' Dugaan Pencemaran Lingkungan Ditelusuri - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Dugaan Pencemaran Lingkungan Ditelusuri

Dugaan Pencemaran Lingkungan Ditelusuri

Written By dodi on Thursday, August 30, 2012 | 8:00 AM

KAB. BOGOR (LJ)- Meski pihak Indocement telah bersedia mengakomodir keluhan dan aspirasi masyarakat Kampung Kamurang, Desa Citereup, Kecamatan Citereup, Badan Lingkungan Hidup Daerah (BLHD) Kabupaten Bogor memastikan tetap akan turun ke Kampung Kamurang yang tercemar debu hitam. Tim BLHD berencana mengambil sampel debu hitam untuk mengetahui sumber debu hitam sekaligus memastikan ada atau tidaknya pencemaran lingkungan melalui uji laboratorium.

"Kita pasti akan turun untuk mengambil sampel debu hitam yang telah mencemari lingkungan warga di 5 wilayah Rukun Tetangga tersebut. Dengan Uji laboratorium ini kami juga berharap dapat mengetahui asal sumber debu hitam itu, apakah berasal dari pabrik Indocement atau bukan," ungkap Sugeng Suwandi, Kasubid Pengendalian Pencemaran BLHD Kab.Bogor ketika dihubungi LINGKAR JABAR, kemarin.

Menurut dia, pihaknya bukan tidak langsung merespon keluhan warga soal dugaan pencemaran udara itu, namun saat keluhan muncul kondisinya sedang tak memungkinkan untuk menindaklanjuti. "Karena begitu keluhan muncul, hampir berbarengan dengan hari raya lebaran. Jadi sebagian staf sudah pada cuti," papar Sugeng.

Sementara, Bambang Tawekal, Camat Citeureup mengaku sudah memberitahukan kepada pihak perusahaan terkait keluhan warganya. Namun lanjutnya, hal itu baru sebatas dilakukannya secara lisan. "Bila pemberitahuan kepada perusahaan secara lisan sudah kita lakukan, tapi belum melalui surat resmi. Karena, biasanya kita menunggu laporan dari pemerintah desa terlebih dulu," akunya.

Mantan Camat Bojonggede inipun menjelaskan, keluhan lain yang dipersoalkan warga terkait perhatian dari Indocement, terutama masalah CSR (Corporate Sosial Responsibility) baik kesehatan maupun pembangunan wilayah.

"Sebenarnya bantuan dari Indocement setiap tahun selalu ada, tapi mekanismenya sendiri harus dari warga melalui desanya masing-masing yang mengajukan. Selain itu juga, warga harus selalu mempertanyakan pengajuannya ke pihak perusahaan, karena mekanisme pengalokasian bantuan Indocement sama seperti pengajuan di Musrembang (Musyawarah Rencana Pembangunan)," papar Bambang.

Sebelumnya, menurut Utang Muhtar (61), seorang warga RT 02/02, Kampung Kamurang Desa Citeureup, pencemaran udara yang sudah dua bulan kebelakang atau persisnya semenjak musim kemarau melanda wilayah Kabupaten Bogor tidak hanya berwarna putih seperti biasa, melainkan hitam. "Jika kena baju yang dipakai, debu hitam itu nempel. Parahnya lagi kulit menjadi terasa gatal-gatal," akunya.

Setiap hari, lanjut Utang, warga yang lokasinya sekitar 300 meter dari pabrik tidak hanya dipaksa menghirup udara kotor, tetapi selama muncul debu hitam mengguyur pemukiman, wargapun harus membersihkan teras rumahnya sampai lima kali. "Padahal, sebelum debu hitam muncul, paling juga satu hari itu dua kali, antara pagi dan sore," keluhnya.

Untuk itu, ia dan ratusan warga Kamurang lainnya yang merasa selama ini telah tercemari pabrik semen Citeureup, mendesak pihak PT.Indocement Tunggal Prakarsa menepati janjinya dengan mengatasi keluhan tersebut serta mengakomodir aspirasi warga setempat. Pasalnya, dari awal berdiri persisnya tahun 1976 bantuan kepada warga di lingkungan dekat pabrik sangat minim sekali. "Bantuan atau perhatian Indocement nyaris tak ada sejak Indocement mulai berdiri," tukas Utang.

Sayangnya, hingga saat ini dari pihak Indocement belum juga memberikan komentar terkait keluhan warga tersebut, meski sebelumnya staf Humas perusahaan raksasa itu telah menjanjikan akan memberikan tanggapan melalui Sekretaris Perusahaan, Sahat Panggabean. DED
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger