' Peningkatan Gizi Anak di Jabar Terhambat Aturan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Peningkatan Gizi Anak di Jabar Terhambat Aturan

Peningkatan Gizi Anak di Jabar Terhambat Aturan

Written By dodi on Tuesday, September 25, 2012 | 7:00 AM


BANDUNG - Gubernur Jawa Barat (Jabar) Ahmad Heryawan, mengungkapkan, bahwa Pemprov Jabar tahun ini menganggarkan Rp10 miliar untuk pengadaan susu anak, khususnya di pedesaan dan kawasan terpencil. Namun program yang bertujuan untuk meningkatkan gizi dan kesehatan anak-anak di Jabar, itu harus tertunda atau belum bisa dilaksanakan karena terkendala aturan berupa lelang tender.

"Terus terang Pemprov sudah menganggarkan Rp10 miliar untuk susu anak-anak. Tetapi tidak bisa dilaksanakan karena harus pakai tender. Kita kan inginnya membela peternak. Nah, peternak mau ikut tender gimana," kata Heryawan usai Peringatan Hari Anak Nasional Tingkat Provinsi Jawa Barat 2012 di Gedung Sasana Budaya Ganesa (Sabuga), Kota Bandung, Senin (24/9).

Menurut dia, keinginan untuk membela peternak dan menyehatkan anak-anak kadangkala terhambat aturan main. Saat akan diimplementasikan, ternyata harus ada tender sehingga tidak bisa diikuti peternak lokal. "Anggaran Rp10 miliar ini cukup besar. Siapa yg mau ikut tender? Akhirnya yang ikut peternak besar. Akhirnya malah tidak jadi lagi. Mengeluarkan uang itu tidak ada cara lain karena ada aturannya," paparnya.

Uang pengadaan susu itu, lanjut Heryawan, akhirnya dipakai untuk kegiatan pembangunan yang lain. "Kalau dipakai untuk kesehatan lagi, anggarannya cukup memadai dan sudah bagus. Bayangkan tahun 2008, anggaran kesehatan itu 1,5% dari volume anggaran. Sekarang sudah 10% atau naik sudah naik 700%," ucapnya.

Dalam kesempatan itu, Gubernur Heryawan mengaku bangga terhadap anak Jabar. Saat ini, anak Jabar sudah relatif baik dan sehat.
"Gizi buruk dan gizi rendah masih ada, tetapi secara umum sudah pada posisi baik dan perlu ditingkatkan bersama-sama," kata politisi dari Partai Keadilan Sejahtera (PKS) itu.

Menurutnya, persoalan gizi buruk bisa terjadi karena pengetahuan, bukan karena persoalan ekonomi. "Ada orang yang ingin kasih nasi dan kurupuk, mie instan, karena anaknya lahap. Tetapi sebenarnya tidak bergizi. Pola konsumsi begitu kan salah. Padahal ada mujair, ayam, sehingga mereka perlu diadvokasi," tandasnya.

Gubernur juga sempat menyindir sikap dan perilaku sebagian ibu di masa kini yang lebih memilih memberikan susu sapi dibandingkan mengupayakan air susu ibu (ASI). Padahal ASI sudah kodratnya wajib diberikan kepada anak sebagai nutrisi dan daya tahan tubuh bayi. "Air susu itu ASI, bukan susu sapi. ASI itu untuk anak, air susu sapi untuk anak sapi. Kenapa anak kita diberikan susu sapi," ujarnya.

Dia menginginkan anak Jabar tidak kehilangan momentum mendapatkan hak ASI. Untuk itulah, Heryawan menginginkan semua perkantoran memiliki pojok laktasi dan tempat penitipan anak (TPA) sehingga ibu pekerja bisa memberikan ASI kepada anaknya. "Semua lembaga harus melindungi anak kita. Tidak boleh ada lagi ibu tidak memberikan ASI karena bekerja. Sekarang ibu bisa memberikan ASI di pojok laktasi dan TPA," pungkasnya. FER
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger