' Waspadai Thalasemia, Tes Kesehatan Pranikah Harus Dilakukan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Waspadai Thalasemia, Tes Kesehatan Pranikah Harus Dilakukan

Waspadai Thalasemia, Tes Kesehatan Pranikah Harus Dilakukan

Written By dodi on Monday, July 30, 2012 | 8:00 AM

SUMEDANG - Menyusul tingginya tren peningkatan jumlah penderita thalasemia di Kabupaten Sumedang dan sejumlah daerah di Provinsi Jabar, kalangan dokter dan praktisi kesehatan lainnya mengusulkan kepada para pemegang kebijakan di daerah untuk menganjurkan tes pranikah kepada pasangan yang akan menikah. Dengan melakukan sejumlah tes, maka thalasemia dapat dicegah dan bahkan diputuskan rantai penyebarannya.

“Untuk mencegah thalasemia terus menyebar, maka sebaiknya pasangan calon penganin itu harus melakukan tes kesehatan pranikah, nanti akan diketahui gennya apakah pembawa gen thalasemia atau tidak, apalagi jika salah satu pasangan pengantin itu mempunyai keluarga pengidap thalasemia,” terang Sekretaris Perhimpunan Orang Tua Penderita Thalasemia Indonesia (POPTI) Sumedang, Teti Rohmawati, dalam keterangan persnya, akhir pekan kemarin.

Menurut Teti yang juga Kepala Seksi Asuhan Keperawatan di RSUD Sumedang, thalasemia disebarkan secara turun temurun atau disebut juga penyakit genetikal. Untuk itu, jika berencana menikah dengan orang yang mempunyai keluarga pengidap thasemia maka disarankan untuk melakukan tes pranikah yaitu mengecek gen untuk mengetahui kemaungkinan memiliki gen pembawa thalasemia.
"Jika diketahui ada gen pembawa thalasemia maka bisa dilakukan pengobatan sehingga kemampuan gen untuk menurunkan penyakitnya melemah," jelas Teti.

Sayangnya selama ini, tes kesehatan pranikah jarang dilakukan oleh calon pengantin. Pemerintah juga tidak mengajurkan atau bahkan mewajibkan tes seperti ini. Padahal, banyak penyakit yang bisa diturunkan atau disebarkan melalui pernikahan. Namun jika melakukan tes kesehatan terlebih dahulu, semua penyakit tersebut dapat dicegah atau dihilangkan sama sekali.

"Diperlukan kesadaran dari masyarakat juga harus muncul kebijakan dari pemerintah tentang tes kesehatan pranikah, sementara di jajaran kepemerintahan dan birokrasinya pun diperlukan pemahaman yang sama soal thalasemia atau penyakut genetika lainnya sehingga bisa mencegah penurun penyakit ini melalui pernikahan," terang Teti.

Sementara itu, seiring dengan hadirnya POPTI di Sumedang, penderita thalasemia yang belum mempunyai jaminan kesehatan apapun, kini akan mendapatkan Jaminan Pelayanan Thalasemia (Jampeltas).  "Semua pasien thalasemia yang tidak memiliki jaminan kesehatan apapun kini sudah mendapatkan Jampeltas karena di Sumedang sudah ada POPTI sehingga pemerintah pusat bisa mengucurkan dana Jampeltas untuk pelayanan pasien thalasemia," kata dr Yusi Ratna Suminar, Kepala Bidang Pelayanan Medis di RSUD Sumedang.

Biaya pengobatan thalasemia yang mahal dan dilakukan terus menerus, menurut Yusi, sangat memberatkan orang tua pasien. Sehingga sangat kecil kemungkinan bagi orang tua untuk bisa bertahan dan mampu mengeluarkan biaya yang bisa mencapai belasan juta rupiah setiap bulannya. Apalagi, lanjutnya, keluarga dari penderita pasien thalasemia di Sumedang, sebanyak 60% di antaranya merupakan keluarga menengah ke bawah.

Yusi mengatakan sebelum ada POPTI, pasien thalasemia yang tidak memiliki jaminan kesehatan, hampir semuanya mengajukan permintaan keringanan biaya pengobatan dengan meminta surat keterangan miskin. Surat tersebut ditindaklanjuti dengan rekomendasi dari pimpinan RSUD yang menyatakan pasien adalah keluarga miskin. Selanjutnya pasien bisa membayar biaya pengobatan lebih murah. Thalasemia adalah penyakit genetika dimana tubuh kehilangan struktur gen yang berfungsi memproduksi sel darah merah. Penderita penyakit ini di Sumedang tercatat sebanyak 106 orang. GUS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger