' Ribuan Pelajar Wanita di Cianjur Jadi Penjaja Seksual - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Ribuan Pelajar Wanita di Cianjur Jadi Penjaja Seksual

Ribuan Pelajar Wanita di Cianjur Jadi Penjaja Seksual

Written By dodi on Tuesday, July 17, 2012 | 8:00 AM

CIANJUR (LJ) - Sungguh ironis, sejumlah pelajar wanita di Kabupaten Cianjur terindikasi melakukan side job--pekerjaan sampingan--sebagai wanita penjaja seksual (WPS) atau lebih populer disebut Penjaja Seks Komersial (PSK). Hal tersebut berdasarkan hasil riset di lapangan yang dilakukan Komite Penanggulangan AIDS (KPA) Kabupaten Cianjur baru-baru ini. KPA menyebutkan bahwa dalam kurun setahun terakhir, jumlah WPS dari kalangan pelajar tercatat sebanyak 1.048 orang.

"Mereka terdiri dari sebanyak 621 orang WPS langsung dan 427 orang WPS tidak langsung, dengan jumlah pelanggan diperkirakan mencapai 16 ribu orang," ungkap Pokja KPA Kabupaten Cianjur Dede Rahmat kepada wartawan, kemarin. Dikatakannya, data yang diperoleh pihaknya itu diprediksikan akan semakin bertambah. Bahkan perbandingannya dengan WPS biasa bakal seimbang. "WPS yang masih berstatus pelajar menunjukan peningkatan signifikan. Kami perkirakan, dalam jangka waktu satu bahkan dua tahun ke depan, jumlahnya akan menyamai WPS umum," kata Dede.

Dede menyebutkan, berdasarkan hasil penelitian, dalam satu sekolah, baik negeri maupun swasta di Kabupaten Cianjur, dari 100% pelajar di satu sekolah tersebut, 1% adalah seorang WPS. Fenomena WPS pelajar itu sendiri, sudah mulai menggeliat sejak lima tahun terakhir. "Fenomena sosial ini selain pemahaman agama yang kurang serta minimnya pengawasan keluarga, juga lebih disebabkan perubahan pola hidup yang semakin konsumtif, namun tanpa ditunjang dengan kondisi atau keadaan ekonomi. Dari berbagai kasus, pelajar yang terjun menjadi WPS ini karena terdesak alasan ekonomi dan gaya hidup," tukasnya.

Menurut Dede, rendahnya pemahaman pelajar terhadap masalah HIV/AIDS mendorong kecenderungan semakin bertambahnya tren WPS di kalangan pelajar. Kondisi ini ditunjang dengan para 'pelanggan' yang menginginkan 'daun muda'. "Artinya, para pelanggan jasa WPS lebih tertarik menggunakan jasa WPS pelajar daripada yang biasa,” ujarnya seraya menambahkan hal itu terjadi juga disebabkan minimnya kegiatan sosialisasi serta tingkat kepedulian Pemkab Cianjur, dalam hal ini Dinas Pendidikan Kabupaten Cianjur.

KPA Cianjur mengaku hingga kini belum pernah melihat ada upaya sosialiasi HIV/AIDS secara khusus yang datang langsung dari dinas terkait. “Kami yang harus kerja keras menyosialisasikannya. Ironisnya, anggaran sendiri minim dan terbatas. Karenanya, dari target pemahaman pelajar terhadap HIV/AIDS sebesar 30%, hingga saat ini baru tercapai 19%,” ungkapnya.

Dede menyebutkan, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur saat ini mencapai 281 orang dengan jumlah WPS dari kalangan pelajar sebesar 26%. Kondisi ini tentu saja akan memicu terjadinya penambahan jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Cianjur. “Tidak menutup kemungkinan, WPS dari kalangan pelajar ini banyak yang terjangkit HIV/AIDS. Dari catatan kami, sudah lima WPS pelajar yang meninggal dunia. Saat ini saja kita sedang menangani seorang WPS masih duduk di SMP yang terjangkit HIV dan tengah mengandung,” pungkasnya.

Ditempat terpisah, Ketua Forum Masyarakat Cerdas Cianjur (FMC2), R. Saudin, kepada LINGKAR JABAR, Senin (16/7), membenarkan banyaknya pelajar yang menjadi WPS. “Hal tersebut karena minimnya pengawasan dari orangtua dan akibat kemajuan teknologi,” kata dia seraya menambahkan pihaknya pernah melakukan penelitian dilapangan, hasilnya ironis sekali, dari satu sekolah sekitar 20 pelajar menjadi WPS.

“Kebanyak pelajar yang melakukan WPS adalah karena jauh dari orangtua, pelajar yang seperti itu biasanya tinggal terpisah dari orangtua alias ngekost, ditambah pemahaman dasar agama yang minim, sehingga pelajar bebas melakukan apapun,” katanya. Selain itu, lanjut dia, kemajuan teknologi dituding sebagai salah satu penyebabnya. “Kemajuan alat telekomunikasi, sehingga ada pelajar yang nekad demi gaya memiliki telepon genggam yang canggih, sedangkan orangtuanya tidak mampu membelikannya, akhirnya ditempuh cara sesat itu,” pungkasnya. RUS

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger