' PDAM Tirta Bhagasasi Akan Kirim Mobil Tanki untuk Warga Pesisir - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » PDAM Tirta Bhagasasi Akan Kirim Mobil Tanki untuk Warga Pesisir

PDAM Tirta Bhagasasi Akan Kirim Mobil Tanki untuk Warga Pesisir

Written By dodi on Wednesday, July 4, 2012 | 8:00 AM

KOTA BEKASI (LJ) – Puluhan ribu kepala keluarga (KK) di wilayah pesisir Kecamatan Muaragembong Kabupaten Bekasi Jawa Barat setiap harinya harus mengeluarkan uang hingga Rp15 ribu untuk membeli air bersih. Itupun harus ditempuh melalui perjalanan laut selama satu jam menuju wilayah Jakarta Utara hanya untuk membeli air bersih. Hal itu diungkapkan massa dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pesisir dalam aksi unjukrasa di depan Kantor PDAM Tirta Bhagasasi, di Jalan Raya Kalimalang, Bekasi Barat, Kota Bekasi, Selasa (3/7).

Dalam aksi tersebut massa diantaranya mendesak kepada PDAM Tirta Bhagasasi untuk bisa menyediakan air bersih secara gratis bagi warga di pesisir utara Kabupaten Bekasi. “Yang kami inginkan adalah realisasi air bersih secara gratis untuk warga pesisir,” ujar Didi Mulyawan, koordinator aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pesisir dalam aksi unjukrasa di PDAM Tirta Bhagasasi, Selasa (3/7).

Selama ini masyarakat pesisir sebenarnya sudah tersentuh program pipanisasi dari PDAM. Tapi sayangnya air mengalir tidak lancar. Sering 3 hari lamanya air tidak mengalir, kalau mengalir debitnya kecil dan hanya keluar di saat tengah malam. "Indikasi korupsi di tubuh PDAM Tirta Bhagasasi sudah cukup jelas, itu terlihat dengan pipa-pipa yang mengairi warga Muaragembong hanya sebagai formalitasi. Akibatnya air bersih menjadi sesuatu yang mahal bagi warga pesisir," kata Didi.

Meskipun air dari PDAM tidak lancar, namun tetap saja warga di daerah pesisir dikenakan tarif bulanan seperti pelanggan normal yang ada di wilayah perkotaan. "Setiap bulan warga harus mengeluarkan untuk biaya langganan PDAM. Bahkan ada yang mencapai Rp100 ribu perbulan. Kondisi tersebut cukup mengecewakan, dan sudah terjadi sejak awal tahun. Bisa dibayangkan tingginya pengeluaran warga, selain tetap harus bayar ke PDAM mereka juga untuk kebutuhan sehari-hari harus beli air bersih ke Jakarta Utara," terangnya.

Warga sebenarnya sebelum mendapatkan sambungan dari PDAM, sejak berpuluh-puluh tahun menggunakan air kali untuk kebutuhan sehari-hari. Tapi seiring berkembangnya zaman dan marak berdirinya pabrik, maka air kali kini sudah tidak bisa lagi dimanfaatkan. "Air kali kondisinya sudah hitam akibat tercemar," ungkap Didi.

"Kini warga harus menyebrang menggunakan perahu menuju Jakarta Utara. Disana air bersih dijual setiap 5 liter seharga Rp3 ribu. Sehari minimal masyarakat membeli 5 drum air dengan harga Rp15 ribu, untuk kebutuhan sehari-hari," imbuhnya.

Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pesisir berharap, untuk wilayah pesisir Kabupaten Bekasi baik Muaragembong, Babelan maupun Tarumajaya, pihak PDAM Tirta Bhagasasi bisa menyediakan air bersih bagi warga secara cuma-cuma. "Jangan hanya BBM yang di subsidi, tapi air bersih juga harus karena ini untuk hak hidup masyarakat," kata Didi.

Aksi unjukrasa puluhan massa yang diwarnai aksi teaterikal warga yang sengsara akibat susahnya air bersih, secara umum berjalan cukup kondusif. Beberapa petugas kepolisian dari Polsek Bekasi Barat tampak melakukan pengaturan arus lalu-lintas untuk mengantisipasi tersendatnya kendaraan di Jalan Raya Kalimalang akibat aksi tersebut.

5 orang perwakilan massa dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pesisir, akhirnya diterima oleh Direktur Tekhnik PDAM Tirta Bhagasasi, Solihat, untuk melakukan dialog. Dalam dialog tersebut Solihat berjanji akan secepatnya mencari solusi mengatasi persoalan kelangkaan air bersih di pesisir utara Kabupaten Bekasi.

Staff Humas PDAM Tirta Bhagasasi Bekasi, Endang mengatakan, sebagai langkah awal pihaknya akan mengirim mobil tanki berisi air bersih, untuk mengatasi kelangkaan air di wilayah. tersebut. "Di kita ada 3 unit mobil tanki. 1 mobil akan kita berdayakan bagi warga pesisir. Tapi, kita hanya akan kesana apabila warga benar-benar membutuhkan. Tidak bisa tiap hari karena, biaya operasional kendaraan yang tidak murah," katanya.

Selain musim kemarau, menurut Endang, kelangkaan air di wilayah pesisir terjadi akibat jauhnya jarak antara tempat pengolahan air dengan kawasan pesisir. "Tempat pengolahan air PDAM di Cabangbungin jaraknya bisa mencapai 30 kilometer dengan wilayah pesisir. Kita juga untuk mengatasi masalah ini sudah mendapatkan bantuan dari Dinas Tata Ruang dan Pemukiman Jawa Barat. Dinas itu akan menyiapkan pipanisasi sepanjang 7 kilometer, untuk mempermudah pengaliran air
dari tempat pengolahan ke rumah-rumah warga," terangnya.

"Berdasarkan laporan, kelangkaan air di pesisir juga terjadi karena listrik di tempat pengolahan Cabang Bungin yang sering mati," imbuhnya.

Sementara usulan massa pengunjukrasa, yakni pemanfaatan air laut untuk diolah menjadi air bersih, PDAM masih belum bisa merealisasikan hal itu. "Karena harga jualnya bisa mencapai Rp6 ribu perkubik. Itu cukup mahal, dan pasti akan ada penolakan dari warga," kata Endang.

Usai berdialog, massa dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pesisir, kemudian membubarkan diri secara tertib. "Jika tidak secepatnya ada solusi, kami akan ungkap ke publik melalui media massa mengenai dugaan korupsi pengelolaan air PDAM di wilayah pesisir," tegas Didi Mulyawan koordinator aksi dari Aliansi Mahasiswa dan Masyarakat Pesisir. ARS
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger