' Iklan Pengobatan Nonmedis Risaukan Praktisi Kesehatan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Iklan Pengobatan Nonmedis Risaukan Praktisi Kesehatan

Iklan Pengobatan Nonmedis Risaukan Praktisi Kesehatan

Written By dodi on Wednesday, October 31, 2012 | 7:00 AM

BOGOR - Kalangan dokter atau praktisi kesehatan meminta agar penayangan sejumlah iklan pengobatan alternatif nonmedis yang muncul di televisi dan media massa lainnya harus dihentikan. Pasalnya, iklan itu tidak memiliki izin dari Menteri Kesehatan (Menkes). Sehingga dikhawatirkan akan menyesatkan masyarakat yang hendak mengobati penyakitnya.

Peringatan disampaikan tim yang terdiri dari unsur IDI, Kementerian Kesehatan, Badan Pengawasan Obat dan Makanan, serta Dinas Kesehatan DKI Jakarta kepada Komisi Penyiaran Indonesia, pertengahan Agustus lalu. ”Tapi, beberapa iklan masih muncul terus,” ujar Sekretaris Bidang Kajian Pengobatan Tradisional/Komplementer Pengurus Besar Ikatan Dokter Indonesia (IDI), Aldrin Neilwan P, kepada wartawan, akhir pekan lalu.

Penertiban berdasarkan Peraturan Menteri Kesehatan Nomor 1787 Tahun 2010 tentang Iklan Kesehatan. Iklan itu, antara lain, menawarkan pengobatan alternatif ala Tiongkok. Pelanggaran yang dilakukan pada iklan adalah menjanjikan kesembuhan. "Dalam dunia kedokteran, hal seperti ini melanggar etika,” kata Aldrin yang juga Kepala Unit Pengobatan Komplementer Alternatif RS Kanker Dharmais.

Di Surabaya, iklan itu sudah dilarang. Namun, di daerah lain belum ada penindakan. Iklan pelayanan kesehatan tradisional, menurut pengamatan Aldrin, marak tidak hanya di televisi, tetapi juga media cetak. Iklan itu berlebihan, menggunakan terminologi medis yang tidak berdasar, berani menjamin penyembuhan, dan menyimpang dari peraturan yang berlaku.

Praktik pengobatan dilakukan tertutup karena belum berizin. Konsumen atau masyarakat yang dirugikan tidak melapor. "Pengobatan alternatif nonmedis di Indonesia dapat mencapai puluhan karena tiap suku memiliki warisan tradisional dalam pengobatan dengan metode sederhana dan ramuan dari bahan alam yang khas," papar Listyani Wijayanti, Deputi Kepala Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi Bidang Agroindustri dan Bioteknologi.

Keberadaan dan keragaman jenis pelayanan kesehatan tradisional komplementer di Indonesia perlu ditata dan terintegrasi dalam sistem sehingga dapat dipertanggungjawabkan dan memberi perlindungan kepada konsumen. Dari sekian banyak pengobatan tradisional, ada tiga yang dapat diintegrasikan dalam sistem pelayanan kesehatan, yakni akupuntur, hiperbarik, dan penggunaan herbal.

Integrasi pengobatan tradisional ke sistem pelayanan direkomendasikan oleh Organisasi Kesehatan Dunia (WHO) karena keterbatasan pelayanan kesehatan medis dan rendahnya daya beli. Pelayanan pengobatan tradisional ini tanpa standar, baik metode, tenaga, maupun fasilitas, sehingga berpotensi membahayakan masyarakat. Saat ini disusun rencana peraturan pemerintah tentang pengobatan tradisional yang, antara lain, mengatur standardisasi. CPS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger