' Luas Lahan Berkurang, Poduksi Kakao Menyusut - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Luas Lahan Berkurang, Poduksi Kakao Menyusut

Luas Lahan Berkurang, Poduksi Kakao Menyusut

Written By Prast on Thursday, September 6, 2012 | 10:58 PM

BANDUNG - Dalam beberapa tahun terakhir, produksi kakao di Jabar menyusut akibat anomali cuaca dan menurunnya luas lahan. Berdasarkan catatan, katanya, pada 2011 total produksi kakao di Jabar mencapai 1.999 ton. Jumlah tersebut, lebih rendah sekitar 50% dibandingkan pencapaian 2010 sebesar 3.939 ton.

"Dalam beberapa tahun terakhir memang produksi kakao menyusut karena berbagai faktor,"
kata Kepala Bidang Produksi Dinas Perkebunan Jabar Hendi Jatnika kepada wartawan di kantornya Jalan Surapati 67 Kota Bandung, Rabu (5/9).

Menurut Hendi, salah satu penyebab berkurangnya produksi kakao adalah penyusutan lahan. Saat ini, lahan perkebunan kakao mencapai 10.702 hektare, dengan rincian Perkebunan Rakyat (PR) 7.760 hektare, Perkebunan Besar Swasta (PBS) 2.624 hektare dan Perkebunan Besar Negara (PBN) 318 hektare.

Luas lahan tersebut, lanjutnya, akan semakin berkurang mengingat PTPN berencana menghentikan penanaman kakao pada tahun ini. Padahal, BUMN ini merupakan salah satu kontributor terbesar produksi kakao. "Mau tidak mau produksi kakao akan semakin berkurang, karena pihak PTPN salah satu kontributor kakao terbanyak tidak akan lagi menanam," katanya.

Selain penyusutan lahan, penyebab penurunan produksi adalah cuaca ekstrem. Produksi kakao akan baik pada musim kemarau dan sebaliknya produksi akan buruk pada musim hujan. "Pada saat musim hujan biasanya kakao rentan terhadap penyakit sehingga menurunkan produksi," jelasnya.

Hendi memaparkan penurunan produksi juga akan dibarengi dengan penurunan kualitas kakao. Sebab, hasil panen kakao dari petani tidak memenuhi standar permintaan pasar. Dia menilai sebagian besar produksi kakao dari petani rakyat belum terfermentasi.

Padahal pihak konsumen baik dari perusahaan lokal maupun luar negeri menginginkan kakao hasil fermentasi. "Pasarnya kurang meminati karena tanpa fermentasi. Saat ini, harga kakao non fermentasi dari petani rakyat sebesar Rp23.000/kg sedangkan terfermentasi sebesar Rp24.000/kg," pungkasnya. (FER)
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger