' Seni Buhun Tutunggulan, Kesenian Khas Purwakarta - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Seni Buhun Tutunggulan, Kesenian Khas Purwakarta

Seni Buhun Tutunggulan, Kesenian Khas Purwakarta

Written By dodi on Wednesday, August 15, 2012 | 8:00 AM

Kesenian tradisional "Tutunggulan" sering disamakan dengan kesenian gondang, padahal pada pelaksanaannya berbeda karena kalau tutunggulan tidak diikuti dengan lagu-lagu atau pantun yang bersaut-sautan sedangkan gondang menggunakan lagu dan sisindiran. Namun alat dan sarana yang digunakannya sama yaitu alu dan lisung.

Kata tutunggulan berasal dari kata "nutu" yang artinya "menumbuk" sesuatu. Sesuatu yang ditumbuk itu biasanya gabah kering hingga menjadi beras, atau dari beras menjadi tepung. Menumbuk gabah menjadi beras tersebut biasanya dikerjakan oleh ibu-ibu antara tiga sampai empat orang dan ayunan alunya mengenai lesung yang menimbulkan suara khas, artinya dapat berirama, dengan tujuan agar tidak membosankan dalam menumbuk padi. Ini dilakukan hingga pekerjaan selesai.

Dari kebiasaan itulah akhirnya muncul seni tutunggulan hanya saja ketika dimainkan tidak menumbuk padi tetapi langsung menumbukkan alunya kepada lesung. Dari ayunan alu itu menghasilkan suara-suara sesuai dengan keinginan yang memainkannya. Konon kabarnya lagu-lagu yang ke luar dari tutunggulan ini adalah seperti; lutung loncat, oray belang, caang bulan dll. Tiap kelompok memiliki jenis lagu tersendiri.

Kesenian tutunggulan dimainkan oleh enam orang ibu-ibu dan dipertunjukkan kepada masyarakat manakala terjadinya "samagaha" atau disebut gerhana bulan di malam hari ataupun sering digunakan untuk menghadirkan warga agar hadir dalam acara musyawarah di balai desa. Belakangan, seni tradisional ini digunakan untuk menyambut tamu pada suatu upacara tertentu, biasanya upacara peresmian proyek, penyambutan tamu, dan lain-lain.

Dari mana asalnya seni buhun tutunggulan ini ? Adalah masyarakat Desa Wanayasa Kec. Wanayasa Kab. Purwakarta menjadi cikal bakal munculnya seni buhun Tutunggulan. Dan saat ini terdapat tiga kelompok pemain seni tutunggulan yang kesemuanya sudah berusia lanjut.

Untuk mempertahankan kelestarian kesenian ini, Kantor Disbudpar Kab. Purwakarta sedang mengadakan regenerasi melalui upaya ajakan terhadap anak muda dan melalui pelatihan-pelatihan di tempat terutama ditujukan kepada masyarakat di sekitar Desa Wanayasa, serta diadakannya lomba Seni Tutunggulan setiap tahunnya dengan melibatkan kecamatan-kecamatan lainnya. Upaya ini dimaksudkan untuk mengembangkan kelompok pelaku seni tutunggulan hingga akhirnya merata di seluruh wilayah Kabupaten Purwakarta. YAS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger