' Tari Wayang, Populer Sejak Masa Syekh Syarif Hidayatullah - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Tari Wayang, Populer Sejak Masa Syekh Syarif Hidayatullah

Tari Wayang, Populer Sejak Masa Syekh Syarif Hidayatullah

Written By Prast on Friday, September 7, 2012 | 9:00 AM

LINGKAR JABAR - Tari wayang mulai dikenal masyarakat pada masa kesultanan Cirebon pada abad ke-16 oleh Syekh Syarif Hidayatullah, yang kemudian disebarkan oleh seniman keliling yang datang ke daerah Sumedang, Garut, Bogor, Bandung dan Tasikmalaya.

Berdasarkan segi penyajiannya tari wayang dikelompokkan menjadi 3 bagian antara lain Tari Tunggal, sebuah tarian yang dibawakan oleh satu orang penari dengan membawakan satu tokoh pewayangan. Contohnya Tari Arjuna, Gatotkaca, dan lain-lain.

Tari berpasangan, yaitu tarian yang dibawakan oleh dua orang penari atau lebih yang keduanya saling melengkapi keutuhan tariannya, contoh Tari Sugriwa, Subali dan lain-lain. Kemudian Tari Massal yang berjumlah lebih dari satu penari dengan tarian atau ungkapan yang sama. Contoh Tari Monggawa dan Badaya.

Tari wayang memiliki tingkatan atau jenis karakter yang berbeda misalnya karakter tari pria dan wanita. Karakter tari wanita terdiri dari Putri Lungguh untuk tokoh Subadra dan Arimbi serta ladak untuk tokoh Srikandi.

Sedangkan karakter tari pria terdiri dari Satria Lungguh untuk tokoh Arjuna, Abimanyu, dan Arjuna Sastrabahu. Satria Ladak Lungguh untuk tokoh Arayana, Nakula dan Sadewa, Satria Ladak Dengah/Kasar untuk tokoh Jayanegara, Jakasono, Diputi Karna dan sebagainya.

Selanjutnya, Monggawa Dengah/Kasar seperti Baladewa dan Bima, Monggawa Lungguh seperti Antareja dan Gatotkaca, Denawa Raja seperti Rahwana dan Nakula Niwatakawaca.

Secara garis besar, jika dilihat dari segi koreografinya tari wayang memiliki tiga gerakan utama yaitu Pokok ialah patokan tarian, gerak tersebut antara lain adeg-adeg, jangkung ilo, mincid, keupat, gedut, kiprahan, tindak tilu, engkek gigir, mamandapan, dan calok sembahan

Peralihan ialah gerak sebagai sisipan yang digunakan sebagai peralihan dari gerak satu ke gerak yang lainnya. Misal cindek, raras, trisi dan gedig. Khusus ialah gerak secara spesifik yang terdapat pada tari tertentu. (*)
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger