' Ronggeng Kedempling Perpaduan Cirebonan & Priangan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Ronggeng Kedempling Perpaduan Cirebonan & Priangan

Ronggeng Kedempling Perpaduan Cirebonan & Priangan

Written By dodi on Friday, October 12, 2012 | 7:00 AM

DARI sekian kesenian tradisional yang dipentaskan pada malam kilas balik di Gedung Merdeka Bandung, tari atau ronggeng kedempling yang cukup menarik perhatian. Dibawakan oleh enam penari, ronggeng kedempling asal Kabupaten Majalengka ini didaulat sebagai tarian untuk menyambut Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan bersama istrinya.

Semua penari adalah kaum hawa yang mengenakan busana mirip laki-laki, yakni baju kutung dan sontog berwarna cokelat dipadu kain samping, selendang, dan beubeur. Bagian tangan dan kakinya dihiasi gengge (gelang bergerincing). Sementara bagian kepalanya mengenakan iket yang dibentuk sedemikian rupa dan wajah dihiasi kacamata hitam serta kumis yang dilukis, serta terdapat kace di bagian dada.

Mereka menari dengan gerakan yang sangat sederhana mengikuti irama yang sederhana pula namun penuh arti. Para penonton mungkin agak bingung karena gerakan tari yang dibawakan lain dari yang lain. Tarian ini merupakan perpaduan antara tari pola topeng tumenggung dan pola tari tayub. Tarian ini mengandung dua unsur berbeda pula, yakni unsur cirebonan dan unsur priangan.

Tarian kedempling ini mampu membuka mata para tamu undangan yang hadir di Gedung Merdeka. Meski ada di antara mereka yang bertanya-tanya-tanya, apa dan dari mana asal tarian itu.

Memang untuk jagat tari di Jawa Barat, khususnya Kota Bandung, tarian kedempling ini terbilang baru. Jangankan untuk menyaksikan bentuk tariannya, nama kedempling pun masih terdengar asing. Padahal di daerah Majalengka, tarian ini sudah berkembang sejak prakemerdekaan. Konon tarian ini lahir sekitar tahun 1938-an saat penjajahan kolonial Belanda.

Walaupun sedikit bingung dan bertanya, para undangan dan hadirin cukup terhibur dengan sajian tari atau ronggeng kedempling ini. Terutama saat gerakan tari tumenggung berpadu dengan tari tayuban. Selain itu ada pula gerakan tari doger yang dilengkapi dengan gerakan gedut, jalak pateuh, koma, oyag bahu, jangkung ilo, ngayun satengah keupat, barongsay, ngincek, pakbang, dan ngongkrak panjang.

Nama kedempling diambil dari sebuah nama ragam jenis gamelan yang benuknya tidak berpenclon (di wilayah Cirebon dan Indramayu disebut gamelan teras alit/sundari) yang digunakan sebagai gamelan pengiring tarian ini.

Tarian kedempling mulai tumbuh di Kabupaten Majalengka utara seperti daerah Ligung, Jatitujuh, dan Randegan. Kesenian ini mulai tumbuh diperkirakan tahun 1938. Biasanya, tarian ini dipentaskan dari satu tempat ke tempat lain atau disebut babaran (ngamen). Selain itu, kesenian ini biasa dipentaskan atas undangan buruh kontrak perkebunan sebagai sarana hiburan pada malam hari usai bekerja seharian di perkebunan.

Sedangkan para penari kedempling awalnya merupakan para penari doger yang beralih profesi dengan alasan bahwa kesenian doger pada waktu itu sudah kurang diminati masyarakat lagi. Perpindahan profesi dari penari doger menjadi penari kedempling ini dengan hanya berbekal keterampilan menari semampu dirinya alias tidak berguru kepada siapa pun. Namun perpaduan dari tari tumenggung gaya cirebonan dan tari tayub gaya Priangan menjadi daya tarik dari tari atau ronggeng kedempling. Selain itu, para tokohnya pun sudah terbilang dimakan usia, seperti Sukarta Candra Muda (Aki Karta) berusia 69 tahun, Meri atau Ma Er berusia 72 tahun, dan Ayinan (Ma Inah) berusia 88 tahun. Sementara yang lainnya masih berusia muda.Cps
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger