' Anak Tanpa Anus Tujuh Tahun Terbelenggu Penderitaan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Anak Tanpa Anus Tujuh Tahun Terbelenggu Penderitaan

Anak Tanpa Anus Tujuh Tahun Terbelenggu Penderitaan

Written By dodi on Thursday, August 16, 2012 | 8:00 AM

KAB.BANDUNG - Malang nian nasib Muhammad Abian Akbar, bocah 7 tahun, warga kampung Rancabungur RT 02 RW 05 Desa Malakasari Kecamatan Baleendah Kabupaten Bandung, sejak lahir tanpa anus. Selama 7 tahun pula bocah yang kini duduk di bangku kelas 1 SDN Bojongmalaka itu, harus buang kotoran melalui lubang yang dibuat oleh dokter di perutnya.

Nanang Supriatna (48), orang tua bocah tersebut dengan lirih mengisahkan karena tidak memiliki biaya, plastik khusus untuk menampung kotoran yang seharusnya dipakai Abian, terpaksa diganti dengan menggunakan kain bekas. Padahal, dari sisi kesehatan sangat berisiko terinfeksi.

Tapi apa daya, penghasilan Nanang yang hanya seorang sales sepeda motor, tidak mencukupi jika harus terus-terusan membeli peralatan medis yang dirasa mahal untuk anak ketiganya itu. Sedangkan istrinya, Eli Siti Mardiah (46) hanyalah seorang ibu rumah tangga biasa.

"Pada saat dilahirkan 2005 lalu, persalinannya dilakukan di Rumah Sakit Al Ihsan Baleendah. Tapi karena Abian tidak punya anus, maka dibawa ke Rumah Sakit Hasan Sadiki Bandung, oleh para dokter disana, dibuatkan lubang diperut sebelah kiri untuk buang kotoran," kata Nanang, Senin (13/8/2012).

Memang pada saat itu, proses operasi hingga perawatan, Nanang tidak mengeluarkan biaya karena dia memegang kartu jaminan kesehatan. Padahal, jika Nanang tidak memiliki kartu jaminan kesehatan, ia harus merogoh kocek kurang lebih sebesar Rp8 juta. "Kalau tidak memegang kartu sehat, saya harus mengeluarkan uang sampai Rp 8 juta," ujar Nanang.

Semenjak lahir hingga usia 2 tahun, Abian baru dibawa kembali ke RSHS. Ketika menginjak usia 2 tahun, Akbar sempat dibawa kembali ke RSHS. Niat Nanang, ingin anaknya itu dioperasi kembali, agar memiliki anus yang normal. Namun, apa daya, setelah melakukan pemeriksaan dan menanyakan biayanya.

Nanang pun hanya bisa mengusap dada. Pasalnya, biaya untuk operasi membuat anus buatan itu, mencapai Rp12 juta lebih. "Jangankan uang sebesar itu, untuk membeli plastik penampungan kotorannya saja saya sudah tidak mampu lagi," keluhnya dengan tatapan mata yang kosong. Besar keinginan Nanang dan istrinya untuk melihat Abian tumbuh normal seperti anak-anak lainnya. Namun, penghasilannya yang hanya Rp 500 ribu perbulan dirasa sangat tidak mungkin untuk mewujudkan keinginan itu.

Padahal, kian hari, Abian terus tumbuh semakin besar. Kedua orang tuanya khawatir, kalau Abian akan minder dalam pergaulan dengan teman-temannya. "Apalagi setiap kali dia batuk, selau keluar cairan dari lubang di perutnya itu. Kami takutnya mengganggu teman-teman dia dan mengolok-oloknya," tutur Nanang.

Terkait dengan hal itu, Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Bandung Achmad Kustijadi, setelah mengetahui ada salah seorang warga yang mengalami kelainan anus, berjanji untuk segera menanganinya. Jika memungkinkan, Abian akan dibuatkan lubang anus buatan. Sebagai tindak lanjutnya, dia mengatakan akan segera berkoordinasi dengan pihak RSHS.

"Biayanya kan bisa melalui program Jaminan Kesehatan Daerah (Jamkesda). Secepatnya kami akan mendatangi keluarga Nanang ini, untuk membicarakan masalah ini. Karena bagaimanapun Pemerintah Daerah tidak akan mengabaikan warganya yang sedang dalam kesulitan," pungkasnya. GUS/INC
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger