' Saksi Kunci Kasus Simulator SIM "Disekolahkan" - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Saksi Kunci Kasus Simulator SIM "Disekolahkan"

Saksi Kunci Kasus Simulator SIM "Disekolahkan"

Written By dodi on Thursday, August 9, 2012 | 8:00 AM

BOGOR - Misteri keberadaan Tiwi, mantan sekretaris pribadi Irjen Djoko Susilo yang disebut-sebut sebagai saksi kunci kasus korupsi Simulator SIM Korlantas Polri, perlahan mulai terkuak. Dari informasi yang diperoleh, Tiwi yang sebelumnya dikabarkan sengaja dihilangkan oleh pihak tertentu, ternyata sedang menjalani pendidikan di Sekolah Pembentukan Perwira (Setukpa) yang menginduk ke Lembaga Pendidikan dan Pelatihan (Lemdiklat) Polri di Sukabumi, Jawa Barat.

"Setahu saya dia (Tiwi, Red) sedang sekolah, jadi bukan hilang," ujar Kepala Bidang Pelaksana Pendidikan Masyarakat Lemdiklat Polri, Kombes Kilat Purwoyudo, kepada wartawan, kemarin. Menurutnya, Tiwi sedang mengikuti Setukpa yang harus ditempuh selama tujuh bulan dan jika lulus akan berpangkat Inspektur Dua (Ipda).

Mengapa mendadak sekolah? Kombes Kilat membantahnya. "Tidak mungkin mendadak, proses pendidikan itu ada seleksi, jadi memang sudah waktunya dia sekolah," katanya seraya menegaskan dirinya tak tahu apakah Tiwi sudah diperiksa penyidik Bareskrim atau belum. "Kalau soal kasusnya saya tidak tahu. Silakan rekan-rekan wartawan meminta konfirmasi ke Bareskrim," tutupnya.  

Berdasarkan informasi yang dihimpun, Tiwi bernama panjang Pratiwi, setelah menjadi sekretaris pribadi Irjen Djoko, Tiwi sempat menjadi sekretaris pribadi Kepala Korlantas sekarang Irjen Pudji Hartanto sebelum mengikuti Setukpa. Sayangnya, sejumlah teman-teman Tiwi yang sempat ditemui wartawan, mengaku tak mau berkomentar soal keseharian dan kehidupan Tiwi yang disebut-sebut sebagai sumber informasi akurat dalam kasus simulator SIM.

Secara terpisah, Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Boy Rafli Amar, memastikan Tiwi sudah dimintai keterangan. "Sudah, dia sudah diperiksa," kata Boy di Mabes Polri kemarin. Mantan Kabid Humas Polda Metro itu membenarkan Tiwi sedang sekolah di Sukabumi. "Informasi dari Korlantas memang demikian," katanya seraya menjelaskan penyidik sudah meneliti semua informasi dan keterangan dari saksi-saksi dan tersangka.

"Saksi ada 33 saksi, sedangkan tersangka ada empat orang, sudah diperiksa semua," katanya. Penyidik juga menelusuri bukti-bukti yang berhasil didapatkan. Termasuk pengakuan adanya transaksi keuangan melalui transfer perbankan. "Itu sudah dilakukan juga, tapi soal detailnya saya tidak bisa sampaikan karena itu masuk materi penyidikan. Nanti di pengadilan akan terlihat," kata Boy sambil menambahkan dalam delik pidana korupsi belum tentu ada penerimaan uang.

Sementara itu, mantan Kepala Kepolisian RI, Awaluddin Djamin, menyatakan, pihak Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) dan Polri sebaiknya bersinergi dalam menangani kasus dugaan korupsi pengadaan alat driving simulator ujian SIM. Awaludin yang menjabat sebagai Kepala Polri periode 1978-1982 mengatakan, Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pun menyarankan kedua institusi itu untuk bersinergi.

"Arahnya adalah Presiden menyarankan supaya sinergi. Saya setuju dengan Presiden. Presiden jangan campur substansi. Mereka harus sinergi, duduk bersama," kata Awaluddin seraya menyebutkan Presiden menyampaikan hal itu saat mengajak Kepala Polri Jenderal (Pol) Timur Pradopo dan Ketua KPK Abraham Samad duduk bersama seusai acara buka puasa tersebut. Awaluddin berharap kedua pimpinan institusi itu dapat menemukan jalan keluar.  "Biarkan mereka memutuskan dengan baik, yang penting tujuannya sama. Semua sama di hadapan hukum, mau Polisi atau KPK," ujarnya.

Dalam kasus ini, kedua lembaga tersebut telah menetapkan tersangka dari unsur kepolisian, yakni Gubernur Akademi Kepolisian Inspektur Jenderal (Pol) Djoko Susilo, Wakil Kepala Korlantas Brigadir Jenderal (Pol) Didik Purnomo, Panitia Pengadaan Proyek Ajun Komisaris Besar Teddy Rusmawan, dan Bendahara Korlantas Komisaris Legimo. "Kalau ada yang salah, tegakkan tanpa pandang bulu. Siapa saja, jangankan anggota, anak istri salah juga harus taat hukum. Ya, mudah-mudahan tidak ada masalah. Enggak ada itu cicak (versus) buaya," ujarnya merujuk pada perseteruan KPK dan Polri. BSR

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger