' Menikmati Longser Wayang Landung - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Menikmati Longser Wayang Landung

Menikmati Longser Wayang Landung

Written By dodi on Wednesday, October 10, 2012 | 7:00 AM

KEBERADAAN dua wayang berukuran raksasa mengundang rasa penasaran para penonton yang datang ke Teater Terbuka Taman Budaya Jawa Barat, akhir pekan lalu. Mereka ingin menyaksikan pementasan seni wayang landung yang dimainkan LS Wayang Sangkala Kabupaten Ciamis.

Kesenian itu menghadirkan dua tokoh wayang berukuran raksasa, yakni Arya Bima dan Denawa alias buta. Untuk menghidupkan dua wayang raksasa ini dibutuhkan dua orang yang berbadan kekar dan sehat. Pasalnya, wayang raksasa ini beratnya rata-rata lebih dari 30 kg.

Untuk orang biasa, memainkan wayang raksasa ini tentunya akan kelabakan. Selain berat, si pemain wayang ini pun harus bisa berlari ke sana kemari mengejar wayang orang sebagai lawan mainnya. Belum lagi harus bertarung dengan wayang raksasa yang satunya lagi.

Ada kelucuan ketika melihat wayang raksasa bertarung, sehingga membuat para penonton tertawa, terutama ketika si pemain wayang yang sempoyongan menahan beban wayang raksasa. Kelucuan semakin menjadi ketika kedua wayang ini bertarung saling memukulkan gada yang dipegang si pemain wayang. Namun yang terjadi bukan saling memukul, melainkan saling seret dan saling dorong satu sama lain, berusaha saling menjatuhkan.

Saat kedua tokoh wayang bertarung, dua tokoh wayang lainnya yang merupakan punakawan, Astrajingga (Cepot) dan Dawala berlari-lari mengelilingi arena pertarungan sambil berceloteh tak jelas. Kedua wayang wong ini mukanya dihias persis tokoh si Cepot dan Dawala dalam wayang golek. Muka si Cepot dicat warna merah, sedangkan si Dawala berhidung mancung.

Aksi kedua punakawan ini membuat pertunjukan seni wayang landung semakin hidup, walaupun dalam pementasannya menggunakan konsep longser. Apalagi kedua punakawan ini mampu mengundang gelak tawa penonton. Celotehan dan bobodoran khas Priangan membuat pementasan wayang landung tidak monoton, tidak seperti pementasan wayang lainnya.

Malam itu, cerita yang diangkat adalah "Sanghyang Kalamaya", sebuah cerita yang menggambarkan kegagahan Arya Bima dalam menghancurkan angkara murka dari sang Denawa. Walaupun yang menjadi Denawa sebenarnya adalah Gareng anak bungsu Semar, yang meminta perhatian dan kasih sayang dari Semar dan kakak-kakanya.

Suasana Desa Tumaritis yang tenteram dan damai tiba-tiba dikejutkan oleh munculnya Denawa yang berusaha mengganggu ketenteraman. Gareng, salah seorang putra Semar hilang menjadi korban keganasan Denawa yang bernama Sanghyang Kalamaya. Tidak ada seorang pun yang mampu mengalahkan Denawa. Akhirnya Lurah Semar memohon pertolongan kepada Bima di Amarta untuk menundukkan sang Denawa yang sakti mandraguna.

Pertunjukan wayang landung sebagai seni helaran, diangkat menjadi seni pertunjukan yang memiliki unsur cerita utuh seperti halnya wayang golek. Perpaduan antara wayang landung, seni longser, dan wayang golek seperti ini merupakan yang pertama kali dikemas dan ditampilkan, sebagai upaya untuk mencari kemungkinan menampilkan bentuk baru dari jenis yang memiliki karakteristik berbeda.

Wayang landung merupakan seni helaran yang diciptakan oleh Pandu Radea tahun 2007. Seiring perkembangannya, seni helaran kreasi baru yang diilhami dari seni wayang golek Sunda ini telah menjadi ikon baru bagi Kabupaten Ciamis sebagai kekayaan seni budaya di Kabupaten Ciamis. cps
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger