' Kematian Akibat Flu Burung di Indonesia Tertinggi di Dunia - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Kematian Akibat Flu Burung di Indonesia Tertinggi di Dunia

Kematian Akibat Flu Burung di Indonesia Tertinggi di Dunia

Written By dodi on Friday, August 31, 2012 | 8:00 AM

BOGOR - Kasus flu burung yang berujung pada kematian masih sangat tinggi. Bahkan, khusus di tanah air, kematian akibat flu burung merupakan yang tertinggi di dunia. Berdasarkan catatan Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), sepanjang 2012 ada delapan kasus flu burung yang berakhir dengan kematian.

Jumlah itu paling tinggi dibandingkan dengan negara lain, seperti Banglades, Kamboja, China, Mesir, dan Vietnam. Sejak muncul kasus flu burung di Indonesia tahun 2005, total ada 159 kematian dari 191 kasus. Karenanya, hal ini menjadi fokus Kementerian Kesehatan, terutama dalam mengantisipasi penyebaran dan pencegahan penularan flu burung.

Dalam siaran persnya, baru-baru ini, Direktur Jenderal Pengendalian Penyakit dan Penyehatan Lingkungan pada Kementerian Kesehatan Tjandra Yoga Aditama, mengatakan, tingginya kematian terkait faktor virus (H5N1) dan manusia. ”Sejauh ini virus tidak berbeda dengan virus sebelumnya,” kata Tjandra.

Kementerian Kesehatan masih menganalisis kemungkinan perbedaan keganasan virus, tetapi belum ada konfirmasi. Tjandra menegaskan, belum terjadi penularan flu burung dari manusia ke manusia. Penularan masih dari kontak penderita dengan hewan sumber walau tidak selalu terdeteksi.

Penyebab kematian akibat keterlambatan mendapat pertolongan. Obat antiflu burung oseltamivir efektif jika diberikan dalam waktu 48 jam sejak gejala awal. ”Flu burung sulit dibedakan dengan flu biasa pada awalnya,” ujarnya. Tenaga kesehatan yang mendapatkan pelatihan tentang flu burung harus waspada dengan kemungkinan infeksi flu burung.

Secara terpisah, Ahli biomolekuler dari Avian Influenza-zoonosis Research Center-Universitas Airlangga, CA Nidom, mengatakan, flu burung dapat menjadi bom waktu di Indonesia. Sumber penularan, yakni unggas yang terinfeksi, masih ada dan hidup bersama dengan pembawa virus flu musiman.

"Virus-virus itu dapat bermutasi atau saling bertukar gen. Terbuka juga kemungkinan penularan H5N1 antarmanusia,” ujarnya seraya menambahkan, titik pandang dalam menghadapi flu burung di antara berbagai pemangku kepentingan harus sama, yakni menyelamatkan manusia. ”Berbagai instansi, seperti Kementerian Pertanian, harus bergerak dengan fokus sama,” katanya. CPS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger