, maka kelebihannya bisa mencapai Rp. 16.500.000, apalagi dengan hitungan akumulasi 52.000/15 kilo mencapai 3.400 per kilo. Hal ini sungguh tidak wajar,” paparnya.

Terkait dengan besarnya anggaran tebusan raskin di Desa Tunggulpayung Kecamatan Lelea itu, Ketua BPD, Wiyanto mengakui adanya kenaikan harga tebusan raskin dengan mahal.

“Selama ini kami tidak pernah diajak koordinasi atau musyawarah oleh desa. Tahunya kami disodori Perdes (peraturan desa) tentnag raskin untuk ditandatangani,” jelasnya.

Sementara, Camat Lelea H. Ali Sukma ketika ditemui di kantor kecamatan, dirinya sedang tidak ada ditempat. MJD

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger