' Tradisi Sahur Bareng di Musholah Hilang - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Home » , » Tradisi Sahur Bareng di Musholah Hilang

Tradisi Sahur Bareng di Musholah Hilang

Written By dodi on Wednesday, August 8, 2012 | 8:00 AM

KAB. CIREBON (LJ) – Kebiasaan sahur bareng di musholah dan masjid yang di lakukan oleh anak-anak dan remaja tanggung di perkampungan wilayah Cirebon kini telah hilang. Bahkan tradisi tersebut sudah tidak di temukan lagi di perkampungan  wilayah Cirebon. Mereka lebih memilih makan sahur di rumah masing-masing atau di warung.

"Dulu sewaktu saya kecil kalau habis buka puasa, siap-siap mengambil nasi ke dalam rantang beserta botok tempe, botok tahu, tempe goreng atau tahu goreng, dadar atau lauk kering lainnya yang ditaruh di atas nasi. Setelah ditutup, rantang dibungkus sapu tangan berukuran besar," kata Edi (50), seorang warga Kelurahan Pesalakan, Kecamatan Sumber kepada LINGKAR JABAR, Selasa (7/8).

Menurut dia, nasi beserta lauk dalam rantang tersebut dibawa saat pergi shalat isya dan tarawih di mushalah. Bekal itu dikumpulkan di salah satu sudut mushalah bersama dengan milik rekan-rekan lainnya yang tentunya dari luar memiliki tanda masing-masing agar tidak tertukar.

Anak-anak serta remaja tanggung, lanjut Edi, semuanya menginap di mushalah setelah ikut tadarus Alquran. Pada jam 03.00 WIB dini hari dibangunkan oleh guru ngaji. Kemudian mengambil masing-masing bekal dan makan sahur bersama. "Tradisi anak-anak di kampung itu sudah hilang sejak dua puluh tahun terakhir, akibat berbagai hal," kata Ustadz Ahmad Rifa'I kepada LINGKAR JABAR, Selasa (7/8).

Menurut dia, hilangnya tradisi tersebut beriringan dengan semakin tiadanya budaya mengaji Alkuran di mushalla/tajug pada saat habis magrib dan usai shalat subuh. Kini anak-anak dan remaja tanggung lebih suka menonton televisi, main playstation atau muter-muter naik motor tanpa tujuan yang jelas. "Mereka yang belajar mengaji Alquran di rumah-rumah guru ngaji juga tidak terlalu banyak. Saya prihatin saja atas kondisi belakangan ini," katanya.

Sementara itu, pemerhati sosial, Ichwan Mulyana mengatakan, dalam tradisi makan sahus bareng tersebut ada kebersamaan di antara anak-anak. Karena, dengan membawa bekal masing-masing dari rumah memiliki tanggungjawab bersama pula untuk menjaga makanan tersebut dari ulah tangan usil maupun gangguan tikus atau kucing.

Disebutkan, ada kebersamaan dan kekeluargaan di antara mereka. Misalnya, ketika ada seorang teman yang lauknya dimakan kucing akibat kurang rapi menutup bekal, rekan lainnya dengan suka rela memberikan sebagian nasi dan lauk untuk rekan yang kehilangan bekal tadi. "Sayang, tradisi yang sebenarnya sarat nilai-nilai luhur itu sudah sirna ditelan zaman," kata Ichwan. GYO/HEN (C.12)

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger