' Akseptor KB Drop Out di Karawang Sangat Tinggi - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Akseptor KB Drop Out di Karawang Sangat Tinggi

Akseptor KB Drop Out di Karawang Sangat Tinggi

Written By dodi on Wednesday, September 26, 2012 | 7:00 AM

KARAWANG - Angka drop out (DO) akseptor keluarga berencana (KB) dengan metoda hormonal di Kabupaten Karawang sangat tinggi, yakni dari 363.769 akseptor KB hanya 15% yang aktif. Dampaknya, laju pertumbuhan penduduk di daerah lumbung padi ini pun tinggi. Apalagi, merujuk pada angka kelahiran yang masih belum bisa diminimalisasi. Yakni, mencapai 60 ribu per tahun.

“Akseptor KB yang menggunakan metoda hormonal masih cukup tinggi. Yaitu, 85 % dari total jumlah akseptor. Metoda hormonal ini, meliputi akseptor yang menggunakan pil dan suntik KB. Dengan tingginya pengguna metoda ini, maka tinggi pula potensi resiko drop out. Mengingat, potensi DO ini akan menambah tinggi angka kelahiran,” papar Kepala Badan Keluarga Berencana dan Pemberdayaan Perempuan Kabupaten Karawang Asep Hidayat Lukman kepada wartawan, Selasa (25/9).

Dia mengatakan banyaknya akseptor yang menggunakan metoda hormonal maka kualitas KB semakin rendah. Mengingat, akseptor dengan metoda ini, sifatnya jangka pendek. Bila mereka lupa tidak mengkonsumsi pil atau disuntik KB, maka potensi untuk hamil sangat besar.

Dengan begitu, metoda ini memiliki kualitas yang rendah. Terutama, kaitannya dengan program meminimalisasi laju pertumbuhan penduduk. Berbeda dengan akseptor pengguna metoda jangka panjang, yang kualitasnya bagus. Adapun KB dengan metoda jangka panjang, yaitu, IUD, Inplant, MOW dan MOP.

Pasalnya, KB jenis ini bisa menahan kehamilan dalam waktu yang cukup panjang. Antara lima hingga 10 tahun. Namun, sayangnya di Karawang akseptor KB dengan metoda jangka panjang masih sedikit. Hanya sembilan persen dari total akseptor yang aktif.

Selain permasalahan akseptor hormonal, sambung dia, masalah lainnya yaitu masih banyaknya pasangan usia subur yang belum menjadi akseptor KB aktif. Jumlah pasangan usia subur (PUS) mencapai 517.771. Akan tetapi, akseptor yang aktif hanya 363.769 atau hanya 70,26 persen dari total PUS.

Menurut dia, kasus ini menjadi pekerjaan rumah (PR) bagi pemerintah. Sebab, semakin rendahnya minat PUS untuk menjadi akseptor, maka dampaknya semakin tinggi laju pertumbuhan penduduk. Dengan begitu, bila tak dicegah sejak dini akan terjadi ledakan penduduk yang cukup dahsyat.

Seperti di Karawang, angka kelahiran rata-rata 60.000/tahun atau sekitar 2,8% dari total penduduk Karawang yang jumlahnya 2,1 juta jiwa. Padahal, idealnya angka kelahiran ini harus di bawah 1%. “Untuk itu, pada 2015 mendatang Badan KB dan Pemberdayaan Perempuan menargetkan 25% akseptor harus menggunakan KB dengan metoda jangka panjang. Supaya, laju pertumbuhan penduduk bisa dikendalikan,” jelasnya. INC
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger