' Aroma Mistis Penari Sintren - Lingkar Jabar On-line
Headlines News :
Home » » Aroma Mistis Penari Sintren

Aroma Mistis Penari Sintren

Written By dodi on Tuesday, July 10, 2012 | 10:48 AM

ALUNAN musik dari alat tembikar atau gembyung dan kipas dari bambu. Tapi sekarang telah dipadu dengan organ tunggal bahkan seperangkatan alat musik layaknya band. Menjadikan pemanggungan Sintren Indramayu semakin digemari ketika manggung. Meskipun tetap ada yang mepertahankan cara tradisional.

Tapi dalam setiap hajatan, Sintren Dangdut dengan penyanyi seksi telah menjadi tontonan yang lumrah. Walau beberapa tokoh, seperti tokoh Tarling asal Cirebon Subagyo, punya kritikan tersendiri terhadap pencampur adukan seni tradisonal dengan penampilan penyanyi yang mengandalkan keseksian dan lekukan tubuh semata. 

Konon khabarnya Kesenian Sintren memiliki keunikan, keanehan dan keindahan. Hal tersebut terlihat dari penggunaan alat alat musiknya yang terbuat dari tembikar atau gembyung dan kipas dari bambu yang ketika ditabuh dengan cara tertentu menimbulkan suara yang khas. Dalam beberapa pendapat, istilah Sintren berasal dari dua kata, "Sinyo" dan "trennen".

Sinyo yang berarti pemuda dan trennen artinya latihan. Jadi pemuda pemuda Indramayu yang sedang berlatih kesenian. Cara memainkan sintren ini mirip dengan pertunjukan sulap. Yaitu seorang penari perempuan yang awalnya menggunakan pakaian sehari hari. Lalu dimasukkan ke dalam kurungan sebesar kurungan ayam, berikut dimasukkan juga busana tari. Beberapa saat ditunggu didalam kurungan yang berbalut kain biru, merah atau kuning, si penari pun keluar telah berubah. Ia berpakaian tari khusus. Ketika proses pergantian pakaian "dupa" terus mengepul pertanda adanya dorongan magis dalam pertunjukannya. Setelah itu, dilakukan tari tarian yang berbau magis hingga pertunjukan selesai.

Kesenian ini sudah sangat jarang dan tidak setiap saat dijumpai pertunjukannya, karenanya kesenian ini dijadikan seni tradisional yang memilki ciri khas dan berkembang di wilayah Indramayu dan juga di Kabupaten Cirebon.

Selain di Indramayu, kesenian ini terkenal di pesisir utara Jawa Tengah dan Jawa Barat, antara lain Pemalang, Pekalongan, Brebes, Banyumas, Kuningan, dan Cirebon. Sintren disebut juga dengan lais. Di Indramayu sendiri, kesenian Sintren dipentaskan pada acara acara tertentu. Misalkan hajatan atau syukuran, atau pentas seni tradisional. Dahulu ada pentas seni Sintren yang berkeliling kampung. Namun sekarang sudah sangat sulit untuk ditemukan. Sebab semakin tergeser oleh pentas dan hiburan modern.

Di Pemalang, Sintren dikenal sebagai tarian dengan aroma mistis dan magis yang bersumber dari cerita cinta kasih Sulasih dengan Sulandono sebagai putra Ki Baurekso, hasil perkawinannya dengan Dewi Rantamsari. Raden Sulandono memadu kasih dengan Sulasih seorang putri dari Desa Kalisalak, namun hubungan asmara tersebut tidak mendapat restu dari Ki Baurekso. Akhirnya Raden Sulandono pergi bertapa dan Sulasih memilih menjadi penari. Meskipun demikian pertemuan di antara keduanya masih terus berlangsung melalui alam gaib.

Pertemuan tersebut diatur oleh Dewi Rantamsari yang memasukkan roh bidadari ke tubuh Sulasih. Pada saat itu pula R Sulandono yang sedang bertapa dipanggil oleh roh ibunya untuk menemui Sulasih dan terjadilah pertemuan di antara Sulasih dan R Sulandono. Sejak saat itulah setiap diadakan pertunjukan sintren sang penari pasti dimasuki roh bidadari oleh pawangnya. Dengan catatan bahwa hal tersebut dilakukan apabila sang penari masih dalam keadaan suci (perawan).

Sintren diperankan seorang gadis yang masih suci, dibantu oleh pawang dengan diiringi gending 6 orang. Dalam perkembangannya tari sintren sebagai hiburan budaya, kemudian dilengkapi dengan penari pendamping dan bodor (lawak).

Dalam permainan kesenian rakyat pun Dewi Lanjar berpengaruh antara lain dalam permainan Sintren, si pawang (dalang) sering mengundang Roh Dewi Lanjar untuk masuk ke dalam permainan Sintren. Bila, roh Dewi Lanjar berhasil diundang, maka penari Sintren akan terlihat lebih cantik dan membawakan tarian lebih lincah dan memesona.WEB/RED
Share this article :

0 komentar:

Post a Comment

 
Profil | Contact Us | Sitemap
Copyright © 2012. Lingkar Jabar On-line - All Rights Reserved
Web Development by Maiga Blog Service
Proudly powered by Blogger