' Kopi Luwak, Rintisan Usaha Baru Petani Sumedang - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Kopi Luwak, Rintisan Usaha Baru Petani Sumedang

Kopi Luwak, Rintisan Usaha Baru Petani Sumedang

Written By dodi on Tuesday, October 16, 2012 | 7:00 AM

SUMEDANG - Ratusan petani di Kecamatan Rancakalong, Kabupaten Sumedang-Jabar, yang terbagi ke dalam beberapa kelompok tani di beberapa desa belakangan ini mulai merintis usaha kopi luwak yang diyakini akan menjadi andalan pendapatan mereka. Yaitu biji kopi yang diambil dari sisa kotoran luwak atau musang kelapa.

Biji kopi ini diyakini memiliki rasa yang berbeda setelah dimakan oleh binatang luwak kemudian mengalami fermentasi sewaktu melewati saluran pencernaan luwak. Fermentasi inilah yang dapat meningkatkan kualitas kopi. Di kecamatan yang hanya berjarak sekitar 20 km dari perbatasan pintu tol Padaleunyi ini, kopi luwak mulai diproduksi tahun 2010. Namun, awalnya, sudah sejak tahun 2006 lalu kopi mulai ditanam dan diproduksi oleh ratusan petani.

“Sejak 2010 kami mulai mengkhususkan usaha menjadi kopi luwak, sebelumnya kami memproduksi kopi arabica dari kebun kopi kami,” kata Mumun Sutarsa, warga Dusun Citangku RT 02/03 Desa Nagarawangi, Kecamatan Rancakalong yang mulai merintis perkebunan kopi bekerjasama dengan Perhutani, Minggu (15/10).

Menurut Mumun, untuk membuat kopi luwak, biasanya digunakan sebanyak 20 kg kopi mentah yang diberikan kepada 20 ekor luwak yang sengaja dipeliharanya. Setelah dicerna, luwak akan menghasilkan 40% dari total kopi yang dimakan. Setelah dibersihkan, didapatkanlah kopi yang berbentuk kopi basah. Kopi basah lalu dikupas, sehingga menghasilkan kopi kering.

Bila ada 4 kilogram kopi basah, maka didapatkan 2 kilogram kopi kering yang langsung dijemur dan dikupas lagi menjadi bulir-bulir kopi. Bulir-bulir ini dijemur kembali sampai kering, setelah itu baru di-roasting (dipanggang). Terakhir, kopi digiling menjadi bubuk. Pemasaran kopi luwak tidak dilakukan sendiri melainkan dibantu sejumlah petani lainnya.

“Pemasaran kopi luwak kami masih terbatas pada kalangan tertentu. Untuk itu, petani dan perajin kopi tidak semua membuat kopi luwak melainkan masih juga ada yang memproduksi kopi Arabica biasa,” kata Mumun yang menyebutkan kopi yang sudah dipetik atau kopi yang sudah dikeluarkan dari pencernaan luwak harus segera diolah tidak lebih dari delapan jam untuk menghasilkan kualitas kopi yang terbaik.

Harga jual kopi luwak yang diproduksi Mumum dan petani kopi lainnya ini dibanderol dengan harga Rp100 ribu untuk ukuran 100 gram. Kemasan kopi luwak dibuat sedemikian rupa agar menarik. Salah satu merk yang ditempelkan pada kopi luwak produksi Rancakalong ini adalah Prabu Arabica. Produk ini berhasil dijual sebanyak 100 bungkus perbulannya yang didistribusikan ke berbagai outlet di Sumedang dan luar Sumedang. WAN
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger