' Aceng dan Fani Islah, DPRD Bentuk Pansus Pemberhentian Bupati - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Aceng dan Fani Islah, DPRD Bentuk Pansus Pemberhentian Bupati

Aceng dan Fani Islah, DPRD Bentuk Pansus Pemberhentian Bupati

Written By Angga Harja S on Thursday, December 6, 2012 | 7:00 AM

GARUT - Bupati Garut Aceng HM Fikri bergerak cepat meredam polemik yang bisa berujung pada pencopotan dirinya sebagai kepala daerah. Rabu (5/12), Aceng sepakat berdamai dengan Fani Oktora, perempuan yang sempat ia nikahi selama empat hari, dan diceraikan hanya melalui pesan singkat. Di rumah bambu yang terletak di halaman belakang pesantren Al Fadilah 2, di Limbangan, Kabupaten Garut-Jabar, Aceng Fikri dan Fani Oktora yang didampingi keluarga masing-masing bertemu lagi setelah Fani diceraikan Juli lalu.

Dalam pertemuan itu, awalnya baik Aceng maupun Fani banyak terdiam. Beberapa saat kemudian, Aceng pun membuka suara. Dia mengungkapkan keinginannya untuk menyudahi konflik yang dianggapnya telah meresahkan masyarakat. Ia juga berharap kembali menyambung tali silaturahmi dengan Fani dan keluarganya, setelah apa yang terjadi beberapa minggu terakhir.

"Islah itu adalah mengurai benang yang kusut, mencairkan yang beku. Kalau kita anggap kemarin ada benang yang kusut mari kita urai, ada yang beku, mari kita cairkan. Kalau ada yang putus mari kita sambungkan kembali," katanya. Dalam kesempatan tersebut, Aceng juga mendoakan Fani agar diberikan yang terbaik dalam hidupnya. "Mudah-mudahan, Fani mendapatkan ridho Allah SWT, menjadi istri solihah, dinaikan derajatnya, diberikan kesabaran," tambahnya.

Keduanya pun sepakat untuk tidak melanjutkan kasus tersebut ke ranah hukum. Aceng juga mengatakan tidak akan melaporkan Fany ke Mabes Polri. "Soal laporan, itu tidak jadi. Karena kedua pihak sudah saling memaafkan," ujarnya. Senada dengan Aceng, Fany yang telah melaporkan Aceng ke Mabes Polri, tidak akan melanjutkan laporannya tersebut. Karena kedua belah pihak kini telah sepakat untuk berdamai.

"Ya, kita sudah islah. Pihak keluarga juga sudah puas. Itu (laporan) nanti tidak ada. Karena kita juga sudah puas. Kita juga sudah berdamai untuk saling memaafkan," ucap Fany. Seusai pertemuan, Fany yang mengenakan baju warna biru ini langsung sungkem mencium tangan Aceng. "Setelah islah ini tidak ada persoalan lagi ke depannya. Ini sudah selesai dan kedua keluarga saling memaafkan dan saling menerima. Jadi saya minta masalah ini dianggap selesai," ujar Aceng.

Meski begitu, Aceng masih menghadapi masalah politik menyusul keputusan Dewan Perwakilan Rakyat Daerah (DPRD) Kabupaten Garut yang membentuk panitia khusus (pansus) pemberhentian Bupati Aceng HM Fikri yang dinilai telah melanggar etika sebagai kepala daerah. "Pembentukan Pansus sudah resmi. Ini sebagai langkah kami DPRD untuk menyelesaikan masalah Bupati," kata ketua DPRD Kabupaten Garut, Ahmad Bajuri usai rapat pengesahan pembentukan pansus di kantor DPRD Garut, kemarin.

Putusan pembentukan pansus telah disahkan dalam surat keputusan DPRD Nomor 19 tahun 2012 tentang Pembentukan Panitia Khusus DPRD Kabupaten Garut. Alasan dibentuknya pansus tersebut sebagai tindak lanjut DPRD menerima aspirasi masyarakat yang menyatakan Bupati Garut, Aceng HM Fikri telah melakukan pelanggaran etika dan peraturan perundang-undangan. "Pansus ini bertugas melakukan pembahasan dugaan pelanggaran etika yang dilakukan oleh Bupati dan pansus ini sesuai peraturan undang-undangan yang berlaku," katanya.

Lalu apakah Pansus akan melengserkan Aceng? Ketua Pansus DPRD Asep Lesmana Nadiman mengatakan, tujuan dibentuknya pansus untuk mencari informasi akurat tentang permasalahan yang menimpa Bupati Garut. Menurut Asep, fakta-fakta akan menjadi kajian pansus dalam usulan pemberhentian Bupati Garut untuk diajukan ke Gubernur dan Kementerian Dalam Negeri. "Terlebih dahulu kami mencari informasi atau data yang dipermasalahkan selama ini, termasuk memanggil Bupati" katanya.

Terbentuknya pansus sendiri setelah ramainya massa dari berbagai organisasi masyarakat melakukan aksi turun ke jalan menuntut Bupati Garut mundur dari jabatannya. Tuntutan itu dipicu tindakan Bupati Garut yang menikahi Fani Oktora. Akibat tindakannya itu, Bupati dituduh melakukan pelanggaran etika hingga menuai protes sejumlah elemen masyarakat Garut, tokoh ulama, sampai ramai diberitakan di berbagai media massa. JUL/BDN
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger