' Pernikahan Empat Hari Bupati Garut Menuai Kecaman Ulama - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Pernikahan Empat Hari Bupati Garut Menuai Kecaman Ulama

Pernikahan Empat Hari Bupati Garut Menuai Kecaman Ulama

Written By Angga Harja S on Monday, November 26, 2012 | 7:00 AM

GARUT - Sejumlah ulama pimpinan pondok pesantren (Ponpes) sepakat mendorong keluarga Fany Octora (18) mengajukan itsbat nikah (penetapan status pernikahan) ke Pengadilan Agama (PA) supaya gadis belia itu mendapatkan legalitas pernikahannya dengan Bupati Garut Aceng HM Fikri dan juga perceraiannya. Hal itu sebagai salah satu upaya menyelamatkan Fany dari trauma yang dideritanya sebagai dampak pernikahannya dengan Aceng yang hanya berumur empat hari.

"Kasihan dia kalau mau menikah lagi bagaimana, kan statusnya belum jelas. Akta perceraian hanya bisa dibuktikan lewat Pengadilan Agama. Sedangkan surat nikah tidak ada. Makanya kita dorong agar dia mengajukan itsbat nikah ke Pengadilan Agama, untuk selanjutnya bisa diajukan akta perceraian," kata Pengasuh Ponpes Babussalam di Kecamatan Bayongbong, Ishak Munawar, pada pertemuan sejumlah ulama, pimpinan pesantren, dan organisasi massa Islam di Masjid Pesantren al Fadlilah, Kecamatan Balubur Limbangan, Sabtu (24/11) lalu.

Pada pertemuan tersebut sempat diperbincangkan soal pernyataan talak Aceng terhadap Fany yang hanya disampaikan melalui pesan singkat (SMS) di telepon seluler. Namun karena khawatir terjebak pada perdebatan seputar masalah fikih, persoalan tersebut tak dibahas lebih lanjut. Mereka sepakat, mendesak yakni Fany yang baru lulus SMA pada 2012 itu harus mendapatkan kejelasan statusnya diakui negara.

Ishak Munawar sendiri menilai perbuatan Aceng HM Fikri atas kasus tersebut terindikasi mempermainkan Undang Undang Perkawinan Nomor 01/1974, dan Undang Undang Nomor 23/2002 tentang Perlindungan Anak. "Mungkin juga ada pemalsuan identitas mengaku duda cerai," ujar Ishak yang didampingi sejumlah ulama.

Sementara itu, Dewan Penasihat Majelis Ulama Indonesia Kabupaten Garut, KH.Sirojul Munir, meminta Komisi Nasional (Komnas) Anak turun tangan meluruskan kasus menimpa Fany Octora. "Kita berharap Komnas Anak dapat meluruskan persoalan ini. Jangan sampai Fany terus menerus trauma. Pengadilan Agama dan Kementerian Agama juga supaya melakukan sosialisasi terkait perkawinan siri dan anak di bawah umur," kata Sirojul Munir yang akrab disapa Ceng Munir.

Dia menyesalkan perbuatan Bupati terkesan mempermainkan perkawinan. Padahal, kata Ceng Munir, perkawinan dalam Syari'at Islam merupakan hal sakral. Sehingga tidak boleh dipermainkan. Perkawinan selain diatur dalam al Qur'an, As Sunnah, dan ijmak ulama, juga diatur dalam Undang Undang Nomor 01/1974.

"Mengapa kawin siri? Apalagi ini poligami dan dilakukan pemangku Negara yang seharusnya menjadi uswah masyarakat. Ini lebih merugikan lagi pihak perempuan," sesal Pimpinan Pondok Pesantren Babussalam Kampung Urug Desa Panembong. Parahnya lagi, kata Ceng Munir, yang menjadi korban masih di bawah umur. Padahal sesuai Undang Undang Perlindungan Anak, perkawinan tak boleh terjadi pada anak di bawah usia 18 tahun. "Apalagi jika ada pembohongan, jelas ini ada sanksinya," ujarnya.

Sewaktu dinikahi Bupati Garut Aceng HM Fikri pada 14 Juli 2012 secara agama Islam dan siri, Fany Octora masih berada di bawah umur karena belum genap 18 tahun. Dia merupakan gadis kelahiran 8 Oktober 1994. Dia diceraikan Bupati pada 17 Juli 2012, hanya empat hari pasca dinikahi Aceng.

Hal senada dikemukakan wakil keluarga Pesantren Urug Kecamatan Bayongbong, Ade Wahidin. "Kami prihatin atas kejadian ini.
Apalagi ada pernyataan bahwa beliau (Bupati) sudah tidak beristri. Itu sebuah pelanggaran terhadap Undang Undang dan tidak bisa dibenarkan," tegasnya.

Namun, Pimpinan Pesantren al Fadlilah KH Abdurrazaq sendiri malah memilih bersikap lunak, bahkan terkesan tak ingin kasus tersebut dibawa ke ranah hukum. "Bagaimanapun Bupati (Aceng HM Fikri) itu masih keluarga pesantren (al Fadlilah), santri, dan ayahnya juga ajengan. Saya hanya ingin bagaimana baiknya saja. Mangga nyanggakeun," ujar Oo yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kecamatan Balubur Limbangan.

Pimpinan Pesantren at Thoriq, Ibang Lumanudin mengakui bila berdebat pada soal SMS talak dikirimkan Aceng ke Fany cenderung akan berlarut-larut dan memancing perdebatan faham. "Ini sebenarnya lebih ke masalah moral. Bagaimana seorang publik figure seharusnya memberikan uswah (teladan baik) bagi masyarakat. Perkawinan jangan dianggap main-main," ingatnya.

Dipolitisasi

Terkait hal itu, Bupati Garut Aceng HM Fikri mengakui sudah menikahi remaja perempuan berinisial FO dan menceraikannya empat hari kemudian. Menurut Aceng, permasalahan tersebut sudah diselesaikan secera kekeluargaan lima bulan lalu. Pernikahannya sendiri berlangsung pada 14 Juli 2012. Dia menjelaskan ada permasalahan keluarga yang tidak mungkin diungkapkan ke publik terkait alasan percerainnya.

Selain itu, semua permintaan mantan istri, kata Aceng, sudah dipenuhi. Selain itu ada surat pernyataan yang ditandatangi oleh FO. Karenanya, Aceng menduga permasalahan tersebut sengaja dimunculkan kembali oleh pihak tertentu. Hal ini  terkait posisinya sebagai bupati. Ada pihak yang ingin mempolitisasi permasalahan tersebut sehingga namanya jatuh.

Seperti diberitakan, informasi tentang percerairan Aceng dengan FO menjadi perbincangan hangat di Garut. Bahkan, foto pernikahan mereka beredar luas di masyarakat melalui telefon genggam. Salah seorang kerabat FO menjelaskan, awalnya datang utusan bupati ke sebuah pondok pesantren di Ciseureuh, tempat FO mengaji. Bupati mencari santriwati untuk diperistri. Aceng sendiri berstatus duda.

Pihak keluarga pun akhirnya mengizinkan FO untuk diperistri. Bupati sempat menjanjikan akan memberangkatkan FO umrah dan akan menyekolahkannya ke akademi kebidanan. Namun, saat usia pernikahan berjalan empat hari, FO diceraikan Aceng melalui SMS. Alasannya, FO mengidap penyakit tertentu.
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger