' Pasutri, Lebih Dari 20 Tahun Santap Nasi Aking - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Home » , » Pasutri, Lebih Dari 20 Tahun Santap Nasi Aking

Pasutri, Lebih Dari 20 Tahun Santap Nasi Aking

Written By dodi on Friday, July 13, 2012 | 8:00 AM

KAB.CIREBON (LJ) - Pasangan suami-Istri (Pasutri) Samiun (40) dan Tuti Turwanti (37), warga Desa Pegagan Kidul RT 01 RW 01 Blok Karangbaru Wetan Kecamatan Kapetakan Kabupaten Cirebon, selama 20 tahun harus menyantap nasi aking. Santapannya ini, bukan karena kebiasaan tapi karena faktor kemiskinan yang membelit kehidupan pasutri ini.
    Layaknya mayoritas masyarakat di wilayah pesisir Pantura yang banyak terbelenggu masalah kemiskinan, menyantap nasi aking yang berasal dari sisa-sisa nasi yang tidak termakan kemudian dibersihkan dan dikeringkan di teriknya matahari menjadi hal yang biasa. Tidak hanya di wilayah pesisir Pantura, beberapa daerah pun terutama di wilayah masyarakat prasejahtera, nasi aking dijadikan makanan pokok pengganti nasi karena tidak mampu membeli beras.
    Sejak membina rumah tangga pada 1992, Tuti dan Samiun kerap menyantap nasi aking dibandingkan dengan menyantap nasi biasa. Hingga pasangan ini dikaruniai 6 anak pun, mereka seringkali menyantap nasi aking. Samiun yang menjadi buruh tani musiman dengan upah yang tidak lebih dari Rp 20 ribu satu hari, seakan tidak mampu membeli beras yang saat ini mencapai Rp 9.000 per kilogramnya.
    Mereka pun memilih nasi aking yang dirasa lebih murah, yakni Rp 4.000 untuk satu kilogramnya. Tuti pun mengaku, keluarganya tidak mampu membeli beras untuk keluarga miskin (raskin) yang harganya mencapai Rp 9.000 untuk 3 kilogramnya.
    “Kalau bapaknya anak-anak dapat uang ya beli beras meskipun hanya mampu membeli untuk dua kilogram. Tapi, kalau gak punya uang beli nasi aking, daripada kami kelaparan. Memang ada di desa ada raskin, tapi tetap saja kami tidak sanggup membelinya,” tutur polos Tuti saat ditemui di rumahnya yang berukuran 18 meter persegi itu yang hanya berdinding dari gedek (anyaman yang terbuat dari bilah-bilah bambu untuk dinding rumah), kemarin.
    Dalam hati Tuti, dia ingin sekali memberi makan anak-anaknya dengan nasi yang sewajarnya, bukan nasi aking. Sebab, anak-anaknya sering mengeluh menyantap nasi aking karena rasanya tidak seenak nasi biasa. “Memang kalau nasi aking sedikit keras dan tidak ada rasanya, karena itu kan nasi sisa. Tapi mau bagaimana lagi, saya dan suami saya hanya bisa memberi makan nasi aking kepada mereka (anak-anak),” ucap Tuti. HEN/MAT (C.12)
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger