' Ketika Instrumen Agama Jadi Ladang Koruptor - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » , » Ketika Instrumen Agama Jadi Ladang Koruptor

Ketika Instrumen Agama Jadi Ladang Koruptor

Written By dodi on Friday, July 6, 2012 | 4:05 PM

Korupsi di negeri ini benar-benar sudah sedemikian parah. Bayangkan saja, para koruptor juga merambah instrumen agama meski kasak kusuknya telah terdengar lama. Penggarongan uang negara sudah tidak lagi memilih ruang, bahkan pengadaan kitab suci Al Qur'an yang dilaksanakan oleh Kementerian Agama (Kemenag) pun juga menjadi ladang bagi para koruptor. Tak pelak, selain memalukan, perbuatan hina tersebut telah mencoreng wajah umat Islam di tanah air.

Seperti kita tahu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) baru saja menetapkan seorang anggota DPR terkait dugaan korupsi pengadaan Al_Qur'an pada Direktorat Jenderal Bimbingan Masyarakat Islam tahun anggaran 2011 dan 2012 serta pengadaan laboratorium komputer Madrasah Tsanawiyah pada Ditjen Pendidikan Islam tahun anggaran 2011. Modusnya penggelembungan harga kitab suci dengan nilai proyek mencapai milyaran rupiah. Untuk ukuran Indonesia, dugaan korupsi kitab suci tergolong lumrah.

Al-Qur'an berbahan kertas, pengadaan hingga pembuatan huruf-hurufnya melewati mekanisme tender jika total anggarannya besar. Siapapun boleh ikut, entah pengusaha muslim dan non muslim. Uang untuk pengadaan Al-Qur'an adalah uang negara. Untuk mengeluarkan dan membelanjakannya harus persetujuan dewan. Terjadilah transaksi, terjadilah pemberian fee, terjadilah mark-up seperti yang disinyalir selama ini.

Begitulah, berita korupsi kini menjadi sarapan kita setiap hari. Korupsi bukan lagi menjadi urusan partai tertentu atau departemen tertentu. Di negeri ini, hampir semua ruang dan celah pun di korupsi. Ini wajar terjadi mengingat korupsi sudah mendarah daging dan terjadi secara sistemik, menyentuh semua lini tanpa terkecuali. Jika diperhatikan secara bijak, diakui atau tidak sebenarnya negeri ini menerapkan sistem yang cukup kondusif untuk melahirkan tindakan korupsi, sekaligus sebagai ruang yang nyaman untuk memelihara para koruptor dari kelas berdasi hingga di kelas kurcaci.

Publik bisa menilai, bahwa ada beberapa faktor yang patut dicatat, antara lain lemahnya keimanan individu, birokrasi yang tidak transparan, regulasi yang memiliki celah untuk korupsi, lemahnya kontrol sosial antarmasyarakat, sehingga atasan korupsi bawahan tak berani menegur dan sebaliknya, yang terakhir lemahnya hukuman bagi koruptor. Ketika fakta menunjukkan bahwa di ruang yang bersifat religius pun ternyata terbuka kesempatan untuk korupsi. Ini menunjukkan tidak ada lagi rasa takut dan malu terhadap Allah SWT.

Memberantas korupsi satu persatu dalam sistem sekuler-kapitalis-demokratis saat ini begitu sulit, karena sudah begitu mengakar. Ibarat memberantas satu, maka tubuh seribu. satu koruptor diberantas, tetapi disaat bersamaan terlahir koruptor-koruptor baru. Sepintas, tak ada pilihan lain, menjalankan penegakkan hukum yang tegas dan keras bagi koruptor. Tentunya disertai dengan menanamkan nilai-nilai ideologi/keimanan pada tiap individu agar tiap nyawa yang bergerak di bumi ini memiliki kesadaran bahwasanya setiap perbuatannya akan ada pertanggungjawaban di hadapan Allah SWT kelak.

Mulai dari pucuk pimpinan nasional, yaitu Presiden, Gubernur, Bupati/Walikota sampai ke pemimpin di desa bahkan di tingkat Rukun Tetangga, sudah seharusnya memiliki kesadaran untuk bersikap dan bertindak sebagai seseorang yang memegang amanah, karena mereka dipilih oleh masyarakat melalui sistem demokrasi. Demikian pula halnya para politisi yang duduk di lembaga legislatif, mereka ini dipilih oleh rakyat sehingga bisa menikmati beragam fasilitas sebagai pejabat negara.

Maka sudah semestinya menjaga kepercayaan itu dengan sungguh, lihatlah kondisi bangsa saat ini, yang sudah nyaris tak bisa bangkit lagi dari keterpurukan karena korupsi, kolusi dan berbagai bentuk penyelewengan terjadi dimana-mana, bahkan sampai menjangkau instrumen agama. Rakyat sudah letih menyaksikan berbagai tindak-tanduk para pemimpin yang selalu saja menjadi keblinger ketika sudah berada kursi kekuasaan. Jangan sampai rakyat menjadi marah dan bergolak, mari bersihkan negeri tercinta kita ini dari virus korupsi!
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger