' Tradisi dan Kesenian Cirebon Berdasarkan Falsafah Agamis - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Home » » Tradisi dan Kesenian Cirebon Berdasarkan Falsafah Agamis

Tradisi dan Kesenian Cirebon Berdasarkan Falsafah Agamis

Written By dodi on Friday, July 20, 2012 | 4:22 PM

Sebagai daerah yang terletak pada perbatasan antara Provinsi Jawa Barat dan Provinsi Jawa Tengah, proses akulturasi antara dua kultur masyarakat Sunda dan Jawa tidak dapat terhindar lagi. Kedua kultur tadi kemudian menjadi satu, dan kemudian melahirkan sub kultur mandiri, hal ini dapat terlihat jelas dari bahasa yang dipergunakan oleh masyarakat Cirebon dan Indramayu.

Perjalanan sejarah pada abad 14 dan 15, dimana daerah Cirebon dan sekitarnya menjadi pusat pengembangan agama Islam, juga turut mewarnai kultur Cirebon. Pengaruh agama Islam begitu mengakar pada relung-relung kalbu masyarakat di pesisir Pantai Utara (Pantura) tersebut.

Nilai- nilai tradisi dan warna kesenian tradisional Cirebon selalu berdasarkan falsafah agamis. Beberapa peninggalan diantaranya rebana digunakan dalam susunan waditra pada sebagian besar kesenian tradisional. Kemudian ada pula kesenian tari topeng yang sangat populer. Lalu ada banyak situs peninggalan sejarah dan purbakala tersebar di seluruh wilayah Cirebon.

Makam Sunan Gunung Jati yang dihiasi dengan berbagai bentuk keramik peninggalan masa pemerintahan Kaisar Ming dan Song dari daratan Tiongkok menunjukan adanya pengaruh Cina yang melekat di daerah Cirebon yang merupakan peninggalan Putri Ong Tin Nio yang dipersunting Sunan Gunung Jati.

Sedangkan Gua Sunyaragi yang dirancang oleh arsitek Cina yang bernama Sam Cay Kong merupakan tempat peristirahatan pada masa lalu. Sebagai peninggalan kesultanan, Cirebon memiliki empat buah keraton, yaitu Keraton Kasepuhan, Keraton Kanoman, Keraton Kacirebonan, dan Keraton Kaprabonan.

Setiap setahun sekali keraton-keraton tersebut diramaikan dengan upacara-upacara tradisional “Muludan” yang berintikan “Turun Jimat”. Sedangkan di daerah tempat sepanjang pantai, para nelayan berlabuh setiap tahun menyelenggarakan “Nadran“(Pesta Laut), yaitu mempersembahkan sasajen kepada penguasa laut.

Nilai-nilai lainnya, terlihat pada upacara ritual yang diselenggarakan masyarakat terutama di pedesaan yakni upacara adat “Daur kehidupan manusia” dan upacara yang berkaitan dengan nilai-nilai tradisional, serta unsur kesenian daerah serta adat istiadat masyarakat setempat. DOD
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger