' Kasus Demam Berdarah di Kota Sukabumi Terus Meningkat - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Loading...
Home » » Kasus Demam Berdarah di Kota Sukabumi Terus Meningkat

Kasus Demam Berdarah di Kota Sukabumi Terus Meningkat

Written By dodi on Tuesday, July 10, 2012 | 10:23 AM

SUKABUMI - Dinas Kesehatan Kota Sukabumi mengungkapkan, sejak Januari sampai bulan Juni 2012, sedikitnya empat orang meninggal dunia dan puluhan warga Kota Sukabumi dirawat serius akibat terjangkit penyakit demam berdarah dengue (DBD). Jumlah kasus penyakit yang ditularkan melalui nyamuk Aedes aegypti ini telah melebihi kasus sepanjang tahun 2011.

Data Dinas Kesehatan (Dinkes) Kota Sukabumi tercatat, jumlah kasus DBD sejak Januari hingga awal Juni 2012 mencapai 615 kasus. Sedangkan sepanjang tahun 2011 lalu penyakit DBD hanya berjumlah 532 kasus. "Pasien DBD yang meninggal dunia terjadi pada April dan Mei lalu. Mereka diantaranya berasal dari Kecamatan Baros dan Kecamatan Cibeureum," ujar Kepala Seksi Pengendalian Penyakit pada Dinkes Kota Sukabumi, Jalaludin, dalam keterangan persnya, Minggu (8/7).

Jalaludin menuturkan warga yang meninggal dunia juga diperparah penyakit penyerta lainnya yang dideritanya. Akibatnya, kondisi kesehatan ke empat penderita DBD ini semakin buruk meskipun telah mendapatkan tindakan medis yang maksimal. Ditambahkannya, permasalahan tingginya kasus DBD di Kota Sukabumi sepanjang tahun 2012 cukup memprihatinkan.

Penyebabnya dikarenakan kurangnya kesadaran warga dalam menjalankan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS).
"Oleh karenanya, kini Dinkes berupaya menggalakan gerakan pemberantasan sarang nyamuk (PSN). Bahkan dalam waktu dekat ini akan digelar gerakan terpadu (Gertak) PSN yang dilakukan pada 18 Juli mendatang," tandasnya.

Sementara itu, khusus untuk penanganan DBD, Kementerian Kesehatan RI telah mencanangkan program peningkatan peran Juru Pengaman Jentik (Jumantik) di seluruh Indonesia. "Sejak tahun 2010, target menurunkan kasus demam berdarah dengue (DBD) tercapai. Dari target 54 kasus per 100 ribu orang, tercatat menjadi sebanyak 8 kasus per 100 ribu orang. Alhamdulilah setiap tahun terus menurun," papar Direktur Pengendalian Penyakit Bersumber Binatang Kantor Kementrian Kesehatan Republik Indonesia, dr Rita Kusriastuti M Sc kepada wartawan belum lama ini.

Menurut Rita, selama ini kasus DBD di Indonesia, bisa dikatakan sebagai penyakit tertinggi penyebab kematian. Yakni sekitar 50 ribu kasus, jika dirata-ratakan, angka kematiannya 1% yakni sekitar 500 orang penduduk yang meninggal dunia karena penyakit tersebut. Namun, sejak 2010 lalu, terjadi penurunan ratio dari 50 ribu kasus angka kematiannya hanya sekitar 100 orang saja atau sekitar 0,9%.

Rita melanjutkan, hal yang paling efektif menekan penyakit yang disebabkan gigitan nyamuk tersebut, yakni dengan gerakan menguras, menutup dan mengubur (3M), barang-barang, yang bisa menampung air. Seperti menutup bak mandi, botol, kaleng dan lain sebagainya. "Ini cara yang paling efektif, murah dan berkelanjutan untuk mencegah berkembang biaknya jentik nyamuk. Kalau dengan fogging atau pengasapan, itu hanya membasmi nyamuk dewasa saja, kalau telurnya bisa terus berkembang," terangnya.

Terlebih, sambung Rita, telur nyamuk yang bisa membawa virus aides agypti, chikungunya dan japanise ensapalius tersebut, bisa bertahan dalam keadaan kering antara 6 hingga 1 tahun. Dan, akan kembali hidup jika tempat tersebut digenangi air. "Walaupun saat ini Indonesia dan beberapa negara lainnya tengah mengembangkan vaksin DBD. Tapi tetap cara penanganan yang tetap adalah dengan pencegahan melalui Jumantik," pungkasnya. HEP
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger