' Tekan Angka Kematian, Dinkes Cianjur Latih Dukun Beranak - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Tekan Angka Kematian, Dinkes Cianjur Latih Dukun Beranak

Tekan Angka Kematian, Dinkes Cianjur Latih Dukun Beranak

Written By dodi on Friday, September 21, 2012 | 7:00 AM

CIANJUR - Keberadaan dukun beranak tanpa dibekali pengetahuan tentang persalinan secara medis, dinilai cukup memengaruhi terhadap angka kematian ibu (AKI) dan angka kematian bayi (AKB). Oleh karena itu, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Cianjur terus berupaya mendorong agar keberadaan paraji (dukun beranak) liar bisa ditekan.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Cianjur Gusti Ariono mengungkapkan, bahwa pihaknya sengaja melakukan upaya pendekatan terhadap paraji melalui bidan-bidan desa. Hasilnya, ada sebanyak 80 paraji yang telah dibina dan memiliki keterampilan persalinan secara medis.

"Apalagi untuk wilayah selatan, masih banyak memang masyarakat yang menggunakan jasa paraji. Makanya dari 600 orang bidan tersebar di seluruh wilayah Cianjur, 300 orang di antaranya bertugas di wilayah selatan," kata Otwin kepada wartawan, Kamis (21/9).
Adanya pembinaan terhadap paraji, menurut Otwin, memang sangat berpengaruh terhadap menurunnya tingkat AKI/AKB di Kabupaten Cianjur.

Saat ini tingkat AKI di Cianjur sebanyak 24 orang per 1.000 orang. "Sementara secara nasional, tingkat AKI ditarget 20 orang per 1.000 orang. Artinya, AKI di Cianjur terbilang bagus, karena hampir mendekati target nasional. Kalau tahun lalu memang tergolong jelek. di Jawa Barat, kita berada di peringkat bawah," tukasnya.

Sementara itu, Ketua Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Kabupaten Cianjur Yana Rosdiana Muchtar mengungkapkan bahwa kasus aborsi di Kabupaten Cianjur cukup meningkat akhir-akhir ini. Disinyalir, kebanyakan pelaku aborsi berusia anak sekolah menengah pertama (SMP) dan SMA.

Dia membeberkan fakta tersebut. Secara data memang Yana mengaku tak memilikinya secara rinci. Namun secara fakta, P2TP2A kerap mendapatkan informasi tersebut. "Sebetulnya kita (P2TP2A) hanya memfasilitasi, karena yang menangani kasus abrosi adalah pihak kepolisian. Fakta mengenai kasus aborsi sendiri kami mendapatkan laporannya dari pihak kepolisian. Jadi secara data kami tak memiliki," kata Yana.

Yana menuturkan, pelaku praktik aborsi disinyalir merupakan dukun beranak (paraji). Sekali aborsi, biayanya bisa mencapai Rp5juta, tergantung usia kehamilan. "Menurut informasinya, tahun ini kasus aborsi memang cukup meningkat dengan korbannya anak-anak usia sekolah SMP dan SMA di Cianjur akibat seks bebas," sebutnya.

Yana pun mengharapkan peran serta bidan, terutama yang berada di wilayah Cianjur selatan dalam menangani kasus dugaan aborsi.
"Kami khawatir jika tidak ada bentuk pengawasan, maka akan semakin marak kasus aborsi di Cianjur. Kami juga mewanti-wanti kepada para anak usia remaja untuk tidak melakukan seks bebas," ujarnya. GUS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger