' BI Minta Masyarakat Waspadai Uang Palsu Jelang Lebaran - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » BI Minta Masyarakat Waspadai Uang Palsu Jelang Lebaran

BI Minta Masyarakat Waspadai Uang Palsu Jelang Lebaran

Written By dodi on Tuesday, August 7, 2012 | 8:00 AM

BOGOR - Bank Indonesia (BI) mengungkapkan sejak Januari hingga Juni 2012, temuan uang palsu mencapai 41.080 lembar. Adapun daerah yang penyebaran uang palsunya terbanyak yaitu Jakarta, Bogor, Tangerang, dan Bekasi (Jabotabek) sebanyak 11.758 lembar. Baru kemudian diikuti Jawa Barat 9.879 lembar, Jawa Timur 8.815 lembar, Jawa Tengah 5.452 lembar, dan Lampung 1.759 lembar.

“Berdasarkan laporan bank dan masyarakat dari Januari hingga Juni 2012, temuan uang palsu mencapai 41.080 lembar,” kata Deputi Gubernur BI, Ronald Waas, dalam keterangan persnya, kemarin. Dari jumlah yang ditemukan tersebut, pecahan yang paling banyak dipalsukan yaitu Rp100.000, yaitu sebanyak 21.497 lembar atau 52,33%. Sedangkan pecahan Rp50.000 sebanyak 17.260 lembar atau 42,02%.

“Dengan demikian, kedua pecahan tersebut menempati 94,35% dari total uang rupiah yang dipalsu,” ungkap Ronald. Kendati peredaran uang palsu cenderung menurun hingga semester I-2012, di sejumlah daerah masih ditemukan uang palsu. Ronald menegaskan, pelaku pemalsuan uang diganjar lebih tegas dalam Undang-Undang Mata Uang. “Dendanya antara Rp10 miliar hingga Rp100 miliar dengan kurungan kurang lebih 10 tahun,” imbuh dia.

Ronald pun menyarankan masyarakat untuk selalu memastikan keaslian uang yang diterima untuk menghindari uang palsu. Cara paling sederhana yang selalu dikampanyekan BI untuk membedakan uang asli dan uang palsu yaitu 3D atau ‘Dilihat, Diraba, dan Diterawang'.

Uang rupiah memiliki ciri-ciri tertentu yang bertujuan sebagai fitur pengamanan dari upaya pemalsuan. Secara umum, ciri-ciri keaslian uang rupiah dapat dikenali dari fitur-fitur tersebut yang tertanam di bahan uang dan teknik cetak yang digunakan. “Yaitu ada tanda air (watermark) dan electrotype, benang pengaman (security thread), cetak intaglio (cetakan kasar), gambar saling isi (rectoverso), tinta berubah warna (optical variable ink), tulisan mikro (micro text,) tinta tidak tampak (invisible ink), dan gambar tersembunyi (latent image),” papar Ronald.

Sebelumnya, Kepolian Daerah Jawa Barat mengeluarkan imbauan agar masyarakat mewaspadai peredaran uang palsu menjelang pelaksanaan Lebaran. Hal itu bisa terjadi karena transaksi jual beli yang dilakukan masyarakat akan semakin meningkat. Oleh karena itu, masyarakat diimbau untuk selalu teliti memeriksa uang yang mereka terima atau gunakan. "Biasanya uang palsu ini mulai beredar menjelang Lebaran, tahun baru, dan Natal di mana banyak orang menghabiskan uangnya untuk keperluan yang meningkat. Ini patut diwaspadai," ujar Kepala Bidang Humas Polda Jabar, Komisaris Besar Martinus Sitompul.

Ia menuturkan, pecahan uang palsu yang beredar yakni nominal Rp 50.000 dan Rp 100.000. Para pengedar uang palsu biasanya melancarkan modusnya dengan membeli bensin di SPBU atau pun mebeli barang di warung, pasar, dan toko-toko kelontong dengan menggunakan uang palsu. "Kebanyakan uang palsu ini beredar secara eceran di pinggir-pinggir jalan, pasar, warung, sampai pom bensin. Untuk kasus uang palsu yang dijual para penukar uang yang biasa ada jelang lebaran hingga kini belum ditemukan," ujarnya. CPS/HER
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger