' Tari Ronggeng Buyung, Seni Pemikat Dari Indramayu - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Home » » Tari Ronggeng Buyung, Seni Pemikat Dari Indramayu

Tari Ronggeng Buyung, Seni Pemikat Dari Indramayu

Written By dodi on Tuesday, August 7, 2012 | 8:00 AM

Tari Ronggeng Buyung merupakan salah satu jenis tarian khas daerah Indramayu. Tari Ronggeng Buyung, oleh masyarakat Indramayu juga dikenal dengan nama Sintren. Nama Sintren sendiri diambil dari kosakata belanda “Sinyo Trenen” “Sinyo” yang berarti “Pemuda,” dan “Trenen” yang berarti “berlatih”. Jadi, secara harfiah Sintren dapat diartikan sebagai kesenian tempat pemuda berlatih.

Tari Ronggeng buyung atau Sintren yang merupakan tarian tradisional khas Indramayu ini, sebenarnya masih dalam koridor terminologi ronggeng secara umum, yaitu sebuah bentuk kesenian tradisional dengan tampilan seorang atau lebih penari. Biasanya tarian ini dilengkapi dengan gamelan dan nyanyian atau kawih pengiring. Penari utama pada tarian ini adalah seorang perempuan yang dilengkapi dengan selendang, selain kelengkapan dalam menari, juga biasanya digunakan untuk “menggaet” lawan tari yang umumnya laki-laki untuk menari bersama dengan cara mengalungkan dilehernya.

Salah satu ciri khas ronggeng buyung yang berbeda dengan ronggeng-ronggeng lainnya adalah penarinya atau Sintrennya haruslah seorang penari yang berumur sekitar 9-11 tahun atau yang belum pernah mengalami menstruasi. Alasannya, gadis belia yang masih berumur 9-11 tahun dianggap lebih mudah kerasukan dibandingkan dengan gadis yang sudah pernah mengalami menstruasi. Adapun peralatan yang digunakan pada tarian ronggeng buyung, antara lain Dua buah Ketipung, sebuah kendang kecil, tiga buah ketuk, kecrek, Goong dan dua buah buyung atau juru atau klenting (wadah untuk mengambil air).

Selain waditra, perlengkapan lain yang biasa digunakan pada ronggeng buyung adalah sebuah kurungan ayam yang ditutup dengan kain batik untuk menutupi penari saat berganti busana, dlupok (tempat membakar kemenyan), kemenyan, bunga-bungaan, minyak wangi, bunga yang diuntai, dan pakaian penari yang mirip dengan pakaian penari tari srimpi lengkap dengan kacamata hitam.

Upacara tertentu yang biasanya dipimpin oleh dalang atau pemimpin kelompok dilakukan ketika akan memulai pertunjukan Tarian khas Indramayu ini. Hal ini dilakukan untuk mengundang arwah agar agar mau memasuki tubuh sang penari. Untuk upacara pemanggilan arwah tersebut, perlengkapan yang disiapkan, antara lain kemenyan, tempat pembakaran kemenyan, bunga-bungaan dan minyak wangi.

Selanjutnya, alat pengiring ditabuh dengan membawakan alunan suara dinamis sebagai tanda dimulainya pertunjukan. Ketika pertunjukan dimulai, penari akan memasukin arena pertunjukan menggunakan pakaian sehari-hari. Kemudian oleh sang dalang atau pemimpin pertunjukan, sipenari atau sintren akan disuruh berjongkok dan ditutupi dengan kurungan ayam yang sudah dilapisi dengan kain batik.

Pada saat sintren berada didalam kurungan ayam tersebut, sinden mulai melantunkan lagu pemujaan yang berbahasa Jawa dengan diiringi oleh waditra. Setelah sang dalang menyatakan bagwa sipenari sudah dalam keadaan trance (kerasukan), kurungan akan segera dibuka. Selanjutnya, sang penari yang telah berganti pakaian dengan kostum penari srimpi lengkap dengan kacamata hitam mulai menari sambil diiringi dengan lagu Sulasi, yang kemudian dilanjutkan dengan lagu Tambak-tambak Pawon.

Setelah lagu Tambak-tambak Pawon selesai, para penonton mulai para penonton mulai nyawu (nyawer) sang sintren dengan melemparkan saputangan, baju, atau kain lainnya yang berisi uang alakadarnya sambil meminta pemain untuk menyanyikan lagu-lagu yang diinginkannya. Lagu yang dibawakan pada saat dimulai acara nyawer ini adalah lagu Ayo Ngewer-ngewer Puntren.

Apa bila penonton yang memberika saweran sudah mulai sepi, sang dalang mulai menyuruh sipenari atau sintren untuk berhenti menari lalu berjongkok untuk kemudian ditutup kembali dengan kurungan ayam yang dilapisi kain batik. Beberapa saat kemudian kurungan dibuka dan sang sintren kembali mengenakan pakaian sehari-hari, namun masih dalam keadaan tidak sadar. Untuk menyadarkanya kembali, sang dalang mengarahkan asap kemenyan dari dlupok ke arah hidung sintren agar ia siuman. Dan, dengan siumannya sang sintren, maka pertunjukan ronggeng buyung pun berakhir.

Seni sebagai ekspresi jiwa manusia sudah barang tentu mengandung nilai estetika, termasuk kesenian tradisional ronggeng buyung yang ditumbuh-kembangkan oleh masyarakat Indramayu. Namun demikian, jika dicermati secara mendalam ronggeng buyung tidak hanya mengandung nilai estetika semata, tetapi ada nilai-nilai lain yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya.

Nilai-nilai itu antara lain adalah kerja sama, kekompakan, dan ketertiban. Nilai kerja sama terlihat dari adanya kebersamaan dalam melestarikan warisan budaya para pendahulunya. Nilai kekompakan dan ketertiban tercermin dalam suatu pementasan yang dapat berjalan secara lancar. DOD
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger