' Patut Acungi Jempol, Poktan Panen Saat Musim Kemarau - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Home » » Patut Acungi Jempol, Poktan Panen Saat Musim Kemarau

Patut Acungi Jempol, Poktan Panen Saat Musim Kemarau

Written By dodi on Friday, July 20, 2012 | 4:05 PM

KAB.PURWAKARTA (LJ) – Biarpun musim kemarau tiba dan banyak areal persawahan kekurangan air, namun tidak menjadi kendala kepada kelompok tani (Poktan), Sari Mukti, Kecamatan Campaka, Kabupaten Purwakarta, patut di acungi jempol atas keberhasilannya, memanen padi varietas Inpari 13 yang ditanam diatas lahan tadah hujan seluas 25 hektar dan menjadi sawah percontohan seluas satu hektar.

“Kami sangat bangga, karena pada musim kemarau sekarang ini, ada kelompok tani yang berhasil sawahnya dipanen,” ucap, Dedi Setiadi,  Kepala Bidang (Kabid) Tanaman Pangan Dinas Pertanian Kehutanan dan Perkebunan (Distanhutbun) Kabupaten Purwakarta, kepada LINGKAR JABAR, disela-sela panen padi, diwilayah Kecamatan Campaka, Kamis (19/7) kemarin.

Dedi menyatakan, meskipun areal persawahan diwilayah Kecamatan Campaka, lebih banyak sawah tadah hujan. Namun berkat keuletan kelompok taninya, maka dari 26 hektar yang ditanam bibit padi unggul varietas Inpari 13 satu hektar, diantaranya telah bisa di panen dalam waktu 2,5 bulan atau selama 70 hari.

Keberhasilan para petani tersebut, sambung dia, karena petani selalu mengikuti setiap petunjuk dalam mengolah lahan pertaniannya yang diberikan Distanhutbun melalui PPL-nya. "Keberhasil ini, juga berkat inovasi para petani dalam mengatasi varietas Inpari 13 yang selama ini, dikenal dengan varietas yang susah rontok," ujarnya.

Inovasi yang digunakan oleh poktan Sari Mukti ini, kata Dedi, maka varietas yang dikenal alot ini, sudah tidak menjadi kendala lagi. "Saya berharap, hasil inovasi petani yang dimodivikasikan dengan teknis-teknis dari Distanhutbun, bisa ditularkan kembali kepada para petani lain dalam menggarap sawahnya," pintanya.

Ketua Kelompok Tani (Poktan) Sari Mukti, Dakim, menjelaskan, meskipun sawahnya, berada di areal tadah hujan. Sistem air sumur bor, yang telah digunakan, untuk mengairi areal persawahan yang dilakukan secara rutin tiga kali dalam seminggu, maka padi yang ditanamnya berhasil dipanen dalam waktu 2,5 bulan.

"Selain penyiraman, para petani juga menggunakan formula baru dengan menggunakan oplosan satu tangki air, ditambah dua sendok makan deterjen dan dua tablet obat sakit kepala. Dengan demikian, varietas Inpari 13 yang dikenal sangat susah rontok menjadi mudah dan tidak perlu menggunakan mesin perontok," ujarnya.

Ditambahkan Dakim, yang menjadi kendala bagi para petani, yakni biaya BBM yang telah menghabiskan dana sebesar Rp.800 ribu selama 2,5 bulan sejak penanaman hingga panen. "Hasil yang diperoleh juga cukup memuaskan, dimana dalam satu hektarnya menghadilkan gabah kering giling sebanyak enam ton," tuturnya.

Atas nama Poktan Sari Mukti Dakim berharap, ada bantuan traktor tangan, mengingat kelompok Sari Mukti yang beranggotakan 57 orang itu terkendala pada saat membajak sawahnya. ”Kami berharap, ada batuan traktor tangan dari pemerintah. Sebab kalau menggunakan sapi atau kerbau, tidak akan mampu membajak lahan pertanian seluas 25 hektar,” imbuhnya. YAS
 
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger