' Korupsi Pengadaan Al Quran Mencoreng Umat Islam - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Korupsi Pengadaan Al Quran Mencoreng Umat Islam

Korupsi Pengadaan Al Quran Mencoreng Umat Islam

Written By dodi on Monday, July 2, 2012 | 8:00 AM

TASIKMALAYA - Kalangan ulama secara tegas menyatakan bahwa kasus korupsi pengadaan Al Quran di Kementerian Agama menggambarkan moral para pelaku dari oknum legislatif, pengusaha, dan pemerintah sudah sangat parah. Para pejabat berwenang itu melakukan korupsi tanpa peduli lagi nilai-nilai moralitas, bahkan tidak takut lagi kepada Allah SWT. Tak pelak, kasus ini membuat prihatin, karena sampai urusan kebutuhan umat beragama pun dikorupsi.

"Itu kerusakan moral parah. Mereka korupsi tanpa peduli. Pengadaan Al Quran pun, kalau bisa dikorupsi, kenapa tidak? Jelas sangat memprihatinkan," kata (MUI) KH Ma'ruf Amin saat akan menghadiri Ijtima Ulama Komisi Fatwa MUI se-Indonesia di Pondok Pesantren Cipasung, Tasikmalaya, Jawa Barat, Minggu (1/7). Menurut Ma'ruf, korupsi pengadaan Al Quran itu menunjukkan dorongan ingin kaya dari koruptor lebih besar daripada remnya. Ketika kesempatan terbuka, mereka tak mampu lagi mengendalikan diri untuk tidak mencuri uang negara.

Kasus ini, lanjut Ma'ruf, juga mencerminkan pemahaman bahwa agama melarang korupsi tidak cukup mencegah perilaku korup, tanpa disertai penegakan hukum tegas. Karena itu, pemerintah, aparat penegak hukum, dan KPK harus bekerja sama dengan serius untuk memberantas korupsi. "Kita harus terus mendorong hukuman yang membuat jera para koruptor dan mencegah orang yang mau korupsi," katanya dengan tegas.

Terkait hal itu, Sekretaris Jenderal Kementerian Agama (Kemenag), Bahrul Hayat mengungkapkan, pihaknya siap menindak para pejabat di jajaran Kemenag yang terbukti melakukan korupsi. Misalnya, melakukan mark-up anggaran, pengeluaran biaya secara fiktif, ataupun bentuk penyimpangan lainnya. "Kita siap untuk menindak para pejabat Kemenag yang terbukti melakukan tindak pidana korupsi. Karena tindakan pejabat tersebut secara tidak langsung sudah merusak nama baik institusi," tegas Bahrul di Jakarta, kemarin.

Secara terpisah, Dewan Penasihat Komisi Pemberantasan Korupsi Abdullah Hehamahua dan Ketua Umum Pimpinan Pusat Pemuda Muhammadiyah Saleh P Daulay mengungkapkan, kasus ini menunjukkan pencurian bisa terjadi di mana saja, bahkan dalam pengadaan kitab suci yang mengajarkan nilai luhur dan mengharamkan korupsi. Menurut Abdullah, saat ini tak ada lembaga negara, institusi pemerintah, atau organisasi masyarakat yang lepas dari kemungkinan korupsi. Para pelaku mungkin tidak sengaja melakukan korupsi, tetapi sebagian tak tahu bahwa yang dilakukan itu termasuk tindak pidana korupsi. Hal itu bisa saja terjadi dalam proyek terkait keagamaan yang ajarannya jelas-jelas mengharamkan korupsi.

Abdullah pun berharap KPK serius mengusut kasus ini. ”Asal memenuhi unsur tindak pidana korupsi dengan alat bukti yang cukup, harus ditangkap siapa pun yang terlibat. Ini persoalan hukum,” katanya. Selain penindakan, KPK diharapkan meningkatkan sosialisasi pencegahan korupsi. Nilai-nilai antikorupsi perlu dimasukkan dalam kurikulum dakwah dan lembaga pendidikan.

Sementara Saleh P Daulay mengatakan, nilai-nilai Al Quran tetap relevan dalam membentengi diri dari korupsi. Masalahnya, tersangka pelaku korupsi pengadaan Al Quran itu tidak paham ajaran luhur itu. Pelakunya tidak mau becermin pada ajaran akhlak dan moralitas yang benar. Karena itu, KPK diharapkan menuntaskan masalah ini sampai ke akarnya dan semua pelaku yang terlibat dihukum seberat-beratnya. ”Kasus ini tidak saja merugikan keuangan negara, tetapi juga mencoreng umat Islam Indonesia. Partai-partai politik jangan mengintervensi penegakan hukum terhadap pelaku korupsi,” kata Saleh yang juga Ketua Komisi Luar Negeri MUI.

Seperti diketahui, KPK pada Jumat (30/6) lalu mengumumkan dua tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan Al Quran. Mereka adalah anggota Badan Anggaran DPR dari Fraksi Partai Golongan Karya, Zulkarnaen Djabar, dan anak kandungnya yang juga pengusaha. Zulkarnaen diduga melakukan korupsi di tiga proyek Kementerian Agama, yaitu pengadaan Al Quran pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tahun anggaran 2011 dan 2012 serta pengadaan laboratorium komputer madrasah tsanawiyah pada Direktorat Jenderal Pendidikan Islam tahun anggaran 2011. WAN/COK
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger