' Pemerintah Tetapkan Awal Puasa pada 21 Juli, Hormati Perbedaan - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Pemerintah Tetapkan Awal Puasa pada 21 Juli, Hormati Perbedaan

Pemerintah Tetapkan Awal Puasa pada 21 Juli, Hormati Perbedaan

Written By dodi on Friday, July 20, 2012 | 4:35 PM

BOGOR (LJ) - Pemerintah melalui Kementerian Agama (Kemenag) memutuskan 1 Ramadan 1433 H jatuh pada Sabtu 21 Juli melalui sidang isbat di gedung Kemenag-Jakarta, Kamis (19/7). Meski begitu, dalam sidang isbat tersebut, beberapa ormas Islam seperti Muhammadiyah dan ormas FPI, menyatakan tetap akan mulai menjalankan puasa besok, Jumat 20 Juli. Untuk itu, Menteri Agama (Menag) Suryadharma Ali berharap agar umat Islam tetap saling menghormarti.

"Puasa besok tetap kita hormati, begitupun bagi mereka yang putuskan puasa Sabtu tetap kita hormati. Bagi yang puasa besok kita harap menghormati yang puasa pada hari Sabtu," ucap Suryadharma dalam keterangan persnya usai sidang isbat. Dalam sidang tersebut sejumlah organisasi Islam seperti Nadhlatul Ulama (NU), Persis, Dewan Masjid Indonesia, menyetujui puasa jatuh pada Sabtu. Adapun yang berbeda pendapat dalam sidang itu ialah organisasi FPI dan An-Najat, yang menetapkan hari pertama puasa pada Jumat 20 Juli.

Suryadharma juga menilai bahwa masukan dari ormas-ormas Islam yang disampaikan dalam sidang isbat tadi sangat positif. Sidang isbat pun dinilainya sudah berjalan dengan bijak dan demokratis. "Karena puasa ini ibadah kolektif libatkan publik banyak tapi saya rasa keputusan isbat tadi sangat bijaklah, tidak ada rekayasa, demokratis dan seluruh ormas boleh memberikan masukan-masukan dan menerimanya," kata Suryadharma yang juga Ketua Umum DPP PPP.

Pernyataan Suryadharma itu juga diamini oleh pengurus FPI yang memutuskan berpuasa mulai hari ini. "Meskipun beda, tapi kita saling menghargai," ujar anggota Falaqiyah FPI, Muchsin Alatas. Keputusan Menag itu dibacakan setelah pembacaan laporan pengamatan hilal oleh Direktur Urusan Agama Islam dan Pembinaan Syariah, Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat (Binmas), Kementerian Agama, Ahmad Jauhari. "Laporan rukyat yang masuk ke pusat sebanyak 38 lokasi. Semuanya menyatakan tidak melihat hilal," ujar Jauhari.

Titik lokasi pemantauan antara lain Papua, Papua Barat, Maluku, Maluku Utara, Gorontalo, Sulawesi tenggara, Sulut, Sulawesi tengah, NTT, Bali, NTB, Sulsel, Mamuju, Kalteng, Kaltim, Kalbar, Kaltim, Kalsel, Jatim, DIY, Jateng, hingga Aceh. Sejumlah tokoh Islam telah hadir di antaranya Ketua Komisi VIII DPR, Ida Fauziah, perwakilan dari BMKG, perwakilan ormas Islam seperti
Persis, HTI dan PBNU, dan lembaga Islam seperti MUI, Dewan Masjid Indonesia, Badan Hisab Rukyat, dan Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia.

Terkait dengan keputusan Pemerintah tersebut, Gubernur Jabar Ahmad Heryawan meminta warga Jabar mengikuti keputusan pemerintah pusat. “Saya imbau lebih baik mengikuti pemerintah pusat saja. Kita berlaku tenteram dengan mengikuti keputusan pemerintah,” kata Gubernur Heryawan di Gedung Sate, Kota Bandung, kemarin. Soal adanya perbedaan di masyarakat, Heryawan meminta seluruh pihak saling menghormati. Namun tentunya akan lebih baik mengikuti keputusan pemerintah. “Saling menghormati saja. Perbedaan itu rahmat,” tegasnya.

Hal senada dikatakan Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Jawa Barat Hafidz Usman. Pihaknya akan menunggu keputusan pemerintah pusat soal penetapan awal Ramadan. Keputusan pemerintah tersebut sah dan mengikat secara hukum kepada seluruh umat Muslim. “MUI pada 2006, berdasarkan ijtima ulama, menetapkan negara kita sah. Jadi semua keputusan pemerintah itu sah. Soal penetapan awal Puasa, MUI tunggu pemerintah. MUI pakai keputusan pemerintah yang mengikat. Pengumumannya pada waktunya saja,” ujar Hafidz Usman.

Terkait adanya perbedaan penetapan awal Ramadan, lanjut Hafidz, pihaknya meminta jangan terlalu ditonjolkan. Sebagai seorang muslim tentunya memiliki konsep saling harga menghargai. “Hal biasa, kita ikuti pengumuman pemerintah. Kalau ada yang berbeda, tidak perlu menonjolkan perbedaannya. Biasa aja,” pungkasnya. COK/FER
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger