' Waspadai Perangkap Budaya Populer - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Home » , » Waspadai Perangkap Budaya Populer

Waspadai Perangkap Budaya Populer

Written By dodi on Monday, July 16, 2012 | 8:00 AM

Arus globalisasi dan informasi akhir-akhir ini telah mempengaruhi segala aspek kehidupan, ekonomi, politik, dan sosial, temasuk agama. Aktivitas-aktivitas keagamaan telah banyak terkontaminasi virus globalisasi. Harus diakui bahwa relasi antara agama, khususnya Islam dan budaya pupuler begitu melekat dan mengundang banyak permasalahan, dilema, dan kontradiksi.
Budaya populer merupakan jenis kebudayaan yang perkembangannya tidak dapat dipisahkan dari perkembangan industrialisasi, kapitalisme, dan konsumerisme.

Budaya populer terkait dengan apa yang disebut dengan budaya massa, yaitu budaya yang diproduksi untuk massa, mengikuti pola produksi massa. Budaya populer menyiratkan akan keberadaan budaya nonpupuler sebagai lawannya, yaitu yang dibangun oleh pendekatan nonpopuler yang sering disebut budaya luhur. Budaya populer yang dibangun oleh imajinasi populer kini telah merasuki masyarakat Islam. Imajinasi-imajinasi ini dibentuk secara sadar oleh orang atau sekelompok orang, biasanya produsen, kapitalis, dan para elite untuk membedakan mereka dengan orang lain.

Imajinasi populer semacam ini dibangun setidaknya ada empat ranah. Pertama, cara berpikir populer, yaitu cara berpikir jalan pintas yang penting mendapatkan kesenangan, kalau perlu tanpa berpikir. Itulah cara berpikir yang mengutamkan penampilan ketimbang kualitas jiwa, popularitas ketimbang spiritualitas, kedangkalan ketimbang kedalaman. Hal ini bisa kita lihat misalnya, banyaknya buku how to yang menawarkan cara cepat dan instan mempelajari Islam. Akhirnya, masyarakat Islam yang terperangkap cara berpikir populer ini akan menjadi masyarakat yang malas berpikir, cari enak dan jalan pintas.

Kedua, komunikasi populer. Komunikasi ini dicirikan dakwah yang dihiasi oleh imajinasi dan fantasi-fantasi yang biasa hidup di dalam budaya populer, burapa bahasa, tindakan, dan penampilan populer. Kita ambil contoh dakwah Islam yang mengandung unsur komedi, lawakan, banyolan yang kerap muncul di TV. Tidak hanya itu, para dai, ustadz, kiai pun berperan sebagai superstar di hadapan massa penggemar. Massa pada akhirnya "secara pasif" meniru kebiasaan, penampilan, dan gaya dai superstar mereka (busana, model rambut,) dan membuat mereka berhasrat untuk mengoleksi barang-barang dai idola mereka. Dai bagaikan seorang selebritis yang diidolakan.

Ketiga, ritual populer. Ritual ini biasanya dilakukan dengan mengikuti paradigma budaya poluler, seperti logika komoditas. Ritual-ritual itu ditata sedemikian rupa sesuai dengan prinsip perbedaan sosial dan pencapain prestise, kelas dan status. Misalnya, berbuka puasa bersama yang diorganisasikan berdasarkan kelas-kelas sosial di dalam masyarakat, seperti paket-paket berbuka yang diadakan di hotel-hotel berbintang dan dikaitkan dengan kehadiran selebritas di dalamnya. Di sana tedapat proses penghancuran kesucian ibadah dengan hadirnya pencitraan ritual. Akhirnya, bukan kedalaman spiritual yang didapat, justru kedangkalan dan permukaan spiritualitas.

Keempat, simbol populer. Simbol atau penampilan ini mengarahkan pada penampilan yang mencakup nilai dari pakaian atau aksesoris yang menekankan efek kesenagan, simbol, status, tema, prestise, daya pesona dan berbagai selera populer lainnya. Ini juga menimpa umat Islam, misalnya menjadi pengikut atau peniru dari model penampilan para elite agama (ustadz, kiai, dai), di mana model-model baju yang dikenakan oleh pak ustadz menjadi trend setter dan menciptakan gaya hidup baru.

Ada berbagai akibat dari masuknya budaya populer ke ranah Islam ini, yaitu semacam banalitas agama. Di sana kita menyaksikan apapaun yang selama ini dianggap profan, nafsu rendah, remeh-temeh, banal dan sampah menurut pandangan Islam, kini menjadi bagian wacana keagamaan itu sendiri. Batas suci/rendah dan sakral/profan, kini dikaburkan dan digiring pada logika budaya baru, yaitu logika banalitas agama. Agama berada di tempat yang rendah, remeh-temeh, murahan dengan mengambil alih nilai-nilai dan budaya luhur keagamaan.

Di dalam ritual keagamaan, sesuatu dulu yang dianggap tidak penting (seperti penampilan, sifat menghibur, gaya pakaian, gaya penampilan) kini menjadi sangat dibutuhkan, dan mendominasi ruang-waktu umat Islam serta menjadi jantung kehidupan keberagamaan umat Islam. Dalam kehidupan sehari-hari kita bisa menjumpai misalnya, para ustadz di televisi terlihat lebih mementingkan gaya penampilannya ketimbang penguasaan subtansi ajaran Islam yang diajarkannya. Lebih mementingkan gaya bicara, ketimbang esensi ajaran Islam. Dalam keadaan semacam itu, telah berlangsung "pementingan yang banal dan pembanalan yang subtansial".

Inilah banalitas agama yang merayakan penampakan luar atau performansi tanpa peduli dengan makna atau nilai-nilai spiritualitas-ketuhanan di baliknya. Tentunya, ini gaya hidup telah mencabut ritual keagamaan dari ruang transendentalnya, dan kini menjadi semacam ekstasi (kesenangan puncak) penampakan yang tanpa kedalaman. Semua praktik keagamaan yang disarati dengan budaya populer tidak akan pernah mencapai tingkat spiritualitas tinggi, kecil kemungkinan mencapai kedalaman spiritual. Ini semua hanya akan menjauhkan kita dari tujuan utama dalam beragama/spiritualitas, yaitu penyucian jiwa. Karena itu, umat Islam harus melepaskan diri dari perangkap budaya populer untuk kembali pada identitas keagamaan yang auntentik.
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger