' Pencak Silat, Seni dan Budaya yang Menjadi Pedoman Kehidupan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Pencak Silat, Seni dan Budaya yang Menjadi Pedoman Kehidupan

Pencak Silat, Seni dan Budaya yang Menjadi Pedoman Kehidupan

Written By dodi on Wednesday, July 25, 2012 | 8:00 AM

Pencak Silat dikenal sebagai jenis seni bela diri khas Indonesia yang didalamnya terkandung aspek – aspek yang memiliki nilai yang tinggi. Adapun aspek yang dimaksud adalah aspek olah raga, aspek bela diri, aspek olah seni, dan aspek pembinaan mental spiritual. Dari aspek – aspek tersebut melahirkan jurus – jurus yang sangat beragam. Hal ini disebabkan oleh banyaknya aliran – aliran Pencak Silat seperti; Sabandar, Cimande, Cikalong, Ciwaringin, Pamacan, Pamonyet, dan lain – lain.

Dilain pihak, banyak diantara para remaja sekarang yang lebih memperhatikan seni bela diri dari Negara tetangga, seperti karate, taekwondo, yudo dan yang lainnya. Hal ini dapat merugikan kepada nilai – nilai Pencak Silat dimata masyarakat di dalam Negeri. Selain hal tersebut diatas, frekuensi kehadiran seni Pencak Silat sekarang kurang, bila dibandingkan dengan masa lampau. Pencak Silat di masa lampau sering tampil di tempat – tempat Kenduri, Pesta Pernikahan, Khitanan, dan sebagainya. Sedangkan pada masa sekarang peristiwa tersebut jarang dijumpai.

Sejarah

Sangat sulit menentukan asal – usul Pencak Silat, kapan dan dari mana Pencak Silat berasal, bagaimana pekembangan mula terjadi, dan siapa yang pertamakali mengerjakannya. Walaupun demikian, kebanyakan pakar berkeyakinan, bahwa bangsa melayu sudah menciptakan dan memperkenalkan ilmu bela diri ini di masa prasejarah.

Konon, pada waktu itu manusia Harus menghadapi alam yang keras untuk survival melawan binatang yang ganas, oleh karena senjata belum ada, manusia mengembangkan gerak – gerak bela diri, dan diyakini banyak pihak pada masa itu Pencak Silat berfungsi sebagai pembela diri saja, tidak ada fungsi lain. Peranan binatang sebagai salah satu sumber inspirasi dalam menciptakan gerak Pencak Silat, diakui oleh mitos – mitos mengenai asal – usul Pencak Silat, maupun legenda – legenda tentang berdirinya aliran – aliran tertentu.

Menurut kamus besar bahasa Indonesia terbitan balai pustaka, Pencak Silat berarti permainan (keahlian) dalam dalam mempertahankan diri, dalam kepandaian menamgkis, menyerang, dan membela diri. Baik dengan ataupun tanpa senjata, lebih khusus silat diartikan permainan yang didasari ketangkasan menyerang dan membela diri, baik dengan ataupun tanpa senjata, sedangkan bersilat mempunyai makna bermain dengan menggunakan ketangkasan menyerang dan mempertahankan diri.

Sedangkan Pencak Silat menurut penulis dapat diartikan dari asal kata yaitu Pencak dan Silat. Pencak yaitu gerakan melangkah menggunakan irama, sedangkan Silat yaitu ilmu untuk membela diri. Jadi Pencak Silat dapat diartikan sebagai ilmu bela diri yang menggunakan irama. Pencak Silat merupakan kesenian yang bersifat turun – temurun. Hal ini yang menyebabkan Pencak Silat masih bisa bertahan. Dan banyak hal yang berkembang, seperti pakaian Pencak Silat waktu dulu identik dengan warna hitam, tetapi sekarang sudah banyak yang menggunakan warna selain hitam. Lagu – lagunya pun sudah berkembang.

Kehidupan Masyarakat

Jika pada mulanya bela diri diciptakan dengan meniru gerakan binatang atau fenomena alam yang lain agar dapat melawan binatang yang ganas. Lama – lama Pencak Silat dibutuhkan oleh manusia untuk medapatkan status dan kedudukan sosial lewat peperangan antar kelompok, suku, klan, dan kerajaan. Dengan kemahiran bela diri seseorang akan disegani dan ditakuti oleh masyarakat sekitar.Hal ini terbukti dengan adanya sejarah kerajaan – kerajaan dan juga cerita – cerita tentang kerajaan – kerajaan di Nusantara. Yang melakukan perluasan wilayah dengan cara berperang.

Yang dimaksud pendidikan disini adalah pelatihan, yang didalamnya terdapat proses latih – melatih. Perkembangn Pencak Silat berlangsung secara berlahan, mengikuti transformasi masyarakat disekelilingnya, dan mulai dari dua loci (tempat) utama pelajaran ilmu Silat, yaitu Keraton dan Mandala. Pada awalnya di Keraton ilmu beladiri hanya diperuntukan bagi anggota keluarga Raja dalam rangka mempersiapkan diri mereka, untuk menjalankan tugasnya sebagai pembela kerajaan. Tetapi dengan perubahan Keraton menjelang runtuhnya kerajaan Maja Pahit Pencak Silat diperkaya oleh wawasan baru, yang mengaitkan secara eksflisit.

Kemahiran teknik bela diri dengan perkembangan manusia dalam suatu kosmologi yang utuh. Pendidikan Pencak Silat tidak lagi bersifat kejujuran, bukan pula sebagai keterampilan saja melainkan bertujuan untuk pembentukan kualitas kepribadian manusia. Seorang pesilat ‘apalagi seorang pendekar’ harusnya menjaga, melestarikan dan membela nilai – nilai dasar kebudayaan seperti ketekunan, kejujuran, kepahlawanan, kepatuhan, dan kesetiaan. Dalam bentuk baru sebagai pendidikan humaniora, Pencak Silat tidak perlu lagi dirahasiakan kepada pegawai Keraton lainnya.

Walaupun masyarakat umum belum terjangkau, Pencak Silat bela diri beserta unsur spiritualnya mulai diajarkan di Keraton kepada abdi dalem (pelayan) dan kawula (orang yang diperintah) menurut kedudukan masing – masing dalam ierarki (Candra Gautama 19955;70). Kolonial Belanda dalam melakukan peanjajahan untuk mengawasi para pekerja membutuhkan orang yang mahir bersilat untuk dijadikan opas perkebunan. Opas ini dipilih diantara orang – orang yang sudah dikenal dan dipercaya oleh penguasa.

Keadaan Pencak Silat mulai berubah pada awal abad XX dangan timbulnya kebijaksanaan baru, yaitu etische politiek, yang bertujuan meningkatkan kesejahteraan rakyat lewat berbagai program, termasuk memajukan kesehatan masyarakat dan pendidikan umum bagi penduduk pribumi. Akibat kebijaksanaan baru ini, intervensi pemerintah Belanda dalam urusan desa, termasuk keamanannya, semakin bertambah dengan terbentuknya kesatuan polisi di daerah pedesaan dan hilangnya kerja rodi. Peran jago dalam mempertahankan system ekonomi kolonial mulai berkurang. Dengan sendirinya, pentingnya Pencak Silat sebagai saran pengawasan sosial terhadap kuli dan masyarakat petani yang mengalami devaluasi.

Dari dulu Pencak Silat bela diri mempunyai peran hakiki dimasyarakat kita. Kepulauan Nusantara ini, yang didiami berbagai macam suku bangsa dengan karakteristik biologis, sosial, dan kebudayaan yang berbeda – beda, namun mereka sama – sama mempunyai tradisi mempelajari Pencak Silat sebagai alat pembela diri dalam usaha bertahan, dan menghadapi alam, binatang maupun manusia. Konon, disemua pelosok Tanah Air kita anak remaja dibekali ilmu Pencak Silat sebagai persiapan dalam menghadapi tantangan – tantangan hidup.

Seperti salah seorang pendekar madura mengucapkan ‘Pencak adalah senjata yang bisa dibawa kemana-mana’.” Begitu pentingnya peran Pencak Silat untuk mempertahankan hidup, bahwa dalam masyarakat Betawi tempo dulu calon pengantin pria pada waktu melamar calon istrinya, diwajibkan mempertunjukan kepandaian bermain Pencak Silat didepan sanak keluarganya sebagai tanda bahwa dia dapat melindungi keluarganya dikemudian hari. Jika calon pengantin itu tidak menguasai bela diri maka lamaran ditangguhkan.

Inti dari Pencak Silat Seni adalah sebagai estetis dari bersilat atau berpencak, Pencak Silat Seni adalah ‘karya yang mewujudkan bakat atau kebolehan menciptakan sesuatu yang indah’ (kamus dewan 1986).” Sedangkan menurut penulis Pencak Silat Seni yaitu suatu gerakan bela diri yang tidak terlepas dari unsur musik dan tari, hal ini terbukti dengan masuknya Pencak Silat kedalam mata kuliah di jurusan Tari STSI Bandung.

Karena dianggap tari Pencak Silat merupakan dasar dari tarian yang ada di Indonesia khususnya Jawa Barat. Sedangkan untuk musiknya dengan adanya pengiring pencak sendiri seperti kendang, goong, dan terompet. Pencak Silat Seni ini sering dipertontonkan dalam berbagai acara hajatan. Namun sekarang sudah mulai berkurang.

Pencak Silat memiliki landasan Spiritual yang menjiwai penggunanya, pada umumnya Pencak Silat diajarkan dengan tujuan mewujudkan cita – cita kemanusiaan dan kemasyarakatan yang sesuai dengan nilai – nilai yang dijungjung tinggi oleh penduduk setempat. Pencak Silat yang tumbuh dan berkembang di Negara kita ini adalah buah karya manusia, sekaligus pedoman orientasi kehidupan bagi dirinya.

Sebagai refleksi dari nilai – nilai masyarakat, Pencak Silat merupakan sebuah sistem budaya yang saling mempengaruhi dengan Alam dilingkungannya, dan tidak dapat terpisahkan dari derap aktivitas manusia. Bila pada tingkat perseorangan Pencak Silat membina agar manusia bisa menjadi teladan yang mematuhi norma – norma masyarakat, sedangkan pada tingkatan koletif atau sosial Pencak Silat besifat kohesif yang dapat merangkul individu – individu dan mengikat mereka dalam suatu hubungan sosial yang menyeluruh. CPS/***
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger