' Perdarahan di Saluran, Salah Satu Penyakit Berbahaya - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Perdarahan di Saluran, Salah Satu Penyakit Berbahaya

Perdarahan di Saluran, Salah Satu Penyakit Berbahaya

Written By dodi on Monday, September 3, 2012 | 8:00 AM

BOGOR - Ketua Perhimpunan Dokter Spesialis Penyakit Dalam Indonesia (PAPDI), Prof.Idrus Alwi, Sp.PD, mengungkapkan perdarahan pada saluran cerna bisa dikategorikan dalam penyakit yang sering menjadi penyebab pasien dibawa ke unit gawat darurat (UGD). Dampak penyakit ini bisa membahayakan keselamatan jika terkena organ tubuh lain. Perdarahan pada saluran cerna bisa terjadi di mana saja sepanjang saluran pencernaan, mulai dari mulut sampai anus. Penyebabnya pun beragam.

Menurut dia, penyebab perdarahan saluran cerna bagian atas bisa karena varises esofagus atau juga karena tukak peptikum yang disebabkan adanya kerusakan pada mukosa lambung atau usus dua belas jari akibat adanya asam lambung yang normalnya ada di lambung dalam proporsi tertentu.

Varises esofagus adalah pembesaran abnormal pembuluh darah vena di esofagus bawah. Biasanya varises esofagus tidak bergejala, kecuali jika sudah robek dan berdarah. Gejala akibat perdarahan esofagus antara lain buang air kehitaman, muntah darah, tekanan darah turun, sampai anemia.

Perdarahan juga bisa disebabkan karena infeksi Helicobacter Pylori yang ditularkan melalui makanan dan minuman, serta penggunaan obat-obatan yang merusak dinding lambung. Gejalanya pun berbeda-beda. Pada perdarahan di saluran cerna bagian atas seperti lambung atau usus dua belas jari, gejala yang umum adalah muntah darah hitam yang keluar bercampur asam lambung (hematemesis), dan buang air besar kehitaman (melena).

"Pada perdarahan akubat tukak peptikum bisa dilakukan pemeriksaan endoskopi sehingga luka atau sumber perdarahan dapat dideteksi dan dihentikan dengan hemoklip," kata dr.Chaidir Aulia, Sp.PD, dari RS.Pondok Indah Jakarta, dalam siaran pers yang diterima sejumlah media massa, akhir pekan kemarin, terkait dengan dengan pelaksanaan acara pertemuan ilmiah tahunan PAPDI .

Sementara itu pada sebagian besar kasus dispepsia yang bergejala nyeri ulu hati, mual, muntah, kembung, pengobatan bisa dilakukan dengan empirik terapi atau obat-obatan selama 4-6 minggu. "Bila keluhan berlanjut, sebaiknya bisa dirujuk ke dokter spesialis penyakit dalam. Demikian juga bila ada gejala berbahya seperti turunnya berat badan, anemia, buang air kehitaman, atau pasien berusia di atas 45 tahun," paparnya.

Sementara itu perdarahan pada saluran cerna bawah, misalnya pada kasus hemoroid atau keganasan. "Darah segar yang keluar dari anus bisa merupakan hemoroid atau robekan di anus," kata dr.Chaidir. Penanganan hemoroid bisa bermacam-macam tergantung pada stadiumnya. CPS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger