' Wajib Beli Buku LKS, Kepala Sekolah se-Cirebon Menjerit - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Wajib Beli Buku LKS, Kepala Sekolah se-Cirebon Menjerit

Wajib Beli Buku LKS, Kepala Sekolah se-Cirebon Menjerit

Written By dodi on Monday, August 6, 2012 | 8:00 AM

KAB.CIREBON (LJ) - Kalangan Kepala Sekolah Dasar (SD), Menengah Pertama (SMP) dan Menengah Atas (SMA) menilai buku Lembar Kerja Siswa ( LKS ) yang sudah berganti nama yaitu FORPAK (Format Fembelajaran Aktif dan Kreatif) yang sekarang marak beredar di sekolah-sekolah se-Kabupaten Cirebon, tak lebih sebagai 'Racun'. Pasalnya, LKS tersebut saat ini justru digunakan sebagai dasar atau pedoman oleh sebagian bahkan hampir seluruh guru dalam  mengajar kepada siswa, sementara buku-buku BSE sebagai pedoman yang telah tersedia dikesampingkan dan malah tidak digunakan.

"Sehingga keberadaan buku-buku BSE yang seharusnya menjadi pedoman guru dalam kegiatan belajar mengajar dapat dikatakan mubazir, bahkan hanya sebagai pajangan saja," ungkap seorang Kepala Sekolah (Kepsek) Dasar yang enggan disebutkan namanya di pemberitaan, kemarin. Karenanya, sang Kepsek mengimbau kepada Dinas Pendidikan Kab.Cirebon agar menghapuskan kebijakan penggunaan LKS tersebut.

Apalagi, dengan pembelian LKS itu sangat memberatkan para Kepsek dari sisi anggaran. "Terlebih, setiap 6 bulan sekali kami harus membayar buku LKS dari anggaran dana BOS. Disisi lain guru-guru semakin malas menggunakan buku-buku BSE sebagai pedoman pegangan dalam mengajar pada anak didiknya. Karena itu, Dinas Pendidikan harus segera menghapuskan kebijakan pembelian LKS," tegas Kepsek tersebut.

Menanggapi hal itu, pemerhati pendidikan sekaligus ketua LSM Peduli Pendidikan dan Kesehatan Kabupaten Cirebon, Herman, mengaku setuju dengan pendapat kepala sekolah dan mendukung sepenuhnya keinginan para kepala sekolah agar LKS dihapuskan atau dihentikan peredarannya. Karena, menurut Herman, keberadaan LKS tersebut dapat meracuni para guru terutama tugas guru sebagai pendidik dan pengajar di sekolah.

Lebih jauh Herman mempertanyakan untuk apa ada buku-buku BSE kalau guru-guru dalam mengajar anak didiknya selalu menggunakan atau berpedoman pada LKS. Ditambah lagi sudah ada uji sertifikasi atau uji kompetensi guru. "Kan salah satu tujuan sertfikasi atau uji kompetensi tersebut adalah untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia( SDM ) guru. LKS memang betul harus ada, tapi LKS tersebut harus dibuat langsung oleh guru mata pelajaran di sekolah tersebut bukan yang dibuat dari penerbit atau percetakan," imbuhnya.

Terkait buku LKS tersebut, Kepala Dinas Pendidikan kabupaten Cirebon Drs.H.Kusnadi Muamarto MM, yang berhasil dikonfirmasi LINGKAR JABAR, mengatakan pihak sekolah dilarang memaksakan kehendak para orang tua siswa agar mau membeli buku LKS apalagi terhadap orang tua atau siswa yang tidak mampu. Selain itu, menurut Kusnadi, pihak sekolah atau guru-guru dalam mengajar harus lebih mengutamakan menggunakan buku-buku BSE ketimbang buku-buku LKS karena buku LKS tersebut hanya sebagai penunjang saja.

Di lain pihak, Kabid Disdik Kabupaten Cirebon, H.Athohillah, menyatakan sependapat dengan para kepala sekolah bahwa buku LKS adalah “Racun“. Sebab LKS itu memang harus ada, tapi wajib dibuat oleh guru mata pelajaran di sekolah. Jadi bukan LKS yang dibuat oleh penerbit atau percetakan. Dan untuk anggarannya sendiri, sudah ada dalam dana BOS baik untuk biaya pembuatan LKS maupun untuk penggandaan maupun untuk hal-hal yang lain.

Dia juga mengaku pihaknya sangat melarang peredaran LKS yang di buat oleh penerbit dan bila masih beredar pihaknya tidak akan segan-segan menindaknya apalagi pihak sekolah yang masih menjual LKS kepada siswanya. "Kami akan menindaknya," ujarnya dengan tegas. WAS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger