' Derita Rusminah si Pemetik Teh - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Home » » Derita Rusminah si Pemetik Teh

Derita Rusminah si Pemetik Teh

Written By dodi on Monday, July 2, 2012 | 8:00 AM

HIDUP MISKIN, menjadi konsekwensi yang dialami para kuli pemetik teh di perkebunan milik PTPN. Kondisi ini tanpaknya sudah merupakan warisan sejak jaman Kolonial Belanda. Satu gambaran kehidupan anak manusia yang dapat dilihat hingga kini, di dua perusahaan, baik PTPN Tambaksari dan PTPN Ciater.

Di antara mereka yang mengaku menderita, salah satunya ada Rusminah (54). Nenek yang lanjut usia dan sudah 30 tahun bekerja sebagai pemetik teh di perusahaan BUMN tersebut. Perempuan se tua itu belum juga diangkat menjadi karyawan tetap. Se umur umur hanya menjadi karyawan harian lepas.

"Lumayan kalau diangkat jadi karyawan tetap. Ada jaminan untuk keluarga yang sakit bila masuk rumah sakit. Ada juga tunjangan hari tuanya," begitu Emak Rus menuturkan, seraya membayangkan nikmatnya jika mendapatkan jaminan jaminan untuk tenaga kerja tersebut dari perusahaan tempatnya bekerja, sembari menghela napas panjang.

Akankah harapan itu hanya sebatas asa. Atau sedikit cermin sosial perusahaan terbuka untuknya ? Emak setiap banguan dari tidurnya hanya bisa berharap, lalu berharap lagi pada bangun tidur berikutnya.

"Kita baru dapat duit kalau bekerja memetik teh. Jika tidak ada kerjaan, ya nganggur saja," jelasnya yang tinggal di rumah milik perusahaan yang gentengnya mulai banyak yang bocor dengan dinding rumah terbuat dari anyaman bambu yang rapuh.

Tapi itulah kenyataan hidup. Emak hanya bisa mengurut dada. Sebab biaya hidup sehari hari saja dirasakannya sangat susah. Bahkan jika tidak ngutang dulu untuk kebutuhan harian seperti makan, rasanya Emak sudah terlantar dan kelaparan. "Masih bisa makan sudah syukur," pungkasnya di Komplek Perumahan PTPN Tambaksari, Desa Tambakan, Kecamatan Jalancagak, Kabupaten
Subang.

Ungkapan hati Emak Rusminah, tanpaknya merupakan gambaran mayoritas para buruh pemetik teh. Mereka sudah puluhan
tahun bekerja, namun perbaikan tarap hidup tidak kunjung datang. Tapi rupanya bukan hanya para buruh harian
lepas, para pekerja tetap pun ternyata memiliki keluhan yang tidak jauh berbeda.

Menurut beberapa orang pemetik teh di dua perusahaan yang enggan disebutkan identitasnya dengan alasan takut oleh atasannya, mereka mengaku sudah bekerja pulahan tahun. Mereka juga sudah diangkat menjadi karyawan tetap. "Memang lumayan bila keluarga
ada yang sakit ada jaminan dari kantor. Tapi harga menjual Teh, hasil dari persen metik, dijual dengan harga Rp 503 perkilogramnya. Itu pun pucuk teh yang berkualitas baik yang harganya lumayan. Sedangkan pucuk yang berkualitas kurang baik harganya murah," sebut mereka mengeluh.

Belum lagi ulah Mandor dan Juru Timbang, yang menurut para pemitik mengambil keuntungan secara illegal. “Sudah menjadi kebiasaan mandor dan juru timbang mencari keuntungan buat penghasilan tambahan. Dengan cara mengurangi timbangan. Misalkan timbangan bulat, titik normalnya di bawah titik nol mundur 2 kilogram. Sedangkan bila pakai timbangan panjang, timbangannya ditekan pakai tangan ke bawah. Sudah timbangan dikurangi, ada juga potongan timbangan basah," keluh mereka yang mengaku selalu pasrah dengan kondisi yang terjadi.

Penderitaan bahkan telah menjadi perhatian khusus Sekjen LSM Gerakan Aktivis dan Aliansi Sarjana Subang (GANNASS), Mulyana SH. Dikuatkan Dase, salah satu mantan karyawan yang pernah bekerja di salah satu perusahaan kebun teh itu.

Terpisah, Asep Oman, selaku Kasubag Umum mewakili ADM PTPN Tambaksari mengatakan, bahwa perumahan yang digunakan para pemetik diperuntukkan bagi para karyawan yang belum memilki rumah sendiri. Tapi sebahagian besar para pegawai sudah memiliki rumah sendiri. Namun bagi para pegawai yang belum memiliki rumah, dapat mengisi rumah yang telah disediakan oleh perusahaan sebetahnya.

Terkait untuk perbaikan perumahan, menurut Asep, itu merupakan program direksi yang dananya diambil dari asuransi beberapa persen dari asuransi mereka. Dikatakannya lagi, pihak PTPN Tambaksari menyediakan rumah sebanyak 200 rumah yang tersebar di Palasari, Kasomalang, Tambakan dan Cupunagara. Di mana jumlah karyawan sebanyak 586 orang. Terdiri dari golongan 1a sampai 2d. Sementara untuk golongan 3a sampai 4d sebanyak 11 orang.

“Sementara jumlah buruh tidak tetap yang disebut harian lepas tidak bisa dihitung secara pasti. Sebab mereka itu kadang masuk kerja, kadang juga tidak masuk kerja. Sehingga kami tidak memiliki jumlah pastinya," ucap Asep.

Mengenai adanya keluhan dari beberapa orang karyawan tetap, soal adanya pengurangan timbangan dan adanya buku laporan ganda ke pihak perusahaan, menurut Asep hal itu memang pernah terjadi dan dilakukan oleh oknum karyawan. Namun bagi karyawan yang diketahui melakukan tindakan tersebut, langsung diberi sangsi. Seperti dimutasi jabatannya.

"Jangan hanya PTPN Tambak Sari aja yang diberitakan. Namun yang paling parah dilakukan oleh banyak oknum di PTPN Ciater. Coba cek ke lapangan," ujarnya coba melempar tudingan. ADE

Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger