' Waduk Setupatok Menyusut Ribuan Hektar Sawah Terancam Gagal Panen - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Waduk Setupatok Menyusut Ribuan Hektar Sawah Terancam Gagal Panen

Waduk Setupatok Menyusut Ribuan Hektar Sawah Terancam Gagal Panen

Written By dodi on Wednesday, September 5, 2012 | 8:00 AM


KAB CIREBON (LJ) – Seluas 2000 hektar lebih lahan sawah yang berada di lima kecamatan terancam gagal panen akibat menyusutnya Waduk Setupatok, di Kecamatan Mundu Kabupaten Cirebon. Pasalnya, keberadaan waduk yang menjadi sumber utama para petani mendapatkan pasokan air kondisinya sudah mulai mengering. 

Dari jumlah tersebut, sekitar 70-80 hektar tanaman padi berusia 1,5 bulan di Kecamatan Mundu terpaksa dibiarkan mati, karena petani sulit mendapatkan sumber air alternatif untuk mengairi sawah mereka.

Salah seorang petani Desa Penpen, Kecamatan Mundu, Hadi (38) mengatakan, debit air Waduk Setupatok dengan luas sekitar 175 hektar tersebut terus menyusut sejak dua minggu lalu.

“Terakhir debit air paling tinggi awal September 2011, setelah itu terus menyusut. Sejak dua minggu lalu penyusutan semakin parah dan tidak bisa lagi mengaliri ke saluran induk Irigasi Argasunya dan Irigasi Luwung,” ujarnya kepada LINGKAR JABAR, kemarin.

Hadi menjelaskan, Irigasi Argasunya merupakan saluran air utama bagi sekitar 1.117 hektar sawah di Mundu dan sekitarnya. Sementara Irigasi Luwung mengaliri sekitar 1.034 hektar sawah di kecamatan lainnya.

Menurut dia, Waduk Setupatok memiliki kapasitas sekitar 14 juta meter kubik. Namun saat penuh, waduk itu hanya menampung 7 juta meter kubik air, sedangkan sisanya dipenuhi lumpur.“Kalau musim hujan tak hanya waduknya yang penuh, tetapi salurannya juga penuh,” ujarnya.

Berdasarkan pengamatan LINGKAR JABAR, kondisi waduk yang menjadi sumber air sawah di Kecamatan Mundu, Astanajapura, Beber, Breget, dan Harjamukti itu sekarang cukup mengkhawatirkan. Penyusutan air sudah mencapai dasar waduk, hanya terlihat sedikit genangan air di tengah waduk dengan pinggiran dasar yang mengering dan dimanfaatkan warga untuk bercocok tanam sayuran.

Sedangkan, saluran irigasi tampak benar-benar kering kerontang. Jangankan mengairi sawah, saluran tersebut bahkan tidak bisa lagi menjadi tempat hidup ikan-ikan yang ada di dalamnya. Bangkai-bangkai ikan yang biasa hidup di saluran irigasi Argasunya terlihat berserakan di dasarnya.

Kondisi kekeringan tersebut diakui juga Kuwu (Kepala) Desa Setupatok M. Yusuf. Ia mengatakan, kondisi waduk yang terus mengering membuat petani mencoba alternatif lain untuk mengairi sawah mereka.  “Petani kini mencoba mengairi sawah dengan air dari sumur pantek dengan bantuan pompa untuk padi yang umurnya diatas 50 hari,” paparnya.

Kendati demikian, sambung Yusuf, untuk mengaliri sawah dengan air sumur pantek, petani terpaksa mengeluarkan uang untuk membeli bensin sebagai bahan bakar pompa. "Untuk satu petak sawah rata-rata petani harus membeli sekitar 100 liter bensin," tukasnya. GYO/PIP (C.12)

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger