' Pengobatan Alternatif Cenderung Menyesatkan dan Tak Terjamin - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Pengobatan Alternatif Cenderung Menyesatkan dan Tak Terjamin

Pengobatan Alternatif Cenderung Menyesatkan dan Tak Terjamin

Written By dodi on Tuesday, August 14, 2012 | 8:00 AM


BOGOR - Dalam situasi terjepit serta keinginan kuat ingin sembuh dari penyakit, tak sedikit masyarakat yang nekat dan mengabaikan akal sehat. Ditambah lagi, adanya citra pengobatan medis yang relatif mahal dan lama, mereka akhirnya menerima tawaran menjalani pengobatan alternatif yang tak terjamin mutu dan keamanannya.

Menurut Ketua Yayasan Pemberdayaan Konsumen Kesehatan Indonesia (YPKKI), Marius Widjajarta, pengobatan alternatif sebenarnya tidak salah. Namun, masyarakat sekarang cenderung tidak berdaya dan minim akan pengetahuan sehingga kondisi ini membuat mereka menjadi rentan dimanfaatkan pihak tertentu. Minimnya pengetahuan dan informasi ini pada akhirnya menjadi bumerang bagi masyarakat.

Kepada wartawan baru-baru ini, Marius berpendapat, iming-iming kesembuhan yang ditawarkan dalam iklan testimoni pengobatan alternatif cukup meresahkan. Bahkan, layanan seperti ini bisa membahayakan karena masyarakat tidak mendapatkan informasi benar dan jelas, serta tidak ada jaminan keamanan dan keselamatan. Marius sendiri tidak anti terhadap pengobatan alternatif maupun tradisional. 

Sayangnya, situasi saat ini dikondisikan dalam sajian informasi yang cenderung berlebihan dan menyesatkan. "Masyarakat itu kalau sudah kepepet maka cara apa pun akan ditempuh. Saya tidak anti alternatif atau obat tradisional, saya percaya. Tapi, kalau dikondisikan seperti saat ini justru menyesatkan. Di luar negeri itu juga banyak alternatif, tapi iklannya tidak begini," katanya.

Apabila pengobatan relatif ini tidak berhasil alias penderitanya tidak kunjung sembuh, masyarakat memberikan permakluman. Oleh karena permakluman, masyarakat tidak berani melakukan pengaduan. "Masyarakat Indonesia itu sifatnya pasrah meskipun tidak rela. Mereka pasrah karena ketidaktahuan akan informasi. Harusnya Kementerian Kesehatan memberi peringatan. Apakah harus menunggu ada korban melapor baru Kemenkes bertindak?" ujarnya.

Di lain pihak, Ketua Umum Ikatan Dokter Indonesia (IDI) Dr Prijo Sidipratomo SpRad menilai, informasi menyesatkan layanan pengobatan TCM yang disiarkan media, terutama televisi, dikhawatirkan memengaruhi masyarakat yang minim akses kesehatan dan informasi. Kelompok masyarakat ini akan mudah terseret ke sana dan dirugikan.

"Penduduk Indonesia yang berpendidikan tinggi itu sekitar 18 persen. Jika informasi yang tidak benar disajikan kepada kelompok masyarakat berpendidikan maka mereka bisa memilah mana yang benar dan tidak. Tapi, bagaimana kelompok masyarakat di luar itu? Mereka bisa terseret, padahal informasinya menyesatkan," ujar Prijo. DOD
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger