' Banyak Warga Cirebon Tertipu Mafia CPNS - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Banyak Warga Cirebon Tertipu Mafia CPNS

Banyak Warga Cirebon Tertipu Mafia CPNS

Written By Angga Harja S on Wednesday, December 19, 2012 | 7:00 AM


CIREBON (LJ) - Calo calon pegawai negeri sipil (CPNS) ternyata masih bebas berkeliaran di lingkungan Pemerintah Kota (Pemkot) Cirebon. Kali ini, pelaku diduga seorang guru yang mengajar di salah satu SMA di Kota Cirebon. Modus penipuan pelaku dengan menjanjikan para korban bisa menjadi PNS di beberapa instansi pemerintahan.

Seperti dialami Sur (41), salah satu korban warga Perum BCA Jl Adipura Indah, Harjamukti Kota Cirebon. Ia mendapat informasi dari salah satu saudaranya di Indramayu yang mengikuti pendaftaran CPNS lewat pelaku, dan Sur pun tertarik. Setelah berdiskusi dengan suami, dia pun ikut mendaftar. 

Tidak hanya Sur, Yen (55) warga Kampung Melati, Kecamatan Kesambi juga turut dititipi oleh saudaranya yang tinggal di Jakarta untuk mendaftar kepada pelaku. Baik Sur maupun Yen merasa yakin, karena keduanya sempat bertemu dengan pelaku berinial IN, yang mengaku seorang pegawai di Pengadilan Negeri (PN) Kota Cirebon.

“Tahun 2009, kami sempat bertemu dengan pak IN. Kebetulan dia tetangga ibu Yen. Kami ngobrol di Kantor Pengadilan. Akhirnya kami sama-sama yakin untuk ikut. Informasinya, tahun 2008 banyak yang mendaftar ke pelaku dan gol jadi PNS. Pelakunya guru yang mengajar di salah satu SMA di Kota Cirebon,” ujar Sur kepada LINGKAR JABAR di kediaman Yen, kemarin.

Sur dan Yen kemudian mendatangi rumah pelaku di Juntinyuat, Kabupaten Indramayu. Keduanya dijejali angin surga alias janji-janji manis. Menurut Sur, pelaku menjanjikan uang kembali seratus persen, jika ia tidak lolos CPNS. Sur mengaku dikenai tarif Rp.85 juta untuk bisa menduduki PNS Pemkot Cirebon oleh pelaku. Sedangkan Yen, dimintai Rp.200 juta untuk dua orang saudaranya. “Tarifnya bervariatif, beda-beda antara satu dengan yang lain,” jelas Sur.

Setelah kedatangan keduanya, lanjut Sur, pelaku mendesak agar uang segera dibayarkan. Pelaku kerap kali menanyakan uang untuk secepatnya disetorkan. “Saat itu, saya baru ngasih uang sebesar Rp 40 juta, mintanya sih Rp 85 juta. Malah, saat itu pelaku nyaranin saya untuk jual rumah. Untung saja saya enggak dengerin dia,” paparnya. 

Yen menambahkan, ia yang saat itu dititipi saudaranya sering ditagih pelaku. Padahal, Yen hanya menyambungkan keinginan saudaranya yang di Jakarta. “Waktu itu kan transferan dari Jakarta belum masuk. Saya sampai ditungguin di Bank BCA, oleh ayah pelaku. Setelah uang transfer masuk sebesar Rp 200 juta, Saya ambil dan langsung saya serahkan ke ayah pelaku. Enggak lama, pelaku datang mengambil uangnya,” jelas Yen seraya mengaku memiliki kuitansi setoran uang yang diserahkan ke pelaku.

Yen menambahkan, saat pengumuman CPNS tiba, baik nama saudaranya maupun Sur tidak masuk dalam jajaran CPNS yang lolos. Sontak hal itu membuat Sur dan Yen kaget. Keduanya kembali mendatangi rumah pelaku untuk menanyakan kejelasan. Ternyata, yang datang ke rumah pelaku bukan mereka berdua saja, tapi ada sekitar delapan orang lainnya. 

“Saat itu sekitar sepuluh orang termasuk kami menuntut dia, kok enggak lulus. Beberapa orang ada yang marah-marahin dia di teras rumah, sebagian meminta uang itu kembali. Hanya saja kami berdua tidak ikut marah. Karena pelaku menyarankan untuk ikut tes CNPS selanjutnya, dan dia menjamin akan lolos,” tuturnya.

Yen menyebutkan dari gelagat pelaku yang membawa ayahnya, diduga pelaku bekerja sama dengan keluarganya untuk menjadi mafia CPNS. Bahkan, Yen sempat menduga jika uang yang diserahkan dia dan beberapa korban lainnya, digunakan pelaku untuk mengurus kelulusan PNS pelaku pribadi. “Pelaku itu tahun 2009 baru diangkat PNS, karena mendaftarnya bareng dengan kami semua. Sementara kami enggak lolos, dia malah lolos. Kayanya uang kami dipakai buat ngurusin PNS dia sendiri,” katanya.

Yen juga membuka suara siapa saja yang sudah menjadi korban pelaku dalam tes CPNS itu. Salah satunya adalah saudara Ketua PGRI Kota Cirebon, Djojo Sutardjo yang juga Kepala SMPN 2. “Kerugian saudaranya Pak Djojo sekitar Rp 120 juta,” bebernya.

Dikonfirmasi melalui pesan singkat, Djojo membenarkan kasus penipuan yang menimpa saudaranya oleh calo CPNS. Namun, Djojo mengaku enggan mempersoalkan kasus itu. “Sudah saja Mbak enggak usah. Makasih ya, atas perhatianya. Karena saudara kami enggak mau ribet. Katanya, biar Allah yang akan menghukum,” tukasnya melalui  pesan singkat yang dikirim pekan lalu. JHON/HEN


Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger