' Gunakan Bahan Peledak Aktivitas PT. MKS Dikeluhkan Warga - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Gunakan Bahan Peledak Aktivitas PT. MKS Dikeluhkan Warga

Gunakan Bahan Peledak Aktivitas PT. MKS Dikeluhkan Warga

Written By dodi on Thursday, September 6, 2012 | 8:00 AM


KAB CIREBON (LJ) – Warga Blok Benggoi Desa Kepuh, Kecamatan Palimanan Kabupaten Cirebon keluhkan aktivitas galian C yang dilakukan PT Multi Karya Sentosa (MKS) perusahaan pengilingan batu. Pasalnya, dalam pelaksanaan pengambilan bahan baku batu di Bukit Benggoi, pihak perusahaan mengunakan bahan peledak jenis dinamit dengan skala besar, akibatnya rumah warga tak jauh dari lokasi ledakan mengalami retak-retak.

Seperti diungkapkan ND, warga Desa Kepuh Blok Benggoi, setiap hari warga disini harus mendengarkan ledakan keras dari lokasi galian yang dilakukan PT MKS. Bahkan, aktivitas di perusahaan itu tidak mengenal waktu, karena hampir 24 jam mesin dan ledakan dinamit terus berjalan. "Wajar saja jika kami dan warga yang ada disini mengeluh adanya perusahaan tersebut," ungkapnya kepada LINGKAR JABAR, kemarin.

Selain itu, kata dia, akibat kerasnya ledakan di lokasi tambang, sekitar 300 rumah milik warga menjadi rusak dan retak. Belum lagi gemuruh suara mesin pengilingan batu yang setiap saat mengganggu kenyamanan lingkungan. "Bagi kami sudah jelas sangat merugikan sekali. Makanya kami minta pemerintah segera menghentikan kegiatan perusahaan itu," paparnya.

Tak hanya persoalan di lokasi tambang maupun pabrik, wargapun merasa terganggu dengan aktivitas kendaraan yang membawa hasil galian dan pabrik di perusahaan tersebut. Terlebih kendaraan yang melintas diwilayahnya itu dengan kapasitas muatan melebihi tonase merusak jalan. "Lihat saja kondisi jalan desa ini sekarang menjadi rusak. Itu akibat sering dilalui kendaraan membawa hasil galian di PT MKS yang melebihi tonase," jelas ND.

ND pun mempertanyakan persoalan ijin penggunaan peledak dinamit yang dilakukan perusahaan. Kenapa, karena warga yang pemukimannya tak jauh dari lokasi pabrik merasa tak pernah mendapat surat pemberitahuan atau permintaan ijin dari perusahaan.  "Harusnya ada laporan maupun minta ijin terlebih dulu kepada kami sebagai warga dari perusahaan untuk pengunaan dinamit. Untuk itu patut dipertanyakan juga ijin gangguan dan penggunaan bahan ledakan itu dari pihak pemerintah maupun aparat terkait," ujarnya. 

Upaya yang sudah warga lakukan terhadap perusahaan itu, yakni dengan mengelar aksi penutupan akses jalan masuk kelokasi PT MKS tanggal 12 Mei 2012 lalu. Sekitar 250 warga turun kejalan dan mendesak pihak perusahaan untuk menghentikan kegiatan yang dirasakan mengganggu dan bertangungjawab atas semua kerugian.

 "Dua hari setelah melakukan aksi, Lim Piter Direktur PT MKS menemui kami dan warga dengan mengelar musyawarah di Aula Desa Kepuh. Tapi saat musyawarah pihak perusahaan menolak tuntutan warga tentang penghentian aktivitas ledakan, alasannya tanpa mengunakan bahan peledak perusahaan tak bisa produksi," jelasnya.

Hal senada juga diutarakan YN, perwakilan warga lainnya yang mengaku telah melayangkan surat aduan pengunaan bahan peledak kepada DPRD Kabupaten Cirebon tanggal 15 Mei 2012 atau satu hari setelah melakukan musyawarah dengan Direktur PT MKS. Wakil rakyat yang menerima surat pengaduan warga langsung memanggil Muspika setempat, mulai camat, kuwu atau kepala desa, Polsek serta perwakilan warga. 

"Yang menampung aspirasi keluhan kami, dewan dari Komisi III. Dan pemanggilan terhadap Muspika dilakukan tanggal 16 Mei," terangnya.

Usai memanggil, anggota dewan langsung mengajak Muspika dan warga melihat aktivitas perusahaan saat mengunakan bahan peledak. Akhirnya pihak perusahaan bersedia membuat surat pernyataan tertulis dan menerima masukan serta tuntutan warga yang berisi, pihak perusahaan boleh mengunakan alat peledak. Namun lanjutnya, apabila terjadi dampak yang merugikan warga maka pihak perusahaan akan bertangungjawab. 

"Nah perusahaanpun berjanji tak akan melakukan peledakan lagi serta izinnya akan dicabut. Tapi sayangnya surat pernyataan itu tak berlaku, sebab perusahaan masih terus melakukan aktivitas walaupun warga mengeluhkannya," tukas YN. App/gyo (C12)


Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger